
Clara sedang mengunjungi ruang rawat bunda angkatnya, dia sudah mempersiapkan segalanya termasuk bunga yang berada di pelukannya.
Clara telah sampai di depan ruang rawat sang bunda, dia akan memutar knop pintu. Tetapi pendengarannya mendengar apa yang ayah dan bundanya katakan mengenai dirinya dan juga Mesya.
"Gimana mas, Mesya udah mau pulang?" tanya bunda Mesya.
"Dia gak bakal mau pulang sebelum kita lepasin Clara dari kartu keluarga kita, anak itu keras kepala Ratih," terang Noah
"Benarkah? kenapa dia terlalu membenci Clara, apa yang salah dengan Clara," lirih wanita bernama Ratih.
"Mungkin secara tidak sadar kita telah menyakitinya termasuk kamu yang selalu lebih prioritaskan Clara dibanding Mesya anak kandung kita sendiri, dia mengeluarkan semua apa yang dia rasakan selama ini bahwa dirinya merasa terbuang oleh keluarga kita," ujar Noah.
"MAS! AKU TIDAK PERNAH MEMBUANGNYA!" sentak Ratih.
"Kita membuangnya! kita membuangnya secara halus dengan lebih prioritaskan Clara dibanding anak kandung kita sendiri! dia memberi pilihan padaku, jika kita lebih memilih Clara ... Mesya yang akan mundur, dia tidak akan pernah lagi menemui kita. Jika kita pilih Mesya, kita harus menyingkirkan Mesya dari kehidupan kita," terang Noah.
Clara yang mendengarkan semua berurai air mata, dirinya merasa sakit saat sang ayah mengatakan itu. Dia sadar dimana tempatnya seharusnya berada, bersyukur keluarga Mesya telah membawanya sehingga dia tak terlantar hidup di jalan.
Namun, karena dia terlalu terlena dengan kasih sayang orang tua angkatnya. Dia jadi lupa posisi, siapa dia sebenarnya.
Cklek!
Noah dan Ratih terkejut, mereka melihat putri angkat mereka memasuki kamar rawat Ratih dengan berurai air mata.
"C-Clara ... sayang nak ... kau," gugup Ratih.
"Pilih Mesya yah, aku banyak salah dengannya. Selama belasan tahun dia menanggung semuanya sendiri, bahkan aku tak sadar posisi ku hanyalah anak angkat," ujar Clara.
"Gak sayang, ayah dan bunda tidak akan membuangmu," ujar Ratih.
"RATIH! APA MAKSUDMU KAU AKAN MEMBUANG MESYA HAH?!" teriak Noah.
Noah menyadari kesalahan nya terhadap putri kandungnya, dia mendengar keluh kesah Mesya saat putrinya keluar dari ruangannya.
"Mas! Mesya hanya perlu waktu, dia akan menerima Clara sebagai kakaknya," ucap Ratih.
"Sampai kapan? SAMPAI KAPAN PUTRI KANDUNG KITA MERASAKAN INI! Sungguh Ratih, aku sebagai ayahnya tak rela jika putri kandungku kembali tersakiti dengan keegoisan kita," ujar Noah sambil menatap tajam ke arah Ratih.
Noah keluar dari ruang rawat Ratih dalam keadaan kesal, Clara pun mengikuti ayah angkatnya itu.
"Yah! tunggu yah!" panggil Clara.
Noah menghentikan langkahnya, dia terdiam menunggu apa yang Clara ingin katakan.
"Yah maafkan aku, maaf jika kehadiranku di keluarga Emmerson membuat putri kandung ayah meninggalkan keluarga ini. Maaf yah, hapus nama Clara dari keluarga Emmerson dan bawa kembali putri kandung kalian. Maaf jika selama ini Clara egois dan selalu ingin kasih sayang kalian, hingga tak sadar perlahan Clara menyingkirkan Mesya," isak Clara dengan menundukkan wajahnya.
Noah terdiam, ini bukanlah salah kedua gadis itu. Ini adalah salah keegoisan dia dan istrinya, dirinya yang tak pernah adil untuk anak-anaknya.
Jika saja mereka adil, tentu hal ini tidak akan terjadi. Mereka telah menyakiti anak mereka, ketidak adilan mereka membuat putri kandung mereka tak mau bertemu dengan mereka.
Noah berbalik, dia menatap Clara yang menangis tersedu-sedu. Bahkan dirinya sudah tak memperdulikan tatapan orang-orang padanya.
"Kamu telah di titipkan pada saya untuk menjagamu sampai saya tahu siapa ayah kandungmu, saya tidak bisa mengeluarkanmu dari keluarga Emmerson hingga kami tahu siapa ayah kandungmu. Dan sampai sekarang, kami belum menemukannya," ucap Noah.
"Hiks ... biarkan Clara hidup sendiri yah hiks ... Clara sudah besar dan bisa hidup mandiri. Mesya masih remaja dan membutuhkan kasih sayang kalian," pinta Clara.
"Ayah menyetujui itu, ayah tau jika kamu bisa sendiri. Tapi bundamu, dia terlalu menyayangimu." ujar Noah dan mengalihkan pandangannya.
"Karena kehadiranmu hidup kita lebih berwarna saat itu ... 20 tahun lalu ...,"
Flashback on
" Gimana hasilnya? " tanya Noah dengan antusias saat istrinya keluar dari kamar mandi dengan tespack di tangannya.
Ratih menggeleng, seketika raut wajah Noah berubah sendu. Sedetik kemudian dia memaksa senyumnya.
"Tidak papa, mungkin belum rezeki kita. Sudah yah, lebih baik kamu istirahat saja," ujar Noah dan mengelus bahu istrinya itu.
"Siapa mas?" tanya Ratih.
"Gak tau, mas gak ada janjian apapun dengan orang hari ini," jawab Noah disertai gelengan.
"Aku coba lihat dulu yah," pintanya dan segera menuju pintu rumahnya.
Cklek!
Noah mengerutkan keningnya ketika melihat seorang anak kecil yang duduk dan sedang menangis sambil memegangi kakinya
Noah langsung mendekati anak itu, dia menatap kaki sang anak yang di perban.
"Dek, kamu kenapa? orang tuamu mana?" panik Noah.
"Hiks ... hiks ...," anak kecil tersebut hanya bisa nangis sehingga dengan inisiatif Noah langsung menggendong anak kecil itu dan membawanya ke dalam.
Ratih yang mendapati suaminya menggendong anak kecik menuju sofa mengerutkan keningnya, dia menghampiri suaminya yang sedang menenangkan anak kecil itu.
"Siapa dia mas?" tanya Ratih.
"Aku gak tau, tadi tiba-tiba dia ada di depan pintu dan sedang menangis. Aku khawatir apalagi dia memegangi kakinya terus," terang Noah.
Ratih menduduki dirinya disamping anak kecil itu, dia mengelus lembut rambut anak tersebut.
"Sayang, orang tuamu kemana nak?" tanya Ratih.
Anak itu tak menjawab, dia menyerahkan sebuah kertas pada Ratih yang sedari tadi dia genggam.
Ratih mencoba mengambilnya, dia membacanya dan seketika raut wajahnya menjadi terkejut
"Tega sekali dia," lirih Ratih.
"Kenapa?" heran Noah.
"Dia memberi putrinya pada kita, karena katanya dia sudah tidak mampu lagi merawat dan akan pergi untuk karirnya. Dia juga berkata jika dia tidak mau menitipkan anaknya ke panti, jika kita tak mau merawatnya dia menyuruh kita menyerahkan pada ayah kandungnya. Tapi disini tak ditulis siapa ayah kandungnya," jelas Ratih.
Noah terkejut, dia menarik kertas itu dan membacanya. Seketika raut wajahnya berubah menjadi datar, dia mengepalkan kertas itu dan menatap tajam ke depan.
"Benar-benar ibu tak berhati! dia tega sekali membuang anaknya kesini," geram Noah.
"Hiks ... hiks ... aku mau papah aku mau papah," isak anak itu.
"Siapa papahmu sayang? biar kita antar kan," ucap Ratih.
Anak itu kembali menggeleng, dia masih terisak bahkan kini nafasnya sudah tak beraturan.
"Apa kita harus menghubungi polisi mas?" tanya Ratih.
"Jangan, jika kita melapor ke polisi. Anak ini akan di bawa oleh mereka, jika tak menemukan dimana keberadaan orang tuanya ... Bisa jadi anak ini akan masuk panti asuhan, kasihan dia," ujar Noah.
"Jadi kita harus apa mas?" bingung Ratih.
"Mas! apa sebaiknya kita merawatnya saja sampai kita bertemu dengan papahnya bagaimana? kita jadinya anak ini menjadi anak kita?" ujar Ratih.
Noah mengangguk, benar apa yang di katakan istrinya. Sepertinya anak itu bisa menjadi anak mereka, dan menghibur kesedihan istrinya.
"Boleh, dan oh ya siapa namamu nak?" tanya Noah.
Anak tersebut menggeleng yang mana membuat Noah paham. Dia menatap istrinya dan kemudian dia berucap.
"Clara, namamu Clara Emmerson. Putri pertama Noah Emmerson," ujar Noah dengan lantang.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.