Dark Memory

Dark Memory
Salahna Lavin dimana?



Pagi ini Amora mendapat kabar jika ternyata Lia hanya terluka kecil dia bersyukur atas itu, dan juga Mesya ternyata masa kritis nya telah berlalu dan kini sedang proses pemulihan.


"Mommy," panggil Laskar yang baru saja keluar dari lift.


"Ya sayang," sahut Amora.


"Aku ingin menginap di tempat om Arsel, Arvan mengajakku bermain." ucap Laskar sambil menghampiri sang mommy.


Amora tampak berpikri, sebenarnya dia tak mau anaknya selalu menginap di rumah Arsel. Sebab setelah pulang Laskar selalu mendapat pembelajaran baru yang tak berfaedah dari Arsel adiknya.


"Gak usah nginep yah," bujuk Amora.


"Ayolah mom, hanya sehari saja," rengek Laskar.


Amora akhirnya mengangguk pasrah, dia juga kasihan dengan putranya itu.


"Yasudah, hati-hati. Minta pak Aben mengantarmu," ujar Amora.


Laskar mengangguk, dia memeluk singkat sang mommy dan pergi keluar dari mansion. Sementara Amora menghela nafasnya dan pergi ke dapur untuk membuat susu untuk putra dan putrinya.


Sedangkan di kamar, Alden tampak masih tidur dengan Ravin dan juga Cia. Mereka tidur dengan posisi yang aneh dimana Ravin tidur di atas badan Alden dan Cia yang memeluk kaki Alden.


"Eunghh," lenguh Alden.


Alden mengerjapkan matanya, tubuhnya terasa sangat berat. Kelopak matanya terbuka sempurna dan betapa kagetnya dia melihat Ravin yang tidur di atasnya.


"Ravin ... dek, bangun hey!" ujar Alden sambil menepuk pipi sang anak.


Ravin melenguh, dia terbangun dan menangis. Benar saja, Alden langsung menyingkirkan sang anak dan memanggil sang istri.


"SAYANG! SAYANG!" teriak Alden


Ravin akan menangis jika dia terbangun dan tak melihat Amora yang berada di sebelahnya, walaupun ada Alden tetapi Ravin lebih dekat dengan Amora.


Cklek!


"Kenapa mas teriak-teriak?" tanya Amora yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Tu, anak kamu. Nangis dia ngeliat gak ada kamu disini," ucap Alden.


"Ck! buatnya aja semangat, giliran rewel anak kamu nih," ledek Amora.


Alden menggaruk belakang lehernya, sementara Amora langsung menggendong sang anak yang masih menangis.


"Udah nangisnya, nanti Cia bangun. kasihan tuh dia," bujuk Amora.


Ravin menghentikan tangisannya, dia menyandarkan kepalanya pada dada sang mommy.


"Cucu mommy, cucu," linta Ravin.


"Iya susu, sekarang Ravin mandi dulu. Baru abis itu minum susu," ujar Amora dan membawa anaknya ke kamar mandi.


Sementara Alden melihat Cia, dia terkekeh gemas melihat Cia yang sangat erat memeluk kakinya.


"Bisa-bisanya kaki gue di sangka guling, Cia ... Cia. Eh, tumben nih anak tidur disini. Biasanya juga di kamar Rora," ujar Alden.


Alden menatap jam, ternyata masih jam tujuh kurang. Dia ingin bangun dari kasur, tapi Cia memeluk erat kakinya.


"Nanti kalau ni anak bangun terus nangis, gue juga yang salah," gumam Alden.


Tak lama Amora keluar dari kamar mandi dengan sang putra yang berada di gendongannya.


"Mas, mandi gih. Aku mau bangunin Cia dulu," pinta Amora.


Alden mengangguk, dia berusaha melepaskan lilitan tangan Cia pada kakinya. Setelah terlepas dia bangkit dari ranjang dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


"Enghhh," lenguh cia.


"Cia sayang, bangun yuk!" ajak Amora.


Cia menduduki dirinya, matanya masih belum terbuka tetapi anak itu sudah mengangguk.


"Cudah banun mommy," lirih Cia.


Amora terkekeh, dia kemudian mengambilkan Ravin baju dan popok. Biasanya tidak pakai, tapi entah mengapa hari ini Amora ingin memakaikannya.


"Mommy, tenapa pakai popok? Lavin nda mau!" tolak Ravin.


"Ravin mau main ke taman kan? lebih pada kebelet pipis, terus ngompol. Di liatin orang banyak, malu lohh," bujuk Amora.


"Iya kah? tapi nanti Lavin lali ke lumah," kekeh Ravin.


"Nanti keburu pipis di jalan, udah nurut aja napa sih!" kesal Amora.


Ravin mengerucutkan bibirnya sebal, dia berdiri ketika Amora memasangkan popok padanya.


"Masukin kakinya," pinta AMora.


"Cucah mommy!" kesal Ravin.


Ravin mendengus kesal, dia mengangkat kakinya dan memakai popoknya.


"Bialin, badan Lavin demuk daddy bangga. Jadina olang-olang bilang daddy kacil Lavin makan enak,"


"Diam, ngomong masih acak-acakan begitu so-soan bilang begitu," kesal Amora.


Sementara Cia dia kembali tertidur, dirinya sangat mengantuk pagi ini.


"Haaa ... sudah," ujar Amora.


Amora mengambil bedak, dia menaburkan bedak itu pada tangannya dan menepuknya di wajah Ravin.


"Cudah mommy! cudah!" rengek Ravin.


"Nah, ginikan ganteng!" seru Amora.


Kini wajah Ravin cemong karena bedak, dia hanya menatap melas ke arah sang mommy.


"Temong ini mommy! tayak nyi lolo!" rengek Ravin ketika melihat pantulan dirinya di cermin rias Amora.


"Biarin! biar orang tau kamu udah mandi," ucap Amora.


Alden keluar dari kamar mandi, dia hanya memakai handuk sebatas pinggangnya dan mendekat pada istrinya.


"Loh, muka Ravin kenapa kayak badut tepi ancol?" tanya Alden.


Amora melirik sinis Alden, dia kesal dengan suaminya yang memancing Ravin untuk menangis.


"Hiks ... hiks ... badut ... mutana jadi badut!" isak Ravin.


Amora menatap Ravin, setelah itu dia beralih menatap Cia.


"Kamu tenangin Ravin, aku mau mandiin Cia! rasakan!" kesal Amora dan mendekati Cia.


Alden membulatkan matanya, dia tak mau menenangkan Ravin yang sangat sulit di tenangkan.


"Ayo Cia sayang, mandi yuk!" ujar Amora sambil membawa Cia ke gendongannya.


Sekarang tinggallah Alden yang memeprhatikan Ravin terisak, bahkan bedak itu sudah luntur dari wajahnya.


Alden menatap sekitar, dia menemukan benda yang dapat membuat Ravin terdiam.


"Ravin mau jadi keren gak?" tanya Alden.


Ravin mengangguk, dia menatap sang daddy yang berjalan ke meja rias sang mommy.


"Nih, ini namanya alat buat penambah keren. Nah, ini Ravin bisa coret di mana aja," ucap Alden setelah kembali mendekati Ravin.


Ravin mengerutkan keningnya, dia mengambil benda itu dan menatapnya.


"Ini el lenel mommy ... nda ah! nanti mommy malah," tolak Ravin dan memberikannya kembali pada Alden.


Alden bingung, bagaimana anaknya tahu nama benda itu. Padahal dirinya tidak tahu dan hanya mengandalkan filingnya.


"Gak papa, nanti mommy daddy beliin lagi. Ravin main itu aja yah, daddy mau pakai baju," ujar Alden dan melangkah memasuki ruang berganti pakaian.


Ravin menatap benda itu, dia menaruhnya di nakas sambil bergidik ngeri.


"Nda ah, Lavin tulun aja. Kalo main itu nanti di malahi mommy," gumam Ravin.


Ravin turun dari tempat tidur, dia berjalan menuju pintu dan berusaha membukanya.


"Paman, antelin Lavin tulun yah. Lavin nda campe pencet bulat-bulatnya," pinta Ravin pada salah satu bodyguard yang berjaga di depan lift.


Bodyguard tersebut mengerutkan keningnya, dia tak mengerti apa bulat-bulat yang di maksud Ravin.


"Maaf tuan kecil, maksudnya gimana yah? bulat-bulat apa maksudnya?" bingungnya.


"Ish! macak gitu aja nda tau, cini! Lavin tunjukin!" ujar Ravin dan menarik tangan bodyguard itu memasuki lift.


"Itu tuh! bulat-bulat itu!" tunjuk Ravin pada banyaknya tombol.


Bodyguard tersebut tampak kikuk, dia bingung dengan ucapan bocah berumur 3 tahun itu.


"Ini namanya tombol tuan kecil, bukan bulat-bulat," ujar bodyguard tersebut


"Bentukna apa?" tanya Ravin sambil menaruh kedua tangannya di pinggang.


"Bulat," jawab bodyguard dengan bingung.


"Telus ... salahna Lavin dimana?"


"E-eehh?" kagetnya.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.