Dark Memory

Dark Memory
Pregnant



"Saya mohon, jangan kasih tau Leon tentang ini. Kami bertiga berusaha menyembunyikan hal ini agar Leon tak sakit hati, kau juga pasti akan terkejut menerima fakta yang sebenarnya. Permasalahan kita bertiga tak semudah yang kamu bayangkan Lia," pinta Ane dengan nada memohon.


"Bertiga?" batin Lia.


Lia terdiam, apakah dirinya harus merahasiakan ini semua?


"Saya mohon,"


Lia tak tega melihat Ane yang sudah menangis sambil memohon-mohon kepadanya. Bahkan wanita itu tengah mengatupkan tangan padanya.


"PLEASE! NYONYA GEVONAC, SAYA INGIN MENEMUI ISTRI SAYA!" teriak Ezra.


Lia memejamkan matanya. "OK! aku bakal rahasiain ini dari kak Leon," pasrah Lia.


Ane tersenyum, dia memeluk Lia dengan erat.


"Terima kasih, terima kasih," tulus Ane.


Lia mengangguk, setelah itu Ane melepas pelukannya dan berlari ke arah pintu. Dia mengekuarkan syal dari tasnya untuk menutup wajahnya.


Ane membuka pintu, dia menyembunyikan wajahnya dari Ezra. Beruntung Ezra tak menghiraukannya dan malah terfokus mendekat ke arah ranjang Lia.


"SAYANG!" seru Ezra dan berlari mendekati Lia.


"Kamu gak papa? ada yang sakit? mau di cek keseluruhan?" panik Ezra.


Lia tersenyum, dia mengelus bahu kekar Ezra. Bahkan baju yang di pakai suaminya itu sudah berantakan.


"Aku gak papa," lirih Lia.


"Kok bisa masuk rumah sakit? kata Viola kamu pingsan?" tanya Ezra.


Lia mengangguk, dia mengambil lengan kekar Ezra dan mengelusnya.


"Nanti akan ada seseorang yang mengambil separuh perhatianku dari kamu, yang akan mengambil seluruh cintaku untuk dia," ujar Lia sambil menatap mata Ezra.


Ezra terdiam. "A-apa ma-maksudnya?" tanya Ezra dengan suara bergetar.


"Kamu selingkuh?" sesak Ezra.


Lia menggeleng, dia mengambil tangan Ezra dan menemmpatkannya di perut datarnya..


"Soon you will be a father," irih Lia.


(sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah)


Entah mengapa Air mata Ezra keluar begitu saja, dia menatap istrinya dengan wajah terkejutnya.


"Are you serious? ka-kamu bener,"


Ezra tak sanggup berkata-kata lagi, dia sangat senang hingga hanya bisa memeluk istrinya sambil terisak.


"Widiiihhh, seneng dong yah mau jadi bonyok," seru Viola penghancur suasana.


Ezra melepas pelukannya, dia mematap Viola dengan tatapan tajamnya.


"Lu ngapain bawa istri gue tadi, untung aja dia gak kenapa-napa!" kesal Ezra.


"Tadi juga bini lu gak kenapa-napa, tapi pas dia ngomong sama nyokapnya si Ica langsung pingsan. Tanya tuh anak lah!" kesal Viola.


Ezra menatap Lia. "Bener?" tabya Ezra.


"Tadi aku ngerasa pusing, terus gak tau tiba-tiba jatuh aja," alasan Lia.


"Lain kali kalau keman-mana harus sama aku, gak boleh yang lain!" pinta Ezra.


Lia mengangguk, sementara Viola memikirkan sesuatu.


"Eh Li, masa tadi nyokapnya si Ica bilang lu menantunya masa?" ucap Viola.


Lia menunjukkan raut wajah terkejut yang mana membuat Ezra bingung.


"Ya ... ya ... kan gak ada kak Ezra, nanti nunggunya lama. Kan kalau dia bilang ibu mertua gue pasti langsung di kasih tau gue kenapa kan?" ngeles Lia.


Viola mengangguk setuju, sedangkan Ezra merasa ada yang janggal dari tingkah istrinya.


"Kamu kenapa gugup begitu?" curiga Ezra.


Pasalnya Ezra hafal dengan gerak gerik orang, dia sudah mendalami karakter orang atau musuhnya selama beberapa tahun.


"A-aku masih ngerasa lemas, iya ngerasa lemas aja," panik Lia.


"Yaudah pulang aja yuk, aku mau istirahat di rumah," ujat Lia mencari topik lain.


"Kamu udah gak papa? ke dokter kandungan dulu aja yuk," ajak Ezra.


"Aku udah gak papa, sekarang aku mau pulang," pinta Lia dengan wajah memelasnya.


Ezra mengangguk pasrah, lagi pula istrinya tidak di infus. Dia menoleh menatap Viola yang tengah menatap mereka.


"Kamu jalan duluan," pinta Ezra.


Viola mengangguk, dia membuka pintu karena tau jika abangnya akan menggendong kakak iparnya itu.


"Kamu mau ngapain?" bingung Lia saat Ezra menyelipkan tangannya pada leher dan kaki lia.


"Mau gendong kamu," ujar Ezra.


"Gak usah! aku bisa jalan kok!" tolak Lia.


Ezra menghela nafasnya kasar. "Nanti ada jalan yang gak rata, terus ada batu, atau di senggol orang bahaya. aku gak mau anak aku keluar cepet," ucap Ezra


Lia melongo mendengarnya, memangnya suaminya kira anak mereka apa?


Akhirnya Lia pasrah saat Ezra menggendongnya, dia hanya menyembunyikan wajahnya pada leher Ezra karena malu akan tatapan dan omongan orang-orang.


"Ih romantis banget yah,"


"Iya romantis banget, pengen deh punya suami begitu,"


Begitulah obrolan yang Lia dan Ezra dengar, tapi hanya lia saja yang malu.


***


"Habis dari mana kalian?" tanya Frans pada adik dan mamahnya.


Ane dan Ica menoleh menatap Frans yang duduk di sofa ruang tengah.


"Temen aku tadi pingsan, terus kita bawa ke rumah sakit," terang Ica.


"Ouh begitu, terus mamah kenapa ikut?" tanya Frans.


"Mamah cuma khawatir aja," jawab Ane dan beranjak dari sana.


Ica menatap heran pada Ane, dia mendekat ke abangnya yang sudah fokus kembali dengan laptopnya.


"Abang tau gak, mamah tuh aneh banget. Masa tadi dia bilang sama dokternya katanya mertua temen aku, terus di tambah lagi mamah tiba-tiba ngunci ruang rawat temen aku. ameh banget kan," adu Ica.


Frans menghentikan ketikannya, dia menatap adiknya dengan serius.


"Siapa nama temen kamu?"


"Lia .. aslinya Zanna Liana putri Wesley, cuman sekarang udah ganti jadiii ...,"


"WESLEY?" kaget Frans.


Ica mengerutkan keningnya, dia mengangguk dan menatap heran sang abang.


"Berarti dia adik dari Elbert?" gumam Frans.


"Abang ngomong apa sih?" heran Ica.


"Gak, kamu masuk kamar sana," ujar Frans bermaksud mengusir Ica.


Ica mencebikkan bibirnya kesal, dia pergi dari sana dengan menghentakkan kakinya.


Frans yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Jadi adek gue temenan sama adik dari Elbert yang juga berarti adik dari Aqila? waw ternyata sesempit ini yah dunia, apa mereka sudah tau keadaan Aqila sekarang?" gumam Frans.


Frans mengambil ponselnya yang terletak di sebelah laptopnya, dia ingin mengubungi seseorang.


"Halo, gimana? apa yang dia lakukan saat ini?" tanya Frans.


"Itu tuan, sedari tadi nona melamun terus. Bahkan makan pun sedikit, saya tanyain juga gak mau jawab,"


"Kamu paksa dia makan," pinta Frans.


"Dia gak mau tuan,"


Frans mengepalkan tangannya, dia mematikan ponselnya dan melemparnya.


"Jika kamu terus begini, maka terpaksa aku harus menculikmu!" geram Frans.


Frans bukanlah seorang pria berhati lembut, dia bukanlah pria yang banyak sabar.


"Mau kemana kamu Frans?" tanya Geo yang melihat putranya akan segera pergi.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.