Dark Memory

Dark Memory
Siapa Heri bagi Mesya?



Hari ini Ezra sudah siap untuk berangkat, dia sudah izin dengan jendral besar untuk pergi ke suatu tempat mengurus hal penting.


"Viola, tolong panggilkan Lia," ujar Ezra yang kini berada di asrama istrinya.


Viola melirik sinis abangnya itu, tapi tak urung dia memanggil Lia yang kini sedang berada di kamar mandi.


"Lia! cepet keluar! ada yang cariin lu nih!" panggil Viola.


"IYA! SEBENTAR!" ngegas Lia.


Viola menghela nafasnya, dia menutup pintu takut anggota lain tau jika Ezra mendatangi kamar mereka.


Cklek!


Lia keluar, tampaknya wanita itu baru saja selesai mencuri terlihat dari baju kaosnya yang basah.


"Ada apa sih manggil-mang ...," Lia tak jadi melanjutkan katanya ketika melihat Ezra yang sedang menatap dirinya.


"Ada apa? ngapain kesini?" ketus Lia sambil melipat tangannya di depan dada.


Ezra tak menjawab, dia hanya mendekati istrinya dan memeluknya erat. Berkali-kali pria itu mengecup kening Lia sampai-sampai membuat Lia terheran.


"Kamu kenapa sih?" heran Lia dan memaksa melepas pelukan mereka.


"Aku mau pergi, kamu jaga diri baik-baik yah," ujar Ezra.


Lia dan Viola terkejut, bahkan kini Lia sudah mengerucutkan bibirnya.


"Kemana? ngapain? nikah lagi?" tanya Lia dengan beruntun.


Ezra tersenyum, dia mengelus pipi Lia yang tampak lebih chubby dari biasanya.


"Gak lama, cuma seminggu. Aku cuma pergi ke luar kota, lagian buat apa cari istri baru? istri aku aja udah cantik begini. Kalau nikah lagi, aku kurang bersyukur dong," bujuk Ezra.


Lia yang mendengarnya langsung memeluk Ezra dengan erat, berbeda dengan Viola yang seperti merasa ingin muntah saat mendengar perkataan abangnya.


"Hati-hati Lia, laki-laki lain di mulut lain juga di hati. Awas, ciri-ciri playboy kalengan tuh," ujar Viola memanas-manasi Lia.


Lia mendongakkan kepalanya menatap Ezra yang tengah menatap Viola dengan kesal.


"Bener?" tanya Lia.


"Gak ay, mau cari istri lagi gimana? kan aku udah tanda tangan perjanjian sama daddy kamu," ucap Ezra dan menatap istri kecilnya itu.


Lia percaya dia melepaskan pelukannya dan menatap Ezra dengan sendu. Dirinya tak rela jika Ezra harus pergi, padahal sebelumnya dirinya tak masalah di tinggal bertahun-tahun.


"Hati-hati, jaga kesehatan. Jangan sampai sakit, jangan jajan sembarangan jangan ...,"


"Pftt hahahaha, jajan sembarangan gimana nih maksudnya Li?" ledek Viola.


Lia mengerutkan keningnya, bukankah jajan sembarangan yang di maksud yang bisa merusak kesehatan?


"Ya kan jajanan ...,"


"Udah gak usah di dengerin, dia lagi stres," sela Ezra.


Ezra mencium kening, kedua pipi, dan hidung kancung Lia. Sementara Lia tertegun dengan sikap Ezra terhadap dirinya.


Cup!


Kali ini berbeda, Ezra mengecup bibir istrinya yang mana membuat Viola memekik histeris.


"AAAAA, MATA SUCI GUEEEE! GAK TAU TEMPAT LU ******!" histeris Viola.


Sementara Lia hanya terdiam, dia memegangi bibirnya yang tadi di kecup oleh suaminya.


Ezra tersenyum tipis, dia mengusap bibir cherry itu pelan, dan tak menyadari jika jantung Lia berdegup sangat kencang.


"Kak ...," cicit Lia.


"Hm," sahut Ezra.


"Lagi ... boleh?" pinta Lia yang mana membuat Viola dan Ezra sangat kaget.


***


"Hahahah iya, lucu banget. Gue sampe ketawa terus," ujar Ica.


Dertt!


Dertt!


Dertt!


"Eh bentar-bentar, bokap gue nelpon," ujar Ica pada Mesya dan mengangkat telponnya.


"Halo papahku sayang, masih inget punya anak disini? kirain lupa," sindir Ica.


"Maaf sayang, papah sibuk. Bagaimana kabarmu?"


"Hahahaha, bagaimana pun juga dia abangmu,"


Ica menghela nafasnya, dia menatap Mesya yang juga sedang asik bermain ponsel.


"Oh iya, pertunangan abang kan bentar lagi. Papah pasti ke sini kan buat jenguk aku?" tanya Ica.


Ica mengerutkan keningnya ketika mendengar helaan nafas berat dari sang papah.


"Maaf Ica, sepertinya abangmu tidak jadi bertunangan. Tiba-tiba saja dia memutus pertunangannya,"


"APA?!" kaget Ica.


"Pah, bukankah wanita itu yang paling di cintai abang? kok dia mutusin gitu aja sih? bukannya undangan juga sudah di sebar? emang dasar tuh orang yah ... bener-bener otaknya geser!" gerutu Ica.


"Malahan dia kembali ke belanda untuk mengurus mafia kita yang ada disana. Papah minta, kamu tolong bujuk abangmu. Mamah sampai sakit karena kecewa, kamu tau kan kalau mamahmu sangat sayang pada Aqila calon kakak iparmu?"


Raisa Queen Gevonac adalah nama lengkap Ica, dia merupakan adik dari Frans. DIrinya terpaksa mengikuti militer lantaran sang abang yang menginginkan dirinya menjadi pemimpin mafia yang tidak dia sukai.


"Baik pah, aku akan membujuk abang," ujar Ica.


"Yasudah, kamu baik-baik disana," ujar Geo.


Ica mengangguk setelah itu sambungan mereka terputus.


Ica kembali menatap Mesya, wanita itu bahkan kini tengah serius menatap ponselnya entah apa yang dia lihat.


"HAYOO! LIHAT APA TU!" teriak Ica yang mana membuat Mesya terkejut dan menjatuhkan ponselnya.


Ica menatap ponsel Mesya, dia terkejut ketika melihat layar ponsel temannya itu.


"Heri?" bingung Ica dan mengambil ponsel Mesya.


Sedangkan Mesya gugup, dia seperti tertangkap basah oleh temannya itu.


"Lu ... dari tadi lu ngeliatin foto Heri?" ujar Ica sambil menyodorkan ponsel Mesya.


"I...itu ... itu ...,"


"Lu punya hubungan apa sama Heri Sya?" curiga Ica.


Mesya mengambil ponselnya, dia langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan langsung pergi meninggalkan Ica.


"MESYA!"


"MESYA!"


Ica berusaha mengejar Mesya, langkahnya semakin cepat mengejar Mesya menghiraukan tatapan para anggota yang menatapnya heran.


"Mesya! tunggu Sya!" ujar Ica saat dapat menarik tangan Mesya.


"Lu harus jawab! punya hubungan apa lu sama Heri?" tanya Ica sambil menatap tajam ke arah Mesya yang berusaha menyembunyikan semuanya.


Mesya terdiam, dia membuang wajahnya dan tak berani menatap Ica.


"Jawab gue! punya hubungan apa lu sama Heri?" geram Ica.


Mesya bingung, bagaimana dia menjelaskan semuanya pada Ica. Rahasia yang selama ini dia tersimpan rapat akhirnya akan terkuak juga?


"Dia ...,"


"Dia apa?! jangan setengah-setengah dong kalau ngomong! gregetan gue!" kesal Ica.


"Sabar napa! lu maksa banget sih! ini juga mau di jelasin!" jengah Mesya.


Ica melepaskan tangannya dari tangan Mesya, dia menatap Mesya dengan tangan yang dia lipat di depan dada.


"Jadi Heri itu ... mantan gue," cicit Mesya.


"HA ... APA? gue gak denger!" tanya Ica sambil mendekatkan telinganya.


"HERI MANTAN GUE! PUAS LO!" teriak Mesya yang mana mengundang perhatian semua anggota pada mereka.


Mesya menatap sekeliling, dia malu dengan apa yang dia katakan.


"Hahaha bercanda! bercanda!" gurau Mesya.


Anggota lain pun kembali melakukan aktifitas mereka, sehingga kini Mesya kembali menatap Ica yang memegangi dadanya.


"Kenapa lu?" heran Mesya.


"Jadi ... lu dan Heri tidak di satukan oleh takdir dan di bedakan dengan alam?" sendu Ica.


"Lu kasihan ama gue ... apa mau ngelawak hah?!"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.