
Cklek!
"Loh, papah?"
Aqila terkejut mendapati Alden yang berdiri di depan apartemen nya dengan menatapnya datar.
"Papah boleh masuk?" tanya Alden dengan nada dinginnya.
Aqila mengangguk, dan menyingkirkan tubuhnya untuk memberi akses papahnya masuk.
"Berapa lama kamu gak kembali ke London?" tanya Alden dengan pandangan lurus ke arah jendela besar dan membelakangi Aqila.
"Tiga bulan pah, kenapa?" bingungnya.
"Berapa lama kamu janji kepada ayahmu untuk berada di sini?"
Aqila mengerutkan keningnya. "Sa-tu bulan?" ragu Aqila.
"Benar! kau hanya di izinkan satu bulan berada di negara ini, kau kesini hanya untuk melanjutkan pertunanganmu. Tapi ... kenapa sampai sekarang pertunangan itu belum juga di lakukan?" tanya Alden sambil membalikkan tubuhnya.
"Ba ...,"
"Batal karena kau hamil, benar?" sela Alden.
Aqila terdiam kaku, seakan waktu terhenti saat mata tajam Alden mengarah ke dirinya. Sudah lama Alden tak pernah berbicara dingin padanya, tapi saat ini Alden terlihat sangat kecewa.
"Pah ... a-aku ...,"
Alden menghentikan Aqila dengan menunjukkan jarinya pada mulutnya yang menandakan dia tak perlu penjelasan Aqila.
"Papah tau ... sangat tau ..., papah menyuruh om Erwin untuk menyelidiki kamera CCTV di apartemenmu. Tapi memang tak ada hasil, tapi namamu dan pria itu tertulis di buku tamu hotel milik papah," terang Alden.
Air mata Aqila jatuh, dia sudah mengecewakan ayah angkatnya. Terlebih jika ayah kandungnya tahu, apa yang harus dirinya lakukan?
"Ikut papah, kita minta pertanggung jawaban dari pria itu," ujar Alden.
Aqila menggeleng kala Alden memegang tangannya, dirinya kembali mengingat perkataan Frans yang menyakitkan.
"Gak pah, jangan hiks ... aku gak mau anakku dikatakan anak haram lagi hiks ... aku gak mau dia paksa aku buat gugurin kandungan lagi hiks ... aku gak mau tambah dosa pah!" histeris Aqila.
Sontak Alden mematung melihat putrinya seperti orang ketakutan dan berlari ke kamar. Alden pun langsung menyusul putrinya itu.
"Aqila denger papah nak!" ujar Alden sambil berusaha membuka pintu kamar Aqila yang terkunci.
"AQILA GAK MAU PAH! AQILA CUMA PUNYA ANAK AQILA! JIKA KALIAN SEMUA BUANG AQILA, AQILA GAK PAPA. ANAK AQILA YANG AKAN MENJADI PENGUAT AQILA!"
Alden menghentikan kegiatan tangannya yang berusaha membuka pintu, dia mundur dengan perlahan. Badannya sangat lemas hingga sebuah maid menepuk bahunya.
"Maaf tuan, tuan ayahnya non Qila?" tanya maid tersebut.
Alden sontak saja menoleh, dia mengangguk dengan lemas.
"Nona masih trauma dengan perlakuan tuan Frans, tapi tuan ... tuan Frans telah berubah. Dia mau datang kesini untuk memaksa nona makan. Atau sekedar menjenguk nona kala nona tidur untuk berbicara pada bayinya," ujar maid itu.
"Pria br3ngs3k itu kesini?" tanya Alden.
Maid itu mengangguk, dirinya merasa ada yang tak beres dari Alden karena pria itu mengepalkan tangannya.
PRANG!
"AAAA!"
Alden memukul meja kecil yang berlapis kaca di dekat kamar Aqila, dia menghiraukan tatapan takut dari maid itu.
"Kau bawahan si baj1ng4n itu? BICARA!" sentak Alden.
Maid itu mengangguk, tubuhnya sudah gemetar karena tatapan tajam Alden.
CKLEK!
Aqila keluar dari kamar, netranya sontak membulat sempurna melihat apa yang terjadi.
"Papah, tangan papah .... darah ... darah," Aqila sangat takut dengan darah, bahkan tubuhnya akan lemas ketika melihat darah.
Alden menyembunyikan tangannya, dia tahu putrinya sangat takut melihat darah. Dia melepas jasnya dan menaruhnya di bawah untuk menutupi darahnya tersebut.
"Bereskan barang-barangmu dan ikut papah ke mansion Wesley ... se-ka-rang! TAK ADA BANTAHAN!" sentak Alden ketika melihat mulut sang putri akan berucap.
Aqila mengangguk, dia segera mengemasi barangnya sedangkan Alden sudah menunggunya di luar sembari membersihkan darahnya dengan rompi miliknya. Sehingga kini dia hanya memakai kemeja putihnya.
"Pah," panggil Aqila.
Alden menoleh, "Sudah?"
"Mommy mu telah papah kabari jika kamu akan datang, dia telah menyiapkan semuanya untuk kedatanganmu." cerita Alden sembari berjalan.
"Pasti Aqila buat kecewa mommy," lirih Aqila dan menundukkan wajahnya.
Alden merangkul putrinya, dia bukan seorang ayah yang akan menekan mental putrinya hanya karena kesalahan seseorang.
"Kami yang kecewa pada diri kami sendiri karena tak bisa menjaga putri kami," ujar Alden.
"Papah, maaf," cicit Aqila.
Alden tersenyum, dia membuka pintu mobilnya untuk sang putri.
"Kita bicarakan ini di mansion okay, papah sudah menghubungi ayahmu untuk ke sini malam ini. Dia sedang ada di pesawat saat ini, mungkin khawatir dengan keadaanmu," ujar Alden.
Aqila memasuki mobil, setelah itu Alden memutari mobil menuju bagasi untuk memasukkan koper putrinya.
Aqila hanya terdiam sambil meremas tangannya, tak lama dia merasakan mobil yang bergerak karena pintu kemudi yang di buka oleh Alden.
"Apa Lia dan Lio sudah pulang?" tanya Aqila memecah keheningan.
"Sudah, mereka tak kembali ke akademi lagi. Awalnya Lio memang hanya menetap beberapa bulan di akademi untuk membantu para militer bertugas di perbatasan memberantas para pemberontak,"
"Jadi mereka bukan anggota?" bingung Aqila.
"Bukan, mereka hanya belajar dan mencari sesuatu. Lagi pula kau tahu bukan jika Lia sudah menikah? dia sudah ikut dengan suaminya yang kini telah menjadi CEO," terang Alden.
Aqila mengangguk mengerti, dia menyenderkan badannya yang terasa pegal.
"E-eh!" kaget Aqila saat Alden menurunkan kursi mobil.
"Pinggang wanita hamil akan pegal jika duduk seperti itu, mommy mu waktu hamil Ravin dia selalu mengeluh pinggangnya panas maka dari itu papah menurunkan sandaran kursi," kata Alden.
Aqila tersenyum, papah nya sungguh perhatian. Beruntunglah dia memiliki papah yang tak memojokinya seperti kebanyakan orang. Mempunyai papah yang bijak, tegas, maka dari itu Aqila bangga pada Alden.
***
Terlihat kini Ravin tengah berjalan-jalan di mansion sambil memegang botol susunya.
"Ravin mau kemana dek?" tanya Amora yang melihat putranya menuju pintu utama.
"Tadi katana mommy daddy mau pulang, Lavin mau nyambut depan pintu," ujar Ravin.
"Yaudah kalau kayak gitu, jangan keluar dari mansion. Nanti daddy kurung lagi Ravin di kandang kambing," ujar Amora.
Ravin mengangguk, dari sekian macam hewan dirinya paling takut dengan kambing.
"Lavin nda mau lagi di catu lumah cama embek," ujar Ravin.
"Makanya jangan bandel!" peringat Amora.
Ravin mengangguk, dia kembali melanjutkan jalannya sembari bersenandung.
"Bahagia akuuuu bila belcamu ... cenang hatiku dalam pelukanmu. Mendualah belcamaaakuuu,"
Begitulah kira-kira ocehan Ravin, sedangkan para bodyguard yang mendengarkan ocehannya di buat terkejut dengan lirik yang salah.
"Ravin, Ravin ... kecil-kecil dah bilang mendua," celetuk Aurora yang baru saja pulang dari tempat lesnya.
"Telselah Lavin dong, mulut-mulut ciapa?" tanya Ravin.
"Ravin," jawab Aurora.
"Yacudah, napa kakak jadi cewot tama Lavin?" ujarnya dan pergi dari hadapan Aurora.
"DADDY!"
Aurora terkejut mendengar teriakan Ravin, sontak saja dia membalikkan badannya dan mengernyit bingung kala melihat wanita di samping daddynya
"Loh, kak Qila?"
____________________________
Maaf yah telat up.
Oh iya mau ingetin aja, ini cerita fiksi buatan dan mesti tak sama dengan dunia asli. Pasti ada aja yang melenceng dari dunia nyata, misal tentang militer. Maklum authornya gak pernah masuk militer, hanya mengandalkan pengalaman baca dan nonton🤭🤭🤭.
**JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.
Terima kasih banyak buat kalian yang sudah mendukung karyaku😘**.