Dark Memory

Dark Memory
Keributan Ica



"Ica, apa maksudmu?" tanya Lia yang telah mendekati mereka.


Ica menunjuk Clara yang sedang menundukkan kepalanya sembari terisak.


"Dia! Dia yang udah buat Mesya jadi seperti ini! dia yang hancurin mental Mesya! dia yang rebut kebahagiaan Mesya dia yang hancurin segalanya! KENAPA BUKAN LU AJA YANG CELAKA HAH?! KENAPA HARUS MESYA?!" sentak Ica.


Viola dan Lia menatap Clara, mereka tak mengerti apa yang terjadi. Namun, sekarang bukan waktu yang teap untuk marah.


"Tenang ca, ini rumah sakit. Dilarang buat keributan disini, udah yah ... tenangin diri lu," ujar Lia.


Ica mengatur nafas, dia segera menduduki dirinya. Sedangkan Noah menatap Clara dengan sedih.


"Tenanglah Clara, ini bukan salahmu. Lebih baik kamu pulang ke akademi yah, istirahat. Pasti perjalanan dari jakarta kesini melelahkan dan kau belum istirahat," terang Noah.


Selama beberapa minggu memang Clara berada di jakarta untuk mengurus salah satu pasien disana. Hari ini dia datang berkunjung untuk menjenguk sang bunda.


"Tapi yah, aku khawatir dengan keadaan Mesya,"


"Eh jangan drama deh lu, mending lu pulang dari pada jadi beban disini tau gak!" sentak Ica.


Noah menatap memohon Clara, dia takut Clara tambah membuat suasana semakin runyam.


"Baiklah, aku pulang yah," ujar Clara dan pergi dari sana.


Tak lama dokter keluar dengan pakaian medisnya, Noah segera mendekati dokter itu dengan raut wajah panik.


"Dok bagaimana kondisi putri saya? apa dia tidak papa?"


Dokter membuka maskernya, dia menghela nafasnya kasar dan menatap Noah dengan tatapan sedih.


"Maaf pak, kondisi pasien kritis. Jika pasien masih kritis hingga malam nanti, maka pasien kami nyatakan koma," terang sang dokter.


Tubuh Noah melemas, Viola dan Lia segera menahannya. Jendral besar yang di takuti oleh para anggota tampak tak berdaya ketika mendengar jika sang putri dalam keadaan kritis.


"Mesya ... Mesya ... putriku hiks ...,"


"Dok, tolong berikan perawatan terbaik disini. Sembuhkan sahabatku, ku mohon. Jika tidak aku akan memanggil papahku Geovanno Gevonac, kau pasti tau siapa.dia kan? untuk itu selamatkan sahabatku," ujar Ica.


Dokter tersebut terdiam, nama Gevonac sudah sangat terkenal dimana pun. Gevonac pemimpin mafia yang merupakan kaki tangan perintahan.


"Baik, kami akan melakukan perawatan terhadap pasien sebaik mungkin. Kalau begitu saya permisi," ujar sang dokter dan pergi dari hadapan mereka.


Viola dan Lia masih menenangkan Noah, sedangkan Ica masih memikirkan sesuatu.


"Jika sampai besok keadaan Mesya belum membaik, aku akan membawanya ke jakarta. Aku akan meminta papahku untuk mengirimkan kita helikopter," ujar Ica.


Lia yang mendengarkan seketika teringat, dia memiliki opa yang merupakan adik omanya yang memang bekerja sebagai dokter.


"Jangan, aku akan memghubungi paman daddyku. Dia akan menangani Mesya disini saat ini juga," ujar Lia dan mengambil ponselnya.


"Kau tenang saja, dia dokter yang sangat handal. Kau tak perlu khawatir jendral besar," ujar Lia pada Noah.


Lia menemlpon paman dari sang daddy, dia akan mencoba keminta tolong oadanya sebab paman dari sang daddy termasuk dokter terkenal di jakarta.


"Halo ...,"


"Opa, Lia meminta bantuan ...,"


BRUGH!


AKHH!


"LIA!"


***


"Terapi amnesia lu sudah 70% persen berjalan, tapi tetap aja ... lu hanya ingat 20% dan sisanya hanya abu-abu," ujar Haikal pada ERa yang sedang sibuk bermain ponselnya.


Haikal yang menyadari jika Ezra tak menyahut ucapannya segera menatap Ezra, dirinya sungguh kesal dengan temannya itu.


BUGH!


"Apaan sih lu!" kesal Ezra karena Haikal melemparinya pulpen yang mana membuat keningnya memerah.


"Gue tanya, tadi gue ngomong apa sama lu coba?!" tanya Haikal dengan raut wajah kesal.


"Amnesia," singkat Ezra.


"Terus?"


"Terus nabrak,"


Jawaban Ezra membuat Haikal mencak-mencak kesal, bahkan dia sampai geram dengan Ezra yang tengah menatapnya datar.


"Dari pada lu begitu, mending pesenin gue tiket. Satu jam lagi gue balik ke asrama," ujar Ezra.


Haikal menghentikan acara gilanya, dia mematap Ezra dengan wajah cengonya.


"Gue tahu," jawab Ezra.


"Nah Lu tau, kenapa jadi kayak orang beloon sih! heran gue!" kesal Haikal.


Ezra bangkit dari duduknya, dia menembelkan benda pipih itu pada daun telungnya dengan tangan kiri yang berkacak pinggang.


"Kemana sih!" kesal Ezra dan kembali melihat ponselnya.


"Lu coba telpon siapa?" heran Haikal.


"Bini gue, tadi terakhir gue denger dia di rumah sakit. si Mesya kecelakaan, gue khawatir dia juga kenapa-napa," terang Ezra.


Haikal berdecak sebal, dia mendekati Ezra yang sedang serius dengan ponselnya.


"Yang kecelakaan siapa?" tajya Haikal dengan tangan bersedekap di depan dada.


"Mesya," jawab Ezra dengan heran mengapa Haikal mempertanyakan hal itu.


"Nama bini lu siapa?" tanya kembali Haikal.


"Zanna Liana," bingung Ezra.


"Terus ... kenapa lu khawatir sama bini lu ontaaaa!" geram Haikal.


Ezra tampak terdiam, dia menatap datar Haikal yang sangat kesal dengannya.


"Lia pasti nunggu di depan ruang rawat, kalau dia masuk amgin gimana? kalau dia lapar gimana? kalau dia capek gimana? kalau dia ...,"


"STOP!" ujar Haikal menghentikan drama Ezra.


"Gue capek Zra, kenapa sifat lu jadi absurd begini sih! perasaan lu gak pernah sekhawatir ini sama cewe," kesal Haikal.


Ezra terdiam, tak lama senyuman terbit di wajahnya. Dan itu membuat Haikal bergidik ngeri.


"ya karena tu cewe bini gue! belahan hati gue! paham lu!"


"Udah sekarang mending lu pesenin gue tiket buruan! gue mau ketemu sama bini gue!" ujar Ezra dan berlalu dari sana.


Sedangkan Haikal mendengus kesal, dia tak menyangka memiliki teman yang dingin dan datar. Jika sudah berurusan dengan istrinya, maka sifat dingin itu seketika hilang.


"Ezra ... Ezra, benerkan ... lu bakal bucin sama satu cewe," gumam Haikal.


Sementara Ezra tengah mengemasi barangnya, bahkan semua foto Lia yabg dia bawa dari mansion kama itu dia masukkan ke dalam kopernya termasuk juga foto sang mamah.


Derrt!


Dertt


Ponsel Ezra berdering, dia melihat kontak siapa yang menghubunginya.


"Daddy? ngapain daddy nelpon?" gumam Ezra.


Ezra mau tak mau mengangkatnya, dia mengerutkan keningnya ketika mendengar suara panik dari sana.


"Halo,"


"Halo Ezra! cepet kamu ke rumah sakit, Lia ada di sana," ucap Alden dengan panik.


Ezra bingung, mengapa Alden ikut panik? dan dari mana mertuanya itu tahu.


"Maaf dad, bukan Lia yang sakit tapi Mesya teman Lia. Lia hanya menunggunya saja," ujar Ezra.


"LIA DI RAWAT JUGA!" cepat kamu kesana, tadi dia menelpon paman daddy, dan terdengar teriakan Lia setelah itu kami tak mendengar kabar lagi hingga Viola menghubungi Jika terjadi sesuatu pada Lia," panik Alden.


Ezra terdiam, sedetik kemudian dia mematikan ponselnya dan cepat mengemasi barangnya.


"Ezra ... gue udah pesenin lu tiket buat malam ini,"


"Pesenin gue yang sekarang!" titah Ezra.


"Lu kenapa?"


"Terjadi sesuatu sama istri gue! cepet pesenin tiketnya!" kesal Ezra.


Haikal mengangguk, dia segera mencari tiket pesawat untuk Ezra.


"Eh tunggu dulu ... gue kan punya jet, ngapain pesen tiket?" gumam Haikal.



Haikal nih


Untuk Ezra, aku masih nyari nih. Menurut kalian siapa yang cocok buat visual Ezra?


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.