Dark Memory

Dark Memory
Keluar dari akademi



Hari ini, hari yang paling di tunggu oleh Ezra dan Lia. Dimana mereka akan keluar dari akademi termasuk melepas jabatan mereka.


"Terima kasih atas 10 tahunnya, saya sudah tidak bisa lagi menjadi jendral kalian," tegas Ezra.


Setelah pidato, Ezra dan Lia segera berkemas. Termasuk Viola, dia juga mengikuti abang dan kakak iparnya itu.


"Terus lu gimana dong ca? Mesya kan juga udah gak di akademi ini?" tanya Viola pada Ica yang sedang santai membaca buku.


"Gue? kenapa?" bingung Ica sambil mengalihkan pandangannya


"Kita semua udah gak ada terus lu gimana disini sendiri?" tanya Viola.


"Tenang aja, besok juga paling gue di jemput bokap," ujar Ica.


Lia dan Viola salijg pandang, mereka pikir Ica akan tetap disana.


"Hais ... abang gue buat masalah, dia batalin pertunangannya dengan Aqila Lawrance. Bokap gue suruh gue pulang untuk nyelidikin apa yang terjadi," terang Ica.


Lia terdiam, dia seperti mengenal nama itu. Namun dirinya mungkin lupa karena bertahun-tahun lamanya Aqila tak pernah datang kembali ke indonesia sejak dia ada di London.


"Ay, udah beres?" tanya Ezra yang baru saja masuk dengan kopernya.


Lia masih diam, mereka akhirnya menatap Lia yang terdiam. Dengan inisiatif, Ezra menepuk bahu istrinya.


"Ay,"


"Eh iya apa?" linglung Lia.


"Kamu kenapa? sakit?" khawatir Ezra.


"Eng-enggak, udah ah ... yok kita pulang," ujar Lia dan berjalan menuju tas dan kopernya.


Saat lia akan membawa kopernya, Ezra lebih dulu memgambilnya.


"Biar aku yang bawa," ujar Ezra.


Lia mengangguk, sementara Viola mempunyai ide dan memberikan kopernya kepada Ezra.


"Bang, bawain juga punya gue!" titah Viola.


Ezra menaikkan satu alisnya, setelah itu dengan tak berperasaannya dia menyerahkan dua koper pada adiknya dan menggandeng lengan istrinya keluar dari kamar.


"E-EH KOK KOPERNYA KASIH GUE! ABANG! DASAR YAH, GAK ADA AKHLAK EMANG!" teriak Viola.


Berbeda dengan Lio yang memperhatikan Ezra dan Lia yang berjalna menuju parkiran.


"Tugas gue selesai, gak sia-sia gue minta daddy masukin gue ke akademi ini sehingga Lia pun bisa bertemu dengan Ezra. Dan kini cinta mereka disatukan dengan ikatan pernikahan," gumam Lio.


Flashback on.


Lio tengah melajukan motor dengan kecepatan sedang, tak sadar ternyata ada motor yang melaju ke arahnya hingga terjadilah tabrakan yang tak dapat di hindari.


BRUGH!


"Awsh ...," lirih Lio.


Lio melihat orang tersebut, dia terkejut melihat orang itu yang ternyata tengah tertimpa motor.


Lio berusaha bangun, setelah itu dia menghampiri orang tersebut untuk membantunya.


"Lu gak papa?" tanya Lio.


"Ya, saya gak papa. Terima kasih," ujarnya.


Lio mengangguk, dia melepas helmnya begitu pula dengan orang tersebut. Netra Lio membulat sempurna ketika melihat orang tersebut.


"Lu, lu Leon kan?" kaget Lio.


Tampak orang tersebut yang tak lain adalah Ezra mengerutkan keningnya, dia berdiri dan menatap heran Lio.


"Bukan, saya bukan Leon tapi Ezra. Saya heran karena tak jarang banyak yang berucap seperti anda. Tapi ... saya Ezra, bukan Leon," terangnya.


Lio mengerutkan keningnya, dia sepeti tak salah mengenali orang. Ingatan Lio tentang wajah seseorang begitu kuat, berbeda dengan Lia.


"Gak ... dari mata lu, rambut lu, bentuk wajah lu ... gak mungkin gue salah tebak," kekeh Lio.


Ezra menghela nafasnya, dia mengeluarkan kartu nama dan memberikannya ke Lio.


"Anda bisa bacakan? saya adalah Ezra, bukan Leon. Paham!" kesal Ezra.


Lio membacanya, dia mengerutkan keningnya semakin dalam kala melihat tulisan Jendral Ezra Louise E.


"E? Elvish?" gumam Lio.


Ezra kembali menarik kartu namanya, dia segera mendirikan motornya dan memakai helmnya.


"Makasih, saya pergi dulu," ujar Ezra.


"Jendral yah ... ok, gue bakal buktiin kalau lu emang Leon ... gue bakal masuk ke dalam akademi itu, otomatis daddy pasti nyuruh Lia buat ikut gue bukan?" seringai Lio.


"Leon ... Leon, gue tau lu pasti masih hidup. Selamat bertemu di pertempuran cinta kalian,"


Flashback off.


"Lucu juga sih, mereka menikah dengan keadaan yang tak terduga," lirih Lio.


Kemudian Lio pergi dari sana, dirinya juga harus berkemas. Karena dia memutuskan untuk membantu sang daddy mengurus perusahaan sang opa.


Mau tak mau, suka tak suka. Lio harus melakukannya karena ini lah konsekuensi keturunan Wesley. Mereka harus mengemban amanat dari kakek mereka untuk memajukan perusahaan.


***


Di perjalanan, Viola begitu jengah melihat dua orang tersebut. Siapa lagi kalau bukan Ezra dan Lia.


Bagaimana tidak? mereka tengah bermanja ria sedangkan dirinya harus menonton adegan live itu.


"Bisa gak sih kalian gak usah mesra-mesraan depan gue, risih tau gak!" kesal Viola.


"Dari awal abang udah bilang kan, kalau satu mobil kamu bakal jadi nyamuk! ngeyel sih!" jengah Ezra.


Viola mendengus kesal, sementara Lia dia hanya terkekeh melihat sahabatnya yang frustasi.


"Maklum lah yah, pengantin baru," ledek Lia.


Viola tambah kesal, ingin rasanya dia naik taksi saja. Tak lama mobil mereka terhenti di lampu merah, yang mana membuat Viola menyandarkan kepalanya pada jendela mobil.


Suara motor terdengar di telinga Viola, dia langsung menoleh seketika matanya berbinar melihat seorang pria yang menaiki motor besar.


"Iiiii Lio!" seru Viola.


Viola menurunkan jendela mobil, dia memukul tangan Lio sehingga pria itu menoleh menatapnya sambil membuka kaca helmnya.


"Apa?" tanya Lio.


"Gue nebeng lu yak!" ujar Viola sambil membuka pintu mobil.


Viola keluar, sementara Lia langsung memunculkan kepalanya pada jendela mobil.


"Bawa dia deh, ribet dari tadi ngegerutu terus. Dari pada jadi nyamuk kan, lu bawa deh bocah sableng satu ini," ujar Lia dan kembali menutup kaca mobil.


Lampu sudah berubah menjadi hijau, mobil Lia dan Ezra sudah jalan sementara motor Lio masih berhenti karena Viola baru saja naik.


"Udah?" tanya Lio.


"Udah!" seru Viola setelah memakai helm yang memang tersedia di motor Lio.


Motor Lio jalan, dia mengikut tepat di belakang mobil Ezra dan Lia.


"Lio!" teriak Viola.


"Apa?!" balas Lio.


"Gue pegangan ama lu yah, soalnya gue ngantuk!" seru Viola.


Tanpa menjawab, Lio menarik kedua tangan Viola. Dia memegang tangan itu dengan satu tangannya.


"Ihhh jangan pegang-pegang! belum halal!" panik Viola sambil menarik kembali tangannya.


"Ck, peluk aja. Nanti pulang gue halalin," teriak Lio.


Wajah Viola memerah, Lio pun tahu karena dirinya melihat dari spion motornya.


"Lu ... lu gak usah jadi buaya dong! ma-mau ngeghosting gue kan lu? nggak ah! gue gak mau!" sentak Viola.


"Hahaha, Viola lu tau gak? ternyata Dilan itu salah, yang berat itu bukan rindu tapi di paksa mundur oleh keadaan," ujar Lio.


Viola terdiam, dia masih memikirkan ucapan Lio yang menurutnya benar.


"Iya sih, tapikan gue sama lu gak ada hubungan apa-apa?" ujar Viola.


JDEERRR.


"Ternyata lebih sakit kata-kata itu woy," gumam Lio.


.______________


Hai para pembaca? pasti nungguin up kan?


Oh iya, niatnya hari ini aku mau crazy up. Tapi kalian harus tetep komen dan like setiap chapter yah😄 chapternya jangan di ghosting atuh🤭. Komen lah walau hanya pakai emoji apapun, yang penting hadir kawan😆.


Kan authornya sedih kalau up banyak eh yang like dan komen sepi😅😅, oke ... hari ini kita bakal crazy up🥳 tunggu chapter selanjutnya yah ... babay😘.