
Pagi ini Lia tengah membantu Ezra bersiap pergi ke kantornya, dia memasangkan dasi Ezra dan memakaikan Ezra jas.
Ezra pun tak mau membuang kesempatan, dia menarik pinggang Lia dan mengangkat satu sudut bibirnya.
"Kak Ezra! apaan sih! lepas gak!" titah Lia.
"Gak mau," tolak Ezra.
"Lepasiiinnnn! rengek Lia.
Ezra dengan jahilnya mencium bibirnya istrinya yang mana membuat Lia melotot.
"Kebiasaan!' kesal Lia.
Ezra terkekeh. "Morning kiss nya belum, yah aku rebut," kata Ezra.
Lia menghela nafasnya, suaminya menjadi sangat berbeda setelah mereka menikah. Bahkan kini sikap Ezra sangat jauh berbeda dengan awal mereka bertemu yang ketus dan dingin.
"Udah, nanti telat loh," ucap Lia.
"Kalau satu ronde lagi gimana?" tanya Ezra sambil mengedipkan satu matanya.
Lia menatap garang Ezra, dia akan mencubit Ezra. Namun pria itu lebih dulu menjauhinya.
"Masih cukup loh ay," iseng Ezra.
"TADI MALEM KAN UDAH! GAK USAH MACEM-MACEM!" kesal Lia.
Lia mencari barang agar suaminya itu keluar dari kamar, dirinya menemukan jam tangan kesayangan suaminya.
"Uluuuhhh nih jam tangan kalau di masukin WC bagus kali yah," jahil Lia.
Ezra melototkan matanya, dia segera mengambil tasnya dan mendekat ke istrinya untuk mengecup kening sang istri.
"Aku berangkat sayang," ujar Ezra dan lari meninggalkan kamar.
Lia terkekeh, dia kembali menaruh jamnya dan berniat membereskan kamar.
Dia mengganti sprei serta selimut dan sarung bantal, setelah itu dia sedikit menyapu kamarnya.
"Eeehhh," kejut Lia.
Lia tak sengaja menginjak boneka yang sebelumnya di lempar oleh Ezra waktu itu. Lia mengambil boneka tersebut dan melihatnya.
"Kak Ezra punya boneka? tapi kok nih boneka familiar yah?" gumam Lia karena sedari dia tinggal di kamar ini, dia tak pernah melihat boneka ini. Apa karena boneka tersebut berada di pojokan hingga tak terlihat?
Lia melepaskan sapu dari tangannya, dia menduduki dirinya pada karpet berbulu.
"Ini kenapa yah kok di jait sih?" bingung Lia saat menatap perut boneka itu.
Lia menoleh kesana dan kemari mencari benda tajam, netranya menangkap gunting yang ada di nakas.
Lia bangkit dari duduknya dan mengambil gunting itu. Setelah itu dirinya kembali duduk dan fokus kepada boneka itu.
"Gue gunting aja kali yah, nanti di jait ulang kok," lirih Lia.
Lia mulai mengarahkan gunting itu pada boneka tersebut, tapi suara ketukan pintu membuatnya mengurungkan niatnya.
Tok!
Tok!
Lia menghela nafasnya, dia berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang mengetuk.
Cklek!
"Ngapain lu?" heran Lia.
"Ikut gue yu Li," ajak Viola.
Lia mengerutkan keningnya. "Kemana?"
"Ke rumah si Ica," ucap Viola.
"Ngapain sih? lu emang gak ada mata kuliah hari ini?" heran Lia.
Viola menggeleng, dia menatap Lia dengan wajah memohon.
"Ayo lah Lia, kita jalan-jalan. Sekaligus cuci mata yah ... yah ... yah," bujuk Viola.
"Gue belum izin sama kak Ezra, nanti kalau dia marah gimana?" bimbang Lia.
"Gak usahlah, nanti aja pulangnya," usul Viola.
Viola memang menyesatkan, Lia yang seharusnya meminta izin dulu pada suaminya akhirnya menuruti ucapan Viola.
Lia bersiap dan mereka pun pergi ke rumah Ica dengan mobil yang di setir oleh Viola.
"Emang lu tau rumahnya di mana?" tanya Lia di sela perjalanan mereka.
"Tau, siapa sih yang gak kenal Gevonac disini? Pasti lah gue tau, secara mansion mereka dengan wilayahnya sendiri. Kalau mansion kita kan masih deket tuh sama perumahan lain, beda sama mereka," terang Viola.
"Maaf nih pak, saya temannya nona kalian Raisa," ucap Viola.
Penjaga tersebut menatap temannya, sementara Viola berkeringat dingin karena melihat banyaknya senjata dan para penjaga.
"Kami perlu bukti," ucapnya.
"Oke deh pak, saya telpon anaknya," ujar Villa.
Viola menelpon Ica, tapi wanita itu tak juga mengangkatnya.
"Dasar temen gak ada akhlak! tadi di suruh kesini, sekarang gue masuk gak bisa!" gerutu Viola.
Tak lama ada mobil yang berhenti di sebelah Lia, pintu belakang mobil itu terbuka dan keluarlah seorang pria dari sana.
"Ada apa ini?" tanya pria tersebut.
Viola menoleh, dia tertegun melihat aura serta ketampanan pria itu.
"Sugar daddy," cicit Viola.
Pria tersebut menata Viola dengan pandangan aneh, lalu dia kembali menatap penjaga tersebut.
"Maaf King, wanita ini berkata jika dia adalah teman nona," ujar penjaga tersebut.
"Nama kamu siapa?" tanya pria itu yang tak lain adalah Frans.
Viola terkejut, dia tampak gugup. " Vi-Viola,"
"Ikut saya," pinta Frans dan kembali ke mobilnya.
Lia hanya menatap kejadian itu tanpa berniat keluar, dia sungguh merasa ada yang aneh dengan perasaannya saat ini.
Viola pun masuk ke dalam mobil, dia mengikuti Frans tepat di belakang.
"Wiiihhh gede juga nih," kagum Viola.
Akhirnya mereka sampai di pekarangan mansion, mereka segera turun dan mendekati Frans.
Frans pun langsung masuk ke dalam mansion, dia akan mencari adiknya itu.
"Astaga, masuk aja di sambut puluhan maid begini. Padahal menurut gue bokap lu yang paling kaya eh ternyata. Di atas langit masih ada langit," heboh Viola.
Lia menanggapi itu dengan senyum, netranya menoleh ke sekeliling dan tak sengaja menatap sebuah figuran.
"Lu ngapain, ayo ikutin itu sugar daddy," ajak Viola dan menarik Lia.
Lia tak menjawab, dia menurut saja. Hingga akhirnya mereka sampai di ruang tengah.
"Kalian tunggu disini, saya akan ke atas untuk memanggil adik saya," ujarnya dengan nada datar
"Gak papa kok om, nunggu om duda juga saya tetap nunggu," ujar Viola.
Frans mengerutkan keningnya, apakah wajahnya terlalu tua hingga Viola menjulukinya sebagai om-om.
Tak banyak memikirkan, Frans segera berlalu dari sana meninggalkan Viola dan Lia yang tengah asik menatap sekitar.
"Kalau jadi istrinya bahagia bet hidup gue nanti," heboh Viola.
Lia tak menggubris khayalan Viola, netranya menatap sebuah bingkai foto yang berada di atas bufet.
"Mukanya kok mirip sama wanita itu yah, walaupun pakai kaca mata tapi gue inget banget," gumam Lia.
Lia melamun hingga suara cempreng berhasil mengagetkannya.
"WELCOME MY KAWAN!" teriak Ica sambil berlari ke arah Viola dan memeluknya.
Lia ikut mendekat, dia tersenyum kala Ica melepas pelukannya pada Viola dan beralih memeluknya.
"Cieee gimana nih, keponakan gue dah jadi belum?" ledek Ica.
Lia terkekeh, dia menggeleng orlan dengan senyuman yang tak pernah luntur.
"Doain aja, semoga cepet," ujar Lia.
Ica mengangguk. " Eh yaudah yuk duduk dulu," ajak Ica.
Mereka duduk, perbincangan mereka sangat seru kecuali Lia yang saat ini masih merasa ada yang janggal.
"Eeehhh temen - temen Raisa pada dateng nih, wah rame dong yah,"
Mereka di kaget kan dengan suara wanita paruh baya, terlebih Lia yang membulatkan matanya.
"Tante?!" kejut Lia.
"Kamu?!"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.