Dark Memory

Dark Memory
Aku disini



Hari sudah malam, Zidan dan istrinya beserta Viola pun memutuskan untuk menginap.


"Ay, kamu tidur aja dulu. Aku ada pekerjaan," ujar Ezra saat melihat Lia yang duduk di tepi ranjang sambil menatapnya.


"Pekerjaan apa?" heran Lia.


"Udah kamu tidur aja, aku juga cuma disini kok ngecek data perusahaan," terang Ezra.


Lia beranjak berdiri, dia mendekati Ezra yang tengah sibuk menatap layar laptopnya. Sementara Lia yang sudah sampai di hadapan Ezra mengambil tangan pria itu dan duduk di pangkuan pria itu dengan posisi hadap-hadapan.


"Ayang, kamu ngapain sih?" bingung Ezra.


"Ngantuk," gumam Lia.


"Yaudah tidur di kasur, jangan disini. Aku kerjanya gimana?" heran Ezra.


Lia tak menjawab, dia merebahkan kepalanya pada pundak Ezra dan bahkan kini dengkuran halus terdengar yang mana membuat Ezra menghela nafasnya.


"Capek banget yah, ampe langsung tidur?" gumam Ezra sambil mengelus punggung Lia yang tertidur di dekapannya.


Terpaksa Ezra bekerja dengan Lia yang berada di pangkuannya, untungnya tubuh wanita itu kecil sehingga dia tak terlalu terhalangi.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!"


Cklek!


"Kenapa pah?" tanya Ezra melihat sekilas dan kembali menatap layar laptop.


"Zanna nya kasihan tiduran begitu Ezra," ujar Zidan dan masuk mendekati Ezra.


"Dianya yang mau," singkat Ezra.


Zidan menghela nafasnya pelan, dia duduk di sebrang sofa Ezra dan menatap putranya itu.


"Tadi nenekmu kirim pesan ke papah, katanya kakekmu masuk rumah sakit dan koma," ucap Zidan.


Ezra menghentikan ketikannya, dia kembali teringat akan siang tadi. Kakeknya menelpon tetapi dia tidak menjawabnya.


"Tadi siang kakek sempat menelponku, hanya saja aku malas mengangkatnya dan mematikan ponselku." terang Ezra sambil menatap Zidan.


"Tantemu ... Eveline sudah tau jika kita masih hidup, dia menyuruh kita untuk kembali Mansion Elvish. Masalahnya adalah, kau harus bisa membujuk Zanna untuk tinggal di mansion Elvis," ujar Zidan.


"Tapi ... bagaimana pak tua itu ...,"


"Dia sedang koma, kau tak perlu khawatir. Kau harus mengundurkan diri dari militer, dan fokus pada perusahaan," pinta Zidan.


Ezra tampak menimbang ucapan Zidan, dia bukannya tak ingin Lia tinggal di mansion Elvish. Hanya saja dirinya takut Lia tak mau tinggal di mansion itu.


"Kau tak usah takut, Viola dan juga bundamu akan tinggal di mansion Elvish. Jika Zanna ingin ke mansion Wesley, tak masalah kau bisa mengantarkannya," bujuk Zidan.


"Hm ... biarkan aku berbicara dengan Zanna dulu besok, aku takut dirinya tidak mau. Bagaimana pun, keputusan Zanna adalah keputusan ku juga." ujar Ezra sambil mengelus rambut panjang istrinya.


Zidan mengangguk, dia beranjak dari duduknya dan pamit keluar.


Sementara Ezra yang sudah merasa lelah akhirnya mengangkat Lia dengan di gendong koala. Kakinya melangkah mendekati ranjang untuk membaringkan tubuh istri kecilnya.


"Eungh ...,"


"Shtt ...,"


Ezra bernafas lega ketika melihat istrinya yang kembali tertidur, dia segera membuka kaosnya dan juga celana panjangnya menyisakan celana pendeknya dan berbaring di samping sang istri.


Ezra mengangkat sedikit kepala Lia dan memasukkan tangannya, sehingga kini istri kecilnya tidur berbantalan lengan kekarnya.


"*** ... aku disini," ucap Ezra saat melihat istrinya membuka matanya dan kembali menutupnya.


Ezra menatap wajah damai Lia, dia terkekeh ketika merasakan Lia yang memeluk dirinya erat.


Tiba-tiba tatapan Ezra jatuh pada bibir cerry Lia, dia meneguk ludahnya kasar dan menatap bibir itu dengan intens.


Jari Ezra mengusap bibir itu dengan pelan, dia memejamkan matanya menahan apa yang bergejolak dalam dirinya.


"Gue kecup gak dosa kali yah?" gumam Ezra sambil kembali membuka matanya.


Cup!


Ezra berhasil mengecup apa yang menjadi perhatiannya sedari tadi, ibu jarinya mengusap benda yang habis dia kecup hingga senyuman terbit di bibirnya.


"Gak dosa, kan belum lima menit," gumam Ezra.


Berbeda dengan Alden dan Amora yang kini meributkan Ravin yang akan berpindah tidur ke kamar lain.


"Udahlah yang, hari ini jatah aku loh!" gerutu Alden sambil menatap istrinya yang sedang menidurkan Ravin sementara Cia tidur dengan Aurora.


"Kamunya diem dulu! kalau Ravin sudah tidur baru kita pindahin dia ke kamar Laskar," kesal Amora.


Alden mendengus kesal, tiba-tiba ponselnya berbunyi yang menandakan pesan masuk. Alden melihat ponselnya, dia berdecak kesal kala melihat pesan tersebut.


"KAN! tuh yang, si Zidan udah selesai! masa kita belum!" kesal Alden sambil menatap istrinya.


"Mau cepet gak? kalau mau cepet, diam! biar si Ravin cepet tidur!" ujar Amora.


Alden mengangguk, dan menghela nafasnya. Dia merebahkan dirinya di samping sang anak yang sedang mengedot botol susunya yang tinggal setengah.


Lama-kelamaan kelopak mata Alden tertutup dan dengkuran halus pun terdengar. Amora yang menyadari suaminya telah tidur pun tersenyum.


"Maaf ya mas, karena fokusku lebih ke Ravin jadi kamu terabaikan." ucap Amora sambil mengelus rambut tebal suaminya.


Amora melihat botok susu sang anak yang sudah habis, dia segera mengambil botol itu dan menaruhnya di nakas. Netranya kembali melihat bibir sang putra yang mencari sesuatu.


"Loh, pacifier Ravin mana yah?" bingung Amora.


Amora bangkit dari berbaringnya, dia mencari pacifier sang anak dan menemukannya.


Amora segera mensterilkan pacifier itu dan memasukkannya kedalam mulut sang anak.


BRUGH!


Amora terkejut ketika mendengar suara jatuh, dia segera keluar dari kamarnya dan melihat Viola dan Lio yang sedang menguping.


"Ini sudah malam, kenapa kalian berisik di depan kamar Lia dan Ezra?" bingung Amora.


Sedangkan Viola dan Lio terkejut, mereka merasa tertangkap basah oleh Amora.


"Hm ... itu tadi kami ... kami ...," gugup Viola.


"Hais ... sudahlah, cepat tidur!" titah AMora dan di angguki oleh keduanya. Mereka segera kembali ke kamar mereka.


Selama perjalanan Viola melirik Amora yang sepertinya sudah kembali ke kamarnya.


"Gagal punya ponakan deh, orang sepi begitu," gerutu Viola.


"Kita liat besok, kembaran gue masih jalan normal gak. Kalau gak, ya gagal kita punya ponakan cepet," ujar Lio.


Viola mengangguk, dia membenarkan ucapan Lio. Akhirnya mereka memasuki kamar mereka masing-masing dan melupakan kejadian tadi.


Berbeda dengan Zidan yang saat ini tengah merasa puas akibat menjahili Alden.


"Mas! udah dong ketawanya, dari tadi Kino ke ganggu terus tidur nya," jengah Kirana.


Zidan mengangguk, dia menatap sang istri yang sedang menidurkan sang anak. Sementara dirinya harus berhadapan dengan berkas kantor yang menumpuk selama dirinya di rumah sakit.


Tring!


Sebuah pesan masuk kedalam ponsel Zidan, dia mengerutkan keningnya ketika melihat kontak yang mengirim pesan.


"Emang ya si pak tua itu, udah koma masih aja bisa bikin masalah! di bilangin ngeyel sih, jadinya saham kantor turunkan!" gerutu Zidan.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.