Dark Memory

Dark Memory
Dinner ala Ezra



Ezra keluar dari kamarnya, dia mencari keberadaan istrinya.


"Ayang kemana yah?" gumam Ezra.


Netra Ezra tak sang sengaja menatap Viola yang tengah berjalan sambil bermain ponsel.


"Vi, Liat kakak ipar kamu gak?" tanya Ezra.


Viola mengalihkan pandangannya. "Gak tau,"


Ezra akhirnya memutuskan untuk mencari kemari, entah dimana istri kecilnya itu.


"Eh bund, ngeliat Lia gak?" tanya Ezra saat melihat Kirana yang tengah membaca majalah.


Kirana mengalihkan pandangannya."Coba kamu lihat di taman belakang,"


Ezra mengangguk, dia mencari ke taman belakang. Dan benar saja istrinya itu tengah tiduran di atas rumput di bawah pohon yang rindang.


Dengan pelan Ezra melangkah agar tak membangunkan istrinya itu.


"Bisa yah tidur di manapun, padahal malam tadi gak bisa tidur," bisik Ezra.


Ezra menduduki dirinya tepat di samping Lia, Tangannya terulur untu menyingkirkan poni Lia yang menutupi wajahnya.


"Cantik banget sih, jadi pengen ngandangin,"


"Emang kamu pikir aku kambing!"


Ezra terkejut, ternyata Lia tidak tidur dan hanya memejamkan matanya saja.


"Kakak ngapain disini?" tanya Lia sembari menduduki dirinya.


"Cari istri aku lah," jawab Ezra.


Lia mengangguk singkat, dia merentangkan tangannya ke arah Ezra.


"Apa?" bingung Ezra.


Lia mencebikkan bibirnya. "Gendong!" seru Lia.


Ezra terkekeh, dia berdiri dan menyelipkan tangannya di sela ketiak Lia. Setelah itu dia membawa istrinya ke gendongannya.


Ezra memasuki mansion, dia berjalan menuju kamarnya.


"WIDIIIHHH ada acara apa nih pake acara gendong-gendongan segala?" ledek Viola yang melihat mereka.


Ezra tak menggubrisnya, dia tetap berjalan meninggalkan Viola yang menggerutu kesal.


"Dasar balok es!"


Ezra telah sampai di kamarnya, dia langsung menuju ranjang untuk merebahkan Lia.


"Tidur siang gih," ujar Ezra.


Lia menggeleng, tangannya menepuk tempat di sebelahnya.


"Bobo sini, aku mau ngomong sesuatu," pinta Lia.


Ezra menurut, dia ikut berbaring di samping istrinya itu. Tangannya menyelip di leher Lia sehingga agar lebih mudah berdekatan dengan istrinya.


"Tadi aku lihat video bayi,"


"Terus?" bingung Ezra.


Lia menggambar pola abstrak di dada Ezra yang terbalut kaos.


"Aku mau, kita beli yuk," cicit Lia.


Ezra tertawa, memang istrinya kira mereka bisa membeli anak secara instan?


"Kalau beli gak bisa sayang, kalau bikin baru bisa," ujar Ezra.


Lia mendongak." Bener! yaudah ayo bikinnya gimana? kamu punya bahannya ga?" seru Lia.


Ezra mematung, dia tak habis pikir dengan keluguan Lia.


"Waktu pelajaran tentang pembuahan anak kamu tidur yah?" tanya Ezra.


"Emang ada pelajaran itu? perasaan aku taunya pembuahan apel, pembuahan jeruk, pembuahan ...,"


"Stop! cukup, biar aku praktekin langsung aja," sela Ezra.


Lia memekik senang, dia segera duduk dan menunggu Ezra. Tapi senyumnya luntur ketika melihat Ezra yang malah membuka bajunya.


"Kak Ezra ngapain?" bingung Lia.


"Katanya mau buat bayi?" heran Ezra.


"Kok buka baju? nanti masuk angin loh," ucap Lia.


Ezra memejamkan matanya, dia sangat gemas dengan Lia sekarang.


"Kamu ingat apa yang kita lakuin pas itu? yang kamu katakan menyerahkan dirimu sentuh nya?" tanya Ezra sambil membuka matanya.


Lia mengangguk kecil, pipinya menjadi merah karena kembali mengingatnya.


"Ya buatnya begitu!" ujar Ezra.


Lia melotot kaget. " Gak mau ah, sakit!" tolak Lia.


Ezra membulatkan matanya ketika melihat Lia menjauh, dia menarik lengan Lia agar istrinya tidak jatuh.


"Kok tega sih kamu, baru sekali loh!" tak terima Ezra.


"Orang sakit juga!" kesal Lia.


"Yaudah iya, sini peluk dulu," pinta Ezra.


Lia menggeleng kembali, dia bangkit dari ranjang dan menghindar dari Ezra.


"Gak ah, kamu belum pakai baju. Bahaya,"


***


Malam hari, Ezra mengajak Lia untuk makan malam di luar. Dia ingin mengajak istrinya itu dinner romantis karena saat Lia sudah memakai baju sama dengan Ezra.


Ezra membuka pintu mobil untu Lia, setelah memastikan istrinya masuk dia pun memutari mobil menuju pintu kemudi.


Di perjalanan, Lia tak henti-hentinya tersenyum. Begitu pula dengan Ezra, bahkan mereka saling menggenggam selama perjalanan.


"Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Lia.


Ezra menoleh sekilas. "Rahasia, pokoknya kamu pasti seneng," sahut Ezra.


Mobil yang mereka tumpangi sampai di depan restoran, Ezra segera keluar dari mobil untuk membukakan pintu untuk istrinya.


"Silahkan cintaku," ujar Ezra.


"Lebay kak!" kekeh Lia.


Lia menggandeng lengan Ezra, sementara Ezra memberi kunci kepada orang yang berjaga di depan hotel untuk memarkirkan mobilnya.


"Maaf, anda tuan Ezra Elvish?" tanya seorang wanita berpakaian waiters.


"Ya, di mana tempat pesananku?" tanya Ezra dengan wajah datar andalannya.


"Mari ikuti saya tuan," ajak wanita itu


Ezra menoleh menatap Lia, dia mengelus tangan Lia yang berada di lengannya.


Mereka mengikuti waiters itu, tampak lah sebuah taman yang sudah di hiasi dengan lampu dan bunga mawar.


"Kak Ezra ini ...,"


Ezra tak menjawab, dia membawa Lia menuju meja yang hanya tersedia kursi dua saja yang saling berhadapan.


Ezra menarik kursi untuk istrinya, setelah itu dia menarik kursi untuk dirinya sendiri.


"Apa kau menyukainya?" tanya Ezra.


"Iya ... ini sangat indah," heboh Lia.


Ezra tersenyum, dia menoleh kebelakang ternyata ada dua orang pria membawa buket bunga yang sangat besar beserta boneka.


Ezra bangkit dari duduk nya, dia meminta bunga itu berhubung Lia masih fokus pada hak lain.


"Terima kasih," ucap Ezra pada kedua pria itu.


Ezra kembali duduk, dia menatap Lia yang masih mengamati sekitar..


"Ay," panggil Ezra.


Lia menoleh, seketika raut wajahnya menjadi terkejut. Tangannya langsung menutup setengah wajahnya ketika melihat Ezra yang memberinya bunga tersebut.


"Buat aku kak?" tanya Lia.


"Tentu,"


Lia mengambilnya, dia memekik senang karena mendapat hal yang tak terduga dari Ezra.


"Baru kali ini di romantisin, biasanya cuma pake coklat aja,"


"Ini dari suami kamu, kalau mereka para pengganggu jadi gak perlu kamu kenang lagi," ujar Ezra.


Netra Lia beralih menatap boneka yang berada di meja, bentuknya memang tidak besar hanya saja boneka itu begitu lucu.


"Kakak juga beliin aku boneka?" bingung Lia.


Ezra mengangguk. "Mommy bilang kamu suka boneka, jadi aku beli untuk kamu," kata Ezra.


Ezra berdiri, dia segera menuju Lia. Dia menempatkan tubuhnya di belakang Lia dan memeluknya.


"Kamu suka gak? ada yang kamu minta dari aku?" tanya Ezra sambil berbisik di telinga Lia.


Lia mengelus tangan Ezra yang berada di bawah lehernya, dia tersenyum dengan tulus.


"Ada," ujar Lia.


"Apa? aku akan memenuhinya,"


"Percaya, aku minta kamu selalu percaya sama aku. Apapun yang terjadi nanti, aku mau kamu percaya apa yang aku jelaskan. Aku takut ada kesalahpahaman di antara kita, karena penyebab terbesar rusaknya sebuah hubungan dikarenakan runtuhnya kepercayaan," ujar Lia.


Ezra terdiam, permintaan istrinya sangat sederhana tapi sangat bermakna.


"Aku boleh minta juga?" tanya Ezra.


Lia mengangguk. "Boleh," kata Lia


"Aku mau anak dari kamu," linta Ezra.


Lia tertegun, dia menatap perutnya. Membayangkan dirinya hamil pasti akan sangat membahagiakan untuknya.


"Boleh, kita berusaha. Semoga kita akan cepat memiliki anak," sahut Lia.


"Bener yang? pulang dari sini kita buat yah!" seru Ezra sambil memiringkan wajahnya hingga bisa menatap istrinya.


Lia menggerutu dirinya dalam hati, dia salah berbicara seperti itu saat ini dengan Ezra yang selalu mengirimnya kode sedari siang tadi.