
"Sakit yah Li?" ringis Viola ketika melihat sikut Lia yang lagi di tangani oleh dokter.
"SAKIT LAH! LU KIRA GAK SAKIT APA?!" sentak Lia.
Viola dan Ica menutup telinga mereka, suara Lia membuat telinga mereka sakit.
"Yaudah sih Li, paling gara-gara kepentok bangku besi doang. Lagian juga tadi susternya udah minta maaf kan kalau dia gak sengaja," ringis Ica.
"Ck! bisa-bisanya tu brankar jalan sendiri, gimana sih nih rumah sakit! kemajuan teknologinya keterlaluan," gerutu Lia.
Flashback on.
"LIA!"
"Awshhh ... sakit," lirih Lia.
"Maaf ... maaf, mbaknya gak papa?" panik seorang suster yang baru saja datang.
"Gak papa gimana! temen gue ketabrak brankar! bukan ketabrak kertas!" sarkas Viola.
Ica membantu Lia bangun, sementara Noah langsung menyingkirkan brankar itu.
"Sebaiknya kalian bawa Lia ke ruang pengobatan, kasian sikutnya sampai berdarah begitu," ujar Noah.
Ica dan Viola mengangguk, mereka membantu Lia bangun dan mengantarkannya untuk mengobati luka Lia.
Flashback off.
"Lagian gue heran, kenapa tu brankar bisa jalan sendiri," gumam Ica.
"Emang di kira kita lagi syuting film horor apa?!" kesal Viola.
Lia telah selesai di obati, dia melihat tangannya yang terbalut perban.
"Tangan mulus gue," gumam Lia.
"Yaelah Li, lukanya juga dari sikut ke lengan. Gak terlalu keliatan lah," ujar Vioala.
Lia menatap Viola dengan tajam, sedetik kemudian dia menyadari jika ponselnya tak ada bersamanya.
"Eh, ponsel gue mana?" bingung Lia.
Viola dan ica menggeleng, mereka tidak tau di mana ponsel Lia.
"Mungkin jatuh di dekat ruang oprasi tadi, gue cari dulu," ujar Viola.
Akhirnya Ica hanya menunggu Lia yang sedang merebahkan dirinya kembali.
"Masih sakit yah?" tanya Ica.
"Gak sih, cukan gue ngantuk aja," jawab Lia.
Ica mengangguk, dia melihat ke arah pintu dan menemukan Lio yang sedang masuk.
"Lio? lu ngapain disini?" sewot Ica.
"Jenguk paus! ya jenguk kembaran gue lah! tadi daddy bilang kalau terjadi sesuatu sama Lia maka dari itu gue kesini buat pastiin keadaannya. Bahkan tadinya semua keluarga mau kesini tapi gue tahan karena gue mau ngecek keadaan Lia dulu," ujar Lio.
Lio mendekati brankar Lia, dia melihat luka Lia yang di perban.
"Kenapa lu?" tanya Lio.
"Ketabrak brankar," jawab Lia.
"HAHAHAHA, baru kali ini gue dapet berita seorang wanita di rawat di rumah sakit karena tertabrak brankar!" kekeh Lio.
Lia mendengus sebal, tak lama Viola masuk sambil memegang ponsel Lia.
"Li, ponsel lu mati," ujar Viola.
"Kok bisa?! kenapa gak langsung di kuburin?" heboh Lia.
"Ck! lu kalau mau bercanda yang niat napa!" kesal Viola sambil memberikan ponsel Lia.
Lia menerimanya, dia menepuk ponselnya dan mengerucutkan bibirnya.
"Yah ... mungkin karena jatuh tadi," lirih Lia.
"Oh iya, Mesya gimana? udah di pindah ke ruang rawat?" tanya Lia.
"Sudah, tapi tenang karena ada dua dokter yang berjaga. Mudah-mudahan kondisi nya membaik, jendral besar juga temenin dia disana," ujar Viola.
Lio yang merasa dirinya pria sendiri akhirnya menjauh, dia duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Lu tau gak Li, gara-gara kehebohan lu tadi ... daddy telpon Ezra suruh dia pulang!" kata Lio.
Lia terkejut, dia meminta ponsel pada Viola untuk menghubungi suaminya.
"Vi, pinjam ponsel buat hubungin kak Ezra," ujar Lia.
Viola memberikannya, segera Lia menelpon Ezra. Tetapi saat ponsel tersebut baru saja menempel di telinganya, netranya mendapati Ezra yang susah berdiri di ambang pintu dengan raut khawatir nya.
Seketika Lio, Viola dan Ica menoleh. Mereka terkejut melihat Ezra yang berada di sana dengan penampilan acak-acakan.
"Ay! kamu gak papa kan? mana yang sakit? apa kita harus berobat ke luar negri? apa aku harus bawa dokter terbaik?" tanya Ezra saat sudah sampai di samping istrinya.
Lia masih melongo tak percaya, bahkan dia tak berkedip ketika mendengar apa yang Ezra ucapkan.
Lia menduduki dirinya, dia menyingkirkan tangan Ezra dari bahunya.
"Kak, aku ke tabrak ...,"
"ketabrak apa hah? mobil? truk? atau apa? bilang aku biar aku cari o ...,"
"DIEM DULU BISA GAK!" bentak Lia yang mana membuat mereka terkejut.
"Ehm .. Li ... kita keluar dulu, ayo Ca," ujar Viola.
Viola tahu jika sehabis ini pasti ada drama, dia malas menonton drama yang di buat abangnya nanti. Sementara Lio, dia tadinya tidak mau keluar. Tapi, Viola menatapnya tajam. Sehingga dirinya terpaksa ikut keluar.
Lia menormalkan nafasnya yang memburu, dia menatap Ezra yang terdiam setelah dirinya membentaknya.
"Sini, duduk samping aku ... biar aku ceritain," bujuk Lia.
Ezra masih diam, dengan inisiatif Lia pun menarik lengan Ezra untuk menuruti permintaannya.
"Duduk dulu, nanti aku ceritain!" pinta Lia.
Ezra akhirnya menurut, dia duduk di tepi brankar Lia dan menatap dingin perempuan itu.
"Maaf udah bentak kamu tadi, abisnya aku kesel kamu gak dengerin omongan aku dulu," ujar Lia.
"Aku gak papa, tadi cuma ketabrak brankar. Kayaknya tadi gak sengaja ke dorong jadi kena aku," lanjut Lia.
"Kok di rawat?" tanya Ezra yang sedari tadi diam.
"Gak di rawat, cuman kita sewa kamar ini buat nginap. Sepertinya kita gak bisa pulang karena harus menunggu perkembangan Mesya," ujar Lia.
Ezra mengangguk, dia menatap tangan Lia yang di perban. Tangannya terulur untuk menyentuh luka itu.
Lia menatap apa yang di lakukan Ezra, dia terkekeh ketika melihat Ezra mengelus lukanya dan meniupnya pelan.
"Kenapa kamu tiup?" kekeh Lia.
"Biar sembuh," ujar Ezra.
Ezra menatap pintu yang masih terbuka, dia segera beranjak dari duduknya dan mendekati pintu tersebut.
Lia mengerutkan keningnya bingung, dia tak mengerti mengapa Ezra menutup pintu bahkan menguncinya. Memangnya ada apa?
"Kenapa di tutup kak?" bingung Lia.
"Gak papa," kata Ezra dengan singkat dan kembali mendekati brankar Lia.
Ezra menggendong tubuh Lia agar lebih geser ke samping, setelah itu dia menidurkan dirinya di sebelah Lia.
"Kakak ngapain sih? kok tiduran disini?" bingung Lia.
"Kamu tidur gih, aku kelonin," ujar Ezra.
"Dih! emangnya aku bayi!" ucap Lia tak terima.
Melihat respon Lia membuat Ezra harus turun tangan, terpaksa dia yang merebahkan Lia walau perempuan itu memekik histeris.
"KAKAK IH!"
"Tidur ay, udah malem," ujar Ezra.
"Malem dari mana! masih jam tujuh sore!" kesal Lia.
"Mau tidur, apa aku lempar?" tanya Ezra dengan wajah datarnya.
Lia meneguk lidahnya kasar, akhirnya dia menurut tidur di sebelah Ezra berbantal lengan pria itu. Dia tidur dengan menghadap suaminya itu karena tangan kirinya yang di perban.
"Kak ...," cicit Lia.
"Hm ...,"
"Buka bajunya!" ujar Lia yang mana membuat Ezra menatapnya heran.
"Jangan sekarang ay minta jatahnya, masih di rumah sakit ini!" ujar Ezra.
Lia mendelik, dia mencubit perut Ezra yang mena membuat Ezra meringis.
"baju kakak bau asep rokok!" kesal Lia yang mana membuat Ezra mendengus kesal.
Berbeda dengan Viola, Ica dan Lio yang berada di depan ruangan Lia.
"Hah dikunci?! dasar ******!" gerutu Viola saat menyadari pintu tersebut di kunci Ezra.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.