
Pagi mendatang, namun matahari masih malu-malu untuk muncul. Lia telah berada di asramanya saat jam 3 tadi, setelah apa yang dia lakukan dengan Ezra dirinya memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan ditemani oleh Ezra.
"LIA!" teriak Viola.
Lia yang merasa terusik tidurnya terbangun, dia kembali mengeratkan kembali selimutnya dan membalikkan badannya.
"LIA! CEPET BANGUN!" teriak Viola.
Lia terkejut, dia segera duduk dan menatap Viola dengan wajah bantalnya.
"Apaan sih! gue ngantuk!" sentak Lia.
"Udah pagi Lia! cepet bersiap, jam 7 nanti ada perkumpulan!" sentak Viola dan menarik Lia turun dari ranjang.
Lia yang terkejut akhirnya menurut, dirinya kini berdiri.
"Cepet ke kamar mandi, kita semua udah siap tinggal lu doang!" ujar Viola.
Lia mengangguk, dia melangkahkan kakinya. Namun, langkahnya terhenti sambil meringis.
"Shhhsss,"
Viola dan Ica panik melihat Lia yang menghentikan langkahnya dan memegang perutnya.
"Kenapa? perut lu sakit?" tanya Ica
Lia mengangguk, dia menggerutu nama Ezra dalam hati karena menyebabkan ia seperti ini.
"Gak gue gak papa," lirih Lia.
Lia kembali berjalan dengan perlahan, cara berjalannya membuat Ica dan Viola bingung.
"Tuh anak abis lari maraton apa abis sunat? kok jalannya lebar begitu?" bisik Ica.
Viola mencerna ucapan Ica, dirinya teringat saat jam 3 pagi tadi. Dia terbangun dan melihat Lia yang memasuki kamar Ezra. Memang belakangan ini Ezra selalu menyuruh Lia untuk ke kamarnya sehingga Viola jadi sedikit curiga.
"Tadi si Lia tuh baru dari luar, sekitaran jam 3. Gue denger suara bang Ezra, apa mungkin ...,"
PLAK!
"Awsh!" ringis Viola saat Ica memukul kepalanya.
"Pikiran lu kotor banget anj!" sentak Ica.
PLAK!
"Mulutnya minta di cabein yah mbak!" ujar Villa sehabis melakukan hal yang sama dengan Ica.
Mereka menunggu Lia keluar, tak lama Lia keluar dengan rambut basah. Dan hal itu membuat Ica serta Viola saling tatap dan menyeringai.
Lia yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk terheran dengan Ica dan Viola yang saling berbisik.
"Kalian kenapa?" bingung Lia.
Ica dan Viola berubah santai, mereka menatap Lia dengan senyum misterius.
"Berapa ronde Li?" tanya Viola.
"Ronde apa? gue kan gak latihan lari?" bingung Lia.
"Gimana Li rasanya?" tanya Ica.
"Apa sih? maksudnya kalian aaa ...," sontak saja Lia tak melanjutkan ucapannya. Dia menutup wajahnya dan menjatuhkan tubuhnya di ranjangnya sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
Viola dan Ica tertawa, mereka tahu apa yang di lakukan Lia dan Ezra. Mereka paham, mengapa jalan Lia seperti itu.
"Baiklah, istirahatlah. Kami akan mengizinkanmu, gak mungkin bang Ezra tak mengizinkannya. Kan dia yang buat lu kayak gini," ujar Viola.
Lia hanya diam di dalam selimut, sehingga Viola dan Ica memutuskan untuk pergi dari kamar dan tak lupa menutup pintunya.
Viola dan Ica mencari Ezra, netra mereka mendapati Ezra yang sedang berlatih senjata. Mereka meringis pelan melihat otot lengan Ezra yang memang terlihat karena pria itu tak memakai bajunya.
"Ototnya aja segede itu, pantes aja Lia ampe begitu jalannya," gumam Ica.
Viola segera menutup mata Ica, dia menjauhkan Ica dari sana.
"Ish! apaan sih lu!" kesal Ica.
"Haram liat suami orang!" ujar Viola sambil menarik tangannya.
"Yaelah, kalau gak di liatin mubadzir. Jadi buang-buang rejeki, ya gak?" ujar Ica yang membuat Viola memutar bola matanya malas dan meninggalkan Ica.
"Dosa dodol!" ujar Viola dan pergi dari sana.
"E-eh! Viola! tungguin gue!"
"Bang!" bisik Viola.
Ezra berdehem, dia masih fokus dengan senapannya. Yang mana membuat Viola geram.
"Bang! ih! di panggil juga!" kesal Viola.
"Apa sih? ganggu aja!" sinis Ezra sambil menatap adiknya itu.
"Dih, gini-gini gue kesini buat izinin bini lu," gerutu Viola.
Ezra yang kembali fokus pada senapannya seketika terhenti saat Viola menyebut kata bini. Ezra langsung menarik Viola pergi ke tepi lapangan.
"Giliran gue sebut bini aja, gercep banget!" kesal Viola.
"Lia kenapa?" to the point Ezra.
Viola memicingkan matanya, dia sungguh kesal dengan abangnya yang sudah terlewat bucin.
"Sakit! makanya kalau main jangan kasar-kasar, kasian anak orang!" sentak Viola.
Ezra mengerutkan keningnya, apakah adiknya tau apa yang mereka lakukan?
"Kenapa? kaget gue tahu? jelas lah! istri lu jalan kayak orang abis sunatan tau gak!" ujar Viola.
"Terus gimana? masih susah jalan?" tanya Ezra dengan raut khawatirnya.
"Masih lah! makanya gue kesini buat izinin Lia ke abang!" terang Viola dan beranjak dari hadapan Ezra yang tengah khawatir.
Ezra berniat akan menghampiri Lia, tetapi langkahnya terhenti ketika teringat ini bukanlah mansion mereka.
"Argh! kayaknya akhir pekan gue harus selesein pengajuan pengunduran," gumam Ezra.
***
"Ravin mau kemana sayang?" tanya Amora dengan lembut pada Ravin yang menggendong tasnya.
"Lavin mau kabul aja hiks! mommy cama daddy udah nda cayang Lavin!" isak Ravin sambil menjauhi Amora.
"Mommy sama daddy sayang Ravin, makanya daddy bawa singanya grandpa balik ke asalnya," bujuk Amora.
Ravin tetap melangkahkan kakinya menuju pintu utama mansion. Namun suara bariton Alden membuat Ravin menghentikan langkahnya.
"TUTUP PINTU MANSION!" titah Alden.
Seketika bodyguard menutup pintu mansion, sementara Ravin mencak-mencak kesal sembari menangis.
"Huaaaa ... huaaaa! Lavin mau kabul! tenapa di tutup!" isak Ravin.
Alden yang sedang menggendong Cia hanya menatap datar Ravin, sebenarnya dia ingin tertawa. Namun dirinya harus tegas dengan sang putra.
"Kabur kok bilang-bilang? kalau mau kabur Lewat jendela, kok malah pintu utama. Kaburnya gak pro kamu!"
Bukan Alden yang ngomong melainkan Laskar yang baru saja keluar dari kamarnya. Tepat di sebelahnya berdiri Aurora yang menatap sang adik.
"Hiks ... hiks ... telsela Lavin dong! yang mau kabul Lavin, tenapa citu yang cewot cih!" isak Ravin.
Aurora menghela nafasnya, dia mendekati sang adik dan berusaha menggendongnya.
"Udah yah, bagaimana kalau Ravin sama kakak belanja ke supermarket?" bujuk Aurora.
Seketika Ravin menghentikan tangisannya, bahkan kini mimik wajahnya kembali normal.
"Beli kindel joy?" tanya Ravin.
Aurora mengangguk, kemudian dia terkekeh melihat Ravin yang menghapus air katanya dengan tangan gempalnya.
"Cia mau duga! Cia mau duga!" seru cia.
Aurora menoleh, dia mengangguk dan tersenyum. Ravin turun dari gendongan Aurora, dia mendekati Alden dan meminta Cia.
"Daddy, tulunin Ciana! kita mau pelgi!" ujar Ravin.
"Ganti baju dulu sama mommy, terus cuci muka. Ingus Ravin beleber kemana-mana tuh," titah Alden.
Ravin melihat bajunya, benar bajunya basah karena ingusnya. Dia segera mendekati sang mommy dan meminta untuk di gantikan baju.
"Mommy! ayo tepet ganti baju!" seru Ravin.
"Iya-iya! ayo," ujar Amora dan menarik lengan Ravin dengan lembut.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.