
Tengah malam, Lia terbangun dari tidurnya. Dia mengedarkan pandangan dan melihat sahabatnya masih pada tidur.
Tepat kemarin Lia dan lainnya pulang, sedangkan Mesya di masih harus di rawat.
"Haus," lirih Lia.
Lia turun dari ranjangnya, dia mencari air minum tapi semua telah habis. Terpaksa dia harus mencarinya ke dapur akademi.
Lia memakai jaket, setelah itu dia keluar sambil memakai tudung jaketnya karena saat ini dirinya tak memakai soflens.
Sesampainya di dapur, Lia langsung mengisi air ke dalam botol hingga penuh. Setelah selesai dia berbalik dan terkejut melihat sosok seseorang..
"AAAA! HMMPPPHH,"
Lia berteriak, lalu orang itu menutup mulutnya dan membawanya pergi dari sana.
"Lepas! lepas! kamu sia ... kak Ezra!" seru Lia.
Ezra masih mengawasi sekitar, setelah itu dia kembali menatap Lia. Betapa terkejutnya dia melihat warna mata Lia yang kini berwarna hijau.
"Indah," gumam Ezra.
Lia yang tersadar akan segera menutup matanya, tetapi Ezra menghalangi nya dan tersenyum menatapnya.
"Jangan, seperti ini indah," ujar Ezra.
Lia mengangguk, dia akan segera pergi. Namun Ezra menahannya.
"Mau kemana?" tanya Ezra.
Lia menatap Ezra gugup, dia menggaruk pipinya sehingga Ezra menghentikan garukannya.
"Jangan di garuk, kamu mau kemana? tidur aja di kamarku yuk!" ajak Ezra.
Belum juga Lia menjawab tetapi Ezra menarik tangannya memasuki kamar Ezra, bahkan kini Ezra telah menguncinya.
"Nanti ada yang tahu," cicit Lia.
"Gak usah takut sih ay, kita bukan lagi jalanin hubungan gelap. Orang kita udah nikah ini," ujar Ezra.
Ezra menarik Lia menuju ranjang, dia menyuruh Lia untuk tidur. Sementara dirinya membuka baju karena kebiasaannya tidur tanpa baju.
Ezra menoleh menatap Lia yang sedang terdiam, dia mendekati Lia dan mengelus pipi istrinya.
"Ada apa?" tanya Ezra.
Lia menggeleng, dia mengambil guling Ezra dan memeluknya.
Ezra ikut membaringkan tubuhnya di belakang Lia, dia mematikan lampu dan setelah itu dia memeluk pinggang ramping istrinya.
Selang beberapa menit, mereka belum juga tertidur. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Lia lebih dulu membalikkan tubuhnya, dia menatap Ezra yang ternyata masih belum memejamkan mata.
"Kak," panggil Lia.
Ezra menunduk, dia mengangkat satu alisnya seakan bertanya ada apa?
"Kakak gak pernah ....," gugup Lia.
"Gak pernah apa?" heran Ezra.
"Itu loh ... kan biasanya abis nikah itu ...," cicit Lia.
Ezra menyeringai, dia mengerti apa yang Lia maksud. Namun, dia ingin mendengar langsung dari wanita ini.
"Itu apa? aku gak ngerti," jahil Ezra.
"Ish! malam pertama! puas!" kesal Lia.
Ezra terkekeh, dia mencubit pipi Lia yang terlihat merah karena malu.
"Aku gak bakal lakuin itu sebelum kamu siap," ujar Ezra.
"Kalau aku sudah siap?" tanya Lia.
"Kau menantangku?" seringai Ezra.
Lia meneguk ludahnya kasar, dia sedikit menjauhkan dirinya ketika Ezra mendekatkan wajahnya.
"Ti-tidak! a-akukan cu-cuma bertanya!" gugup Lia.
"Sebutlah kapan kau siap," ucap Ezra.
"Atau ... mau sekarang? biar utunnya jadi baby perang?" saran Ezra sambil menaik turunkan alisnya.
Pipi Lia memanas, dia memegangi pipinya. Sementara Ezra sudah tertawa.
"Hahaha, sudahlah. Lebih baik kau tidur, sebelum aku tidak bisa menahannya," ujar Ezra.
Lia menatap Ezra yang menutup matanya, dia memilin tangannya dan mengingat apa yang sahabatnya katakan pagi tadi.
Flashback off.
"Eh Lia, gue mau nanya nih. Sorry, ini agak privasi. Lu sama Ezra udah ...,"
"BELUM!" sewot Lia sambil menatap tajam Ica.
"Yaelah, ngegas amat neng. Hati-hati loh, kata ibu-ibu mah Kalo laki di anggurin, bisa kepincut sama janda kembang," ujar Ica.
"GAK! GUE GAK MAU!" teriak Lia.
Flashback off.
Lia menepuk pipi Ezra, sehingga pria itu melenguh pelan.
"Apa ay? tidur, aku ngantuk," serak Ezra.
Lia tak merespon ucapan Ezra, sehingga dengan terpaksa Ezra membuka matanya.
"Kenapa ay?" heran Ezra.
"Aku siap?" ucap Lia.
Ezra mengerutkan keningnya, dia menyalakan lampu dan menatap Lia.
"Siap apa?" bingung Ezra.
"Ish! siap itu loh!" greget Lia.
"Apa sih?" bingung Ezra.
Lia menduduki dirinya, dia membisikkan sesuatu pada Ezra sehingga kini wajah pria itu terlihat terkejut.
"Jangan bercanda ay, udah ah ... ayo tidur," ujar Ezra dan kembali mematikan lampu.
Omongan Ica semakin memenuhi pikirannya, dia bertanya-tanya mengapa Ezra menolak. Apakah Ezra telah kepincut janda kembang?
"Tidur ay," titah Ezra.
Lia tetap diam yang mana membuat Ezra menghela nafas kasar.
Dia kembali menyalakan lampu dan terkejut ketika melihat Lia menangis. Ezra menduduki dirinya dan mencoba bertanya.
"Kok nangis ay?" bingung ezra.
"Kamu gak normal ... apa kepincut janda kembang hah?!" isak Lia.
Ezra sungguh frustasi dengan keinginan istrinya, dia mengacak rambutnya kasar dan kembali menatap Lia.
"Ay, aku gak mau buat kamu takut. Aku gak mau maksa kamu, aku mau itu dari hati kamu sendiri memberi diri kamu seutuhnya untuk aku. Memangnya kamu kira aku gak frustasi nahannya? aku juga pria normal ay! bujuk Ezra.
"Yaudah ayo!" isak Lia.
Ezra menghela nafasnya, dia menangkup pipi Lia yang basah karena air mata.
"Serius? kamu gak bakal nyesel setelah ini?" tanya Ezra.
Lia menggeleng, dan itu membuat Ezra tersenyum.
"Okay, aku bakal turuti kemauan kamu. Tapi jangan nyesel," ujar Ezra.
Ezra menatap Lia, sementara tangannya terulur mematikan lampu.
Setelah itu, terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Mungkin akan ada baby perang pertama di keluarga Elvish.
***
Frans tengah berada di kamar mandi, dia sedari tadi muntah-muntah yang mana membuat sang mamah khawatir.
"Masuk angin kali kamu Frans, apalagi perjalanan dari Belanda ke Indonesia itu gak sebentar loh." ujar Ane sambil memijat tengkuk anaknya.
Frans membasuh wajahnya, dia melihat dirinya lewat cermin.
"Gak mungkin gue cuma sakit biasa, soalnya gue mulai mengalami hal aneh akhir-akhir ini."
"Frans!" sentak Ane.
"Mah, aku ingin istirahat," ujar Frans.
Ane mengangguk, dia membantu Frans berjalan menuju ranjang putranya. Terlihat Geo sedang menunggu mereka sambil bermain ponsel.
"Sudah muntahnya?" tanya Geo.
Frans mengangguk dia merebahkan dirinya, setelah itu memejamkan matanya menikmati sakit perut yang melandanya.
"Kamu sakit apa sih Frans?" khawatir Ane.
"Gak tau mah, aku mual setiap ngeliat benda bulat sama minyak wangi aroma mint," lirih Frans.
Geo menghela nafasnya, Ane keluar sementara dirinya ingin mengintrogasi Frans.
"Jawab papah, ngehamilin anak siapa kamu?" tanya Geo sambil menatap Frans tajam.
Frans yang tadi memejamkan matanya seketika terbuka lebar, dia menatap papahnya yang menatapnya tajam.
"Jangan ngawur deh pah!" elak Frans
"Kamu ini bukan masuk angin, tapi ngidam! dulu waktu mamah kandungmu hamil kamu papah yang ngalamin, jadi papah tau kalau kamu pasti jajan di luar kan!" sentak Geo.
Frans terdiam, dia teringat Aqila yang sedang hamil. Apakah itu benar anaknya? apakah Aqila tidak berbohong padanya? lagi pula dia yang merenggut mahkotanya bukan?
"Aku gak jajan di luar pah! jangan aneh-aneh deh! udah sana papah keluar aku mau istirahat," pinta Frans.
Geo akhirnya terpaksa keluar melihat kondisi anak yang tak memungkinkan.
"Gue harus cari tahu," gumam Geo.
**JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.
(⚠Tidak ada unsur adegan dewasanya yah untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan**)