Dark Memory

Dark Memory
Kecoa



"Terus Ravin mau ngapain sayang," pasrah Amora.


Sedari pagi Ravin terus merengek ingin sekolah, Alden berkata jika Ravin dan Cia harus home schooling dan saat mereka berumur 5 tahun baru mereka akan masuk sekolah.


Tapi yang namanya Ravin, dia tetep kekeh dengan keinginannya.


"Mau cekolah hiks ... bial di bilang pintel hiks," isak Ravin.


"Kan Ravin memang pinter, anak mommy semuanya pinter," heran Amora.


"Tapi hiks ... kak Laskal bilangna kalau belum cekolah macih bodoh, kita cekolah cupaya pinta hiks huaaaa!"


Amora menggendong sang anak, tampaknya Ravin mengantuk apalagi sang anak tidak tidur siang.


"Kenapa lagi si Ravin yang," tanya Alden yang baru saja pulang dari kantornya.


Amora menggeleng, dia menghampiri sang suami yang melepas dasi dan jasnya.


"Ravin kayaknya ngantuk jadi rewel," ujar Amora.


"NDAK! LAVIN NDA NANTUK HIKS! LAVIN MAU CEKOLAH!" sentak Ravin.


"Kok ngebentak mommynya begitu? ngomong yang baik dong," tegur Alden.


Alden menyerahkan dasi dan jasnya pada salah satu maid, dia menggulung lengan kemejanya dan mengambil Ravin yang ada di gendongan sang istri.


"Jangan mas pasti kamu capek banget baru pulang kerja, biar aku boboin Ravin dulu," tolak halus Amora.


"Kalau kamu tidurin sekarang, nanti malam susah tidur. Udah mending kamu liat Cia aja, biar Ravin sama aku," ujar Alden.


AMora hanya pasrah, Ravin kini ada di gendongan sang daddy. DIrinya masih terisak lantaran sang daddy tak mengizinkannya sekolah.


"Ravin kenapa pengen banget sekolah?" tanya Alden dengan lembut.


"Lavin mau puna temen banak, bial banak temennya," ujar Ravin.


"Kan ada Cia jadi temennya Ravin," bujuk Alden.


"Hiks ... tuma catu, Lavin mau cegini." unhuk Ravin sambil menunjukkan jari sepuluhnya.


Alden berjalan menuju taman belakang, dia mengamati taman bermain Ravin. Apakah putranya kurang arena bermain? bukankah dia sudah memberi segalanya pada sang putra? kenapa sang putra tetap saja bosan?


"Sekarang umur Ravin berapa?" tanya Alden.


Ravin tampak berpikir, dia menunjukkan tiga jarinya pada Alden.


"Tiga," ujar Ravin.


"Okay gini aja, 2 bukan lagi umur Ravin empat tahun kan? nah nanti daddy cariin sekolah untuk Ravin, tapi janji jangan merengek seperti tadi," bujuk Alden.


Ravin tampak menimbang, tak berselang kama dia mengangguk antusias.


"Yaudah, sana main. Daddy mau mandi dulu," ujar Alden.


Ravin pun mengangguk, dia turun dari gendongan Alden dan berlari ke dalam mansion. Sedangkan Alden menggelengkan kepalanya, ada saja kelakuan sang putra


Ravin berjalan cepat menuju kamarnya, tapi saat dia akan masuk Ravin terkejut melihat kecoa yang ada di gagang pintu.


"Kamu tenapa dicini cih!" ujar Ravin dengan suara bergetar.


Ravin paling jijik dengan kecoa, dia selalu takut jika di hadapkan dengan kecoa karena kecoa jika sudah nyerang maka wajah yang menjadi incarannya.


"Hus ... hus .. pelgi cana, nanti di caliin olang tuana loh," ujar Ravin.


Kecoa tersebut tampak diam saja, bahkan badannya menungging siap untuk terbang ke arah Ravin.


Ravin yang sudah was-was pun lari, tapi naas kecoa tersebut sudah terbang ke arahnya.


"HUAAAA! PELGI! PELGI!"


Ravin berlari ke kamar Aurora yang memang terbuka, dia histeris yang mana membuat Aurora bingung.


"Ravin kenapa?" bingung Aurora.


"KECOA! KECOANA DI BADAN LAVIN HIKS ... NDA MAU KELUAL!" sentak Ravin sambil mengibas bajunya.


Aurora membulatkan matanya, dia langsung cepat berlari menjauhi Ravin dan naik ke meja rias nya.


"RAVIN KENAPA KESINI SIH! KELUAR SANAAAA! IIIHHHH SANA SANA!" histeris Aurora.


Bukannya keluar Ravin malah mendekati Aurora, dia ingin meminta tolong agar kecoa tersebut di keluarkan dari bajunya.


Tapi Aurora malah menjauh darinya yang membuat Ravin menangis hingga tak ada suaranya.


"Ada apaan sih berisik banget, gak tau apa gue lagi tidur!" sentak Laskar yang masuk kamar Aurora dengan wajah bantalnya.


"Baju si Ravin ada kecoanya, Rora takut!" histeris Aurora.


Laskar terkejut, dia melihat sang adik yang berjalan ke arahnya. Sontak saja Laskar berlari keluar dengan Aurora yang ada di gendongannya.


Ravin pun semakin histeris, dia juga ikut berlari hingga tak sadar jika dirinya sudah berlari di tangga.


Ravin tak bisa menjaga keseimbangannya, dirinya akhirnya terjatuh dan terguling di tangga.


HAP!


Alden menangkap sang anak, dia segera membuka baju sang anak dan mendapati kecoa tersebut telah mati akibat tindihan Ravin.


"Sakit yang mana sayang?" panik Alden.


Ravin menggeleng, tampaknya suaranya tak keluar akibat terkejut. Aurora dan Laskar kini menghampiri Ravin yang ada di gendongan Alden.


"Kenapa mas?" panik AMora.


"Ravin jatuh, tapi pas nyampe bawah aku tangkap. Mungkin badannya bakal sakit, tapi kamu mandiin dia. Yang bersih, kena kecoa dia tadi, mesti semprot serangga ini mah," ujar Alden.


Amora mengambil sang putra yang tampak sesenggukan, dia melhat kening sang putra yang membiru. DI tambah suhu tubuhnya yang panas.


"Mas ini si Ravin panas loh badannya," panik Amora.


"Iya, kebanyakan nangis makanya begitu. Udah kamu mandiin dia pakai air hangat, nanti kita kompres," ujar Alden.


Amora mengangguk, dia beranjak dari sana dan kini tinggal Aurora Laskar dan Alden.


"Kenapa kalian berlari di tangga, untuk daddy tangkap ... coba nggak. Kalau di sampai lantai bawah gimana? bisa makin parah kan?" tegur Alden.


"Maaf dad, abisnya Ravin malah ke kamar Aurora, yah aurora panik lah," bela Aurora.


ALden menggeleng, dia beranjak dari sana meninggalkan Aurora dan Laskar yang merasa bersalah.


Alden oun memasuki kamarnya, tampak sang istri tengah memakaikan baju Ravin. Putranya mungkin lelah menangis sehingga dia tertidur dengan botol susunya.


"Mas, badannya pada merah-merah," ujar Amora.


"Mungkin gatal, atau kena bentur tangga tadi," ujar Alden.


"Dia jatuhnya dari atas apa udah hampir sampe?" heran Amora.


"Hampir sampe dia jatuh, terguling di beberapa tangga cuman aku langsung tangkap pas nyampe tangga terakhir," terang Alden.


Amora mengangguk, dia menyisir rambut sang anak dan menyelimutinya. Tiba-tiba saja dirinya baru teringat akan sesuatu


"Plester demamnya habis, gimana nih mas?" panik Amora.


"Kamu gak usah panik, biar aku suruh bodyguard beli di mini market," ujar Alden.


Cklek!


"Daddy," panggil Cia.


Alden menoleh, dia tersenyum melihat Cia yang datang dengan boneka di pelukannya.


"Cia jagain Ravin dulu yah, daddy mau mandi," ujar Alden.


"Lavin kenapa daddy?" bingung Cia.


"Sakit karena kecoa," sahut Alden.


"Kecoana nakal, nanti bial di cunat aja kecoana," ujar Cia.


Alden menatap Amora begitu pun sebaliknya, mereka juga tak tahu bagaimana cara menyunat kecoa.


"Yasudah aku mandi dulu, tadi mau mandi malah denger teriakan Aurora dan Ravin," ujar Alden.


"Yasudah sana mandi, Cia sini sayang sama mommy,"


Cia mendekati Amora, dan merentangkan tangannya agar Amora menggendongnya ke tempat tidur.


"Tadi di depan ada kak Lia cama bang Ezla," ujar Cia.


"Benarkah? mommy turun dulu yah, Cia disini aja sama Ravin. Nanti kalau Ravin bangun terus nangis, Cia kebawah temuin mommy yah,"


Cia mengangguk patuh, dia memainkan bonekanya sementara Amora pergi dari kamar menuju lantai bawah..


"Lavin payah, cama kecoa aja takut. Tapi cama cinga nda takut, kayak Cia dong. Takutna wajal,"


oceh Cia.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.