Dark Memory

Dark Memory
Perkara main



"Kak, kamu kenapa? kok dari tadi murung terus?" tanya Li sambil menghampiri suaminya yang sedang terdiam di bangku taman belakang mansion.


Ezra tersentak kaget, dia menoleh menatap istrinya yang telah duduk di sebelahnya.


"Gak, aku gak papa," ujar Ezra.


"Baiklah, oh iya ... kan hari ini kita semua akan ke mansion Wesley, ayo bersiap," ajak Lia.


Ezra tampak terdiam, sebenarnya dirinya berniat akan ke mansion lama papahnya. Namun, dia takut Lia akan curiga dengan apa yang dia cari, dirinya tak mau membebani sang istri dengan masalahnya.


"Aku kayaknya gak bisa deh, soalnya sore nanti aku ada urusan perusahaanku," ujar Ezra.


"Ooohh begitu, yaudah kakak berangkat aja," ujar Lia.


"Aku mau nanya, rumah kakak yang di Malang gimana?" bingung Lia pasalnya mereka kini memituskan untuk tinggal di jakarta.


"Niatnya mau aku jual, kita bangun baru disini mau?" tajya Ezra.


Lia mengangguk antusias, setelah itu dia melihat ponselnya.


"Sudah hampir siang, aku akan membantu bunda masak," ujar Lia.


Saat akan bangkit dari duduknya, Ezra menahan lengannya dan menyuruhnya duduk kembali.


"Kenapa kak?" bingung Lia.


"Banyak para maid yang masak, jadi kamu gak usah ikutan masak," ujar Ezra.


"Tapi aku gak enak sama bunda kak," ujar Lia.


"Bunda itu cuma bantu aja biar gak bosen, udah kamu disini aja. Turutin suami," Tegas Ezra.


Lia merengut kesal, dia hanya takut jika di juluki menantu tak berguna.


Tiba-tiba saja Ezra mengalungkan sesuatu pada lehernya yang mana membuat Lia terkejut.


"Kak Ezra?" bingung Lia.


"Sebentar,"


Ezra fokus memasangkan kalung itu, untung saja hari ini Lia menguncir kuda rambutnya.


"Sudah," ucap Ezra.


Lia menyentuh sebuah kalung di lehernya, dia tersenyum haru menatap Ezra.


"Pas kita nikah aku cuma kasih kamu mahar yah ... yang bisa di bilang tak mencerminkan seorang keturunan Elvish, mas kawin seharga es doger. Tapi kali ini aku membelikanmu kalung dengan liontin berlian hijau, itu hanya ada satu-satunya karena di bikin khusus oleh desainer terkenal," terang Ezra.


"HA ... pasti mahal banget kan? gak deh kak, nanti kakak bangkrut kasian ah!" ujar Lia sambil berusaha melepas kalungnya.


"Ck! kamu hina aku? mas kawin waktu itu kebetulan aja aku gak punya uang cash Lia!" geram Ezra.


Lia terkekeh, dia mencubit pelan pipi Ezra yang menurutnya sangat menggemaskan..


"Makasih sayang, jadi makin sayang deh. Tambah sayang lagi kalau mas nya kasih tambahan uang jajan buat istri kecilnya ini," canda Lia.


Ezra memicingkan matanya, perempuan selalu memanfaatkan situasi yang ada.


"Jangan galak gitu dong mukanya, kamu tau gak kata ... aku cinta kamu bakal kalah sama apa?" tanya Lia.


"Apa?" tanya Ezra dengan datar


"Kata ... aku cinta kamu itu bakal kalah sama kata ... Sayaaang! butuh berapa? aku tranfer yah," kekeh Lia.


Ezra semakin menatap datar Lia, sementara Lia sudah tertawa karena wajah Ezra.


"Jangan pelit jadi suami, istri cantik tuh butuh modal. Jangan ngomongnya doang!" ujar Lia dan pergi dari sana


Sementara Ezra menghela nafas kasar, dia mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu.


"Perasaan skincare dia, make up dia, fashion dia, semuanya gua yang beliin dari kemarin plus duit jajan lagi. Masa masih di katain pelit, emang 50 jt kurang buat sebulan?" gumam Ezra.


***


"Gesel kecana Kino!" sentak Ravin.


"Iiih bukan ke cana, tapi kecana! main gitu aja nda bica!" kesal Ravin.


Sedangakn Kini, dia sedang bingung. sebnarnya apa yang ingin Ravin mainkan.


"Begini?" tanya Kino.


"Iya! gitu! dali tadi kek," ujar Ravin.


Ravin menoleh menatap Cia, dia menarik lengan Cia dan emndekat ke arah Kino.


"Napain?" bingung kino.


Ravin menyerahkan ipadnya pada Kino, setelah itu dia mengajak Cia menjauh.


Kino mengangguk, tapi sedetik kemudian dia tersadar jika Ravin telah mengerjainya.


"KOK DITU CIH! INI BUTAN MAIN, TAPI PEMELASAN!" teriak Kino.


"Ini namana main, Lavin tama Cia jadi model. Kino jadi fotoglafel na," ujar Ravin.


Kino kesal, dia membanting Ipad tersebut yang mana membuat Ravin memekik histeris.


"KINO!" marah Ravin.


Ravin mendekati Ipadnya, dia memandang sendu Ipadnya yang telah rusak karena layarnya yang retak.


"Lucak? hiks ... ABAAAAANGGG!" teriak Ravin..


Lio yang sedang meminum kopinya tersedak, dia segera berlari menghampiri adiknya yang berada di taman belakang.


"UHUK! APAAN SIH!" kesal Lio.


"HIKS ... CEMUANA CALAH ABANG! IPAD LAVIN LUCAK!" teriak Ravin.


Lio tampak mengerutkan keningnya, dia mendekati adiknya dan ternyata benar saja. Ipad itu telah rusak.


"Kok salah abang? yang rusakin siapa?" heran Lio.


"Yang lucakin itu! anak punut! hiks ... abang juga calah bawa dia kecini!" isak Ravin sambil menunjuk Kino.


"Aku bukan anak punut yah! kamu tuh anak tili!" ucap Kino tak terima.


"KAMU!"


"KAMU!"


lio memegang kepalanya, dia frustasi dengan kedua bocah tersebut. Netranya membulat sempurna ketika Ravin dan Kino saling pukuk.


"Eh ... eh jangan lepasin Vin! lepas! anak irang ini!" panik Lio.


Sedangkan Cia, dia sudah masuk untuk memanggil Amora, dirinya mencari Amora kesana dan kesini.


"MOMMY! MOMMY!" teriak Cia.


"Apa sayang? Cia mau apa nak?" tanya Amora yang baru saja keluar dari dapur.


Cia mendekati Amora, dia menarik tangan Amora menuju taman belakang.


"Kenapa sih sa ... ASTAGA! RAVIN KINO!" panik Amora saat melihat kedua anak itu tengah baku hantam.


Amora segera mendekati mereka, dia menarik Ravin hingga anak itu menangis.


"Hiks ... lepac mommy hiks ... bial Lavin hajal! dia bilang Lavin anak tili hiks," isak Ravin.


"Lio, bawa adikmu," titah Amora.


Lio membawa Ravin, sementara Amora mendekati Kino yang masih menatap kepergian Ravin dengan tajam.


"Kino kenapa nak? kok bilang Ravin anak tiri hm?" tanya Amora dengan lembut.


"Dia duga bilang kalo Kino anak punut!" ujar Kino tak terima.


"Yasudah, ayo masuk. Hari semakin panas, nanti Kino pusing," pasrah AMora.


Kino mengangguk, dia masuk lebih dulu. Sementara Amora tak sengaja melihat Ipad Ravin yang rusak.


"Pantas saja Ravin marah, Ipad ini kan dari Elbert. Barang apapun dari Elbert pasti dia akan sangat menjaganya," ujar Amora.


Sedangkan Ravin tengah menangis di kamar Lio, dia masih menyayangkan Ipadnya yang rusak.


"Udah yah, nanti beli baru," bujuk Lio.


"Ipad Lavin Lusak hiks ... patah hati Lavin hiks ..," isaknya.


Lio membulatkan matanya, adiknya bisa juga mellow seperti ini.


"Dia nda tau apa itu belina di singapul! mahal tau!" gerutu Ravin.


"Iya-iya, kan bisa minta di belikan bang Elbert lagi. Udah yah, nanti sesek loh," bujuk Lio.


"Kalo Lavin diem, Ipadna nda bakal bagus ladi hiks ... gimana cih!" kesal Ravin.


Lio memutar bola matanya malas, adiknya terlalu polos atau gimana?


"Kamu nangis pun tak mungkin Ipad itu bagus lagi Vin!" jengah Lio.


"ABANG TU NDA DENGEL APA LAVIN BILANGNA APA? KALO DIEM DIGA NDA BAKA BALIK LADI! HUAAAA NDA ADA OTAKNA!"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.