Dark Memory

Dark Memory
Alasan Frans



"Ay, dimana memory card nya?"


Lia mengerutkan keningnya, dia berusaha memikirkan dimana dia meletakkannya.


"Aku lupa kak, itu udah lama banget," ujar Lia.


Ezra melemaskan bahunya, dia kembali menaruh kamera itu dan menghampiri istrinya.


"Kamu kenapa kak?" tanya Lia saat Ezra memeluknya dan menjatuhkan kepalanya di pundak Lia.


"Capek," lirih Ezra


"Yaudah, istirahat yuk!" ajak Lia.


"Capek pikiran," lirih Ezra.


Lia terdiam, dia tak tahu apa yang terjadi dengan Ezra. Suaminya merupakan orang yang paling tertutup, semua masalahnya dia selesaikan sendiri tanpa berkata apapun padanya. Padahal Lia sangat ingin dia menjadi tempat berbagi bagi Ezra.


"Kamu mikirin apa?" tanya Lia sembari mengelus rambut hitam suaminya.


Ezra tak menjawab, dia malah memasukkan wajahnya pada ceruk leher Lia.


"AY! JAWAB DULU IHHH!" kesal Lia.


Ezra menegakkan tubuhnya, dia menatap Lia sambil tersenyum.


"Kamu manggil aku apa?" tanya Ezra.


"Kak?" jawab Lia.


"Bukan tadi kamu panggil aku ay, bagus ... aku suka panggilan itu dari pada kakak," ujar Ezra.


Lia mengangguk pasrah, membantah Ezra sama saja dengan menghabiskan energinya.


"Yasudah, aku nanya ... kamu kepikiran apa?" tanya Lia.


"Tidak apa," sahut ERa.


"Kak, aku ini istri kakak. Aku mau kakak berbagi semua keluh kesah kakak, bukan hanya mejadikan aku pajangan aja," kesal Lia.


Ezra terdiam? pikirannya sedang berperang, apakah dia harus memberitahukan ini pada Lia?


"Yasudah jika kakak tidak mau, aku paham posisiku," ujar Lia.


Lia akan bangkit berdiri, tetapi Ezra menahan lengannya dan menatap Lia.


"Aku akan menjelaskan semuanya," ujar Ezra.


"Aku tak memaksa, jika kakak tidak mau aku ...,"


"Aku mencurigai ibu kandungku masih hidup, aku menemukan kamera yang ...,"


Ezra menceritakan semuanya pada Lia, sementara Lia mendengarnya dengan seksama.


"Boleh aku lihat foto ibumu?" tanya Lia.


Ezra mengangguk, dia mengeluarkan dompetnya dan ternyata disana ada foto ibu Ezra.


"Dia ibuku." ucap Ezra sambil memberikan foto tersebut.


Lia mengamati dengan teliti, dia merasa tak asing dengan wanita ini walau hanya berbeda versi.


Tak lama Lia membulatkan matanya, dia menepuk paha Ezra berkali-kali.


"Ini ... ini wanita yang waktu itu tak sengaja aku menabraknya," seru Lia.


Ezra kaget, dia memegang pundak Lia dan menatap Lia dengan penuh harapan.


"Dimana? dimana kau menabraknya?" tanya Ezra dengan wajah bahagianya


"Di rumah sakit Mesya dirawat, saat itu aku menabraknya dan dia menanyakan namaku. Tapi kau keburu memanggilku," terang Lia.


Ezra ingat, kala itu ada seorang wanita yang membelakanginya dan sedang berbicara pada istrinya.


"Apa kita harus kembali ke rumah sakit itu lagi kak?" tanya Lia.


"Tidak, kita tidak bisa kesana karena akan menimbulkan kecurigaan papah dan daddy. Apalagi kita baru saja pulang," tolak Ezra.


Lia mengangguk, dia melihat kotak P3K yang belum dia bereskan. Segera Lia membereskannya sementara Ezra mengistirahatkan dirinya.


"Aku harus cari ke mana lagi?" lirih Ezra.


Lia tak tega melihat Ezra, dua segera keluar kamar menuju gudang untuk mencari mainan lamanya siapa tahu memory card terselip di antara mainannya.


"Lia, kau mau kemana?" tanya Lio yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Aku mau ke gudang," jawab Lia setelah membalikkan badannya.


"Untuk apa?" bingung Lio.


"Aku mencari memory card yang ada di kamera lamamu, apakah masih kau simpan? aku ingin mencarinya ke gudang, siapa tahu masih ada disana," ujar Lia.


Lio tampak berpikir, sedetik kemudian dia menggeleng yang mana membuat Lia kecewa.


"Aku sudah memberimu memory itu, bukan? jadi aku tidak tau dimana sekarang, apalagi dulu kau suka menyembunyikan barang," ujar Lio.


Lia berdecak kesal, dia kembali berjalan menuju gudang.


Frans tengah berkutat dengan berkas kantornya, selain mafia dirinya juga merupakan CEO.


Cklek!


Frans terkejut, dia menatap tajam orang yang baru saja memasuki ruangannya.


"Kau! buat apa kau disini?!" sentak Frans.


"Waw, santailah anak muda. Paman mu ini hanya mengunjungi keponakannya, apa itu salah?" ujar pria paruh baya itu sambil mendekati Frans.


Frans berdiri, nafasnya kini kian memburu ketika melihat Pria tersebut.


"KELUAR DARI RUANGANKU SEKARANG!!!" teriak Frans sambil menunjuk pintu keluar.


Pria paruh baya itu terkekeh, doa tak menghiraukan ucapan Frans. Malah sekarang dia duduk di depan meja Frans.


"Aku kesini untuk membahas sesuatu untukmu," ujarnya.


"Aku tak peduli! mau kau mencari janda bolong disini aku tak kan peduli, yang aku pedulikan mengusir hama dari kantorku dan itu KAU!" kesal Frans.


"Hahaha, bercanda mu sangat lucu. hais ... lupakan, aku kesini ingin menunjukkan ini,"


Frans mengerutkan keningnya ketika melihat foto sorang perempuan yang berada di depan ruang dokter kandungan.


"Aqila? KAU MEMBUNTUTINYA HAH?!" sentak Frans.


"Hahahah kau sudah tau, yah ... aku membuntutinya sampai kau menyerahkan mafiamu padaku," ujar pria paruh baya tersebut.


"Aku tidak akan menyerahkannya, lagi pula Aqila bukan siapa-siapaku. Dia hanya mantan seperti mantan-mantan ku sebelumnya Daniel George, om tersayangku," tekan Frans.


Daniel George, merupakan adik dari Geo. Tapi sayang, kekuasaan membuatnya buta hingga dirinya sangat terobsesi dengan mafia yang dimiliki sang kakak.


"Lebih baik anda keluar sebelum aku memanggil polisi kesini! ingat Daniel, kau masih menjadi buronan!" sentak Frans.


Daniel segera bangkit dari duduknya, dia langsung keluar dari ruangan Frans.


Sedangkan Frans mengontrol nafasnya yang naik-turun akibat emosi, dirinya menatap foto Aqila.


"Ini yang aku takutkan, kau akan terancam jika terus bersamaku," lirih Frans.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!"


Seorang pria masuk, dia adalah Fernando putra yang merupakan asisten pribadi Frans.


"Maaf tuan, kenapa anda tak menangkap paman anda? bukankah nyawa anda terancam jika dia masih berkeliaran?" tanya Nando dengan bingung.


"Kau mau mati konyol hah? kau kira dia kesini tak memiliki persiapan apapun? ayolah ... dia adalah mafia bukan preman jalanan," kesal Frans.


Nando menggaruk tengkuknya, dia lupa akan fakta itu.


"Lebih baik kau buatkan aku kopi," titah Frans.


"Baik tuan," sahut Nando dan berbalik menuju pintu.


"Tunggu!"


Nando menghentikan langkahnya, dia membalikkan badan dan menatap heran Frans.


"Ingat, jangan di aduk biar saya yang aduk," ujar Frans.


Nando mengangguk, dia akan berbalik. Tapi, lagi dan lagi Frans menghentikannya.


"Jangan pakai cangkir yang bulat," pinta Frans.


"Kan semua cangkir bulat tuan?" bingung Nando.


"Cari yang Kotak, pokoknya saya tidak mau tahu," ujar Frans.


Nando menggaruk kepalanya, dia harus mencari kemana cangkir kotak sekarang?


"Tuan aneh banget, kayak orang ngidam," gerutu Nando.


"Gak usah banyak omong, oh ya satu lagi ... jika ada karyawan yang memiliki rambut botak harap segera memakai topi atau apapun untuk menutupi rambut botaknya," titah Frans.


Nando lagi-lagi di buat melongo, entah mengapa tuanya sangat menginginkan hal itu.


"Ka-kalau boleh tau kenapa ya tuan?"


"Banyak tanya kamu! saya mual ngeliatnya, PUAS!"


"HAH?!"


_____________


Sorry, kemarin mau up 5. Tapi sore-sore tiba-tiba magh ku kambuh🤧, jadi cuma sanggup 4. Next time, aku usahakan crazy up lebih banyak lagi🥰🥰🥰😘.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.