
Aurora menggandeng tangan Ravin, sementara Laskar menggendong Cia. Mereka memasuki supermarket dengan satu bodyguard yang mengikuti mereka.
"Ravin jangan jauh dari kakak, nanti hilang terus di culik daddy gak bakal mau nebus," ancam Aurora.
Ravin mengangguk, dia membawa keranjang kecil dan mulai mencari makanannya.
Aurora setia melihat adiknya, dan terkadang dirinya mengambil cimilan untuk dirinya sendiri.
"Kak, Lavin mau kindel joy boleh?" tanya Ravin sambil menatap Aurora.
"Boleh, tapi cuma dua yah. Nanti di omelin mommy," jawab Aurora.
"Kok dua? tadikan kakak di kacih kaltu hitamna daddy! nda boleh pelit ih!" ujar Ravin.
"Siapa yang pelit? kau itu tidak boleh banyak memakan manis, ingat ... nanti mommy marah," ujar Aurora.
Ravin mengerucutkan bibirnya sebal, dia akhirnya terpaksa mengambil dua dan menatap Aurora dengan sinis.
"Cuma beli dua, kaltu hitam dadi nda ada altina!" gerutu Ravin.
Aurora terkekeh, dirinya teringat jika tadi sang mommy menitipkan pesan untuk membeli susu kotak Ravin. Memang di mansion selalu tersedia susu kotak rasa pisang kesukaan Ravin dan strawberry untuk Cia, tapi stok di kulkas lagi habis maka dari itu Amora menitipkan pada Aurora.
"Ravin, ayo ikut kakak. Kita ambil susu kotak Ravin," ujar Aurora dan menarik lengan Ravin.
Mereka menuju tempat susu, netra Aurora sibuk mencari susu tersebut hingga tak sadar dia menyenggol seseorang hingga barang yang di bawa wanita itu jatuh.
"E-eh ... maaf-maaf, saya gak sengaja." ujar Aurora dan memungut susu ibu hamil yang memang ada 3 kotak.
Aurora kembali berdiri, dia memberikan susu kotak itu dan menatap wanita tersebut dengan senyum manisnya.
"Gak papa kok, kalau begitu saya permisi," ujar wanita itu.
Aurora terdiam, dia menatap punggung wanita itu yang sudah menjauh.
"Kayak gak asing sama wajahnya ... tapi siapa yah?" gumam Aurora.
"Kakak! Lavin mau itu!" seru Ravin sambil menunjuk sebuah benda.
Aurora menoleh, dia Akhirnya mendekati Ravin yang menunjuk benda yang ia mau.
"Pacifier? kan Ravin punya di rumah sayang, lagi pula daddy udah beliin Ravin yang sangat mahal," ujar Aurora.
"Tapi Lavin mauna yang ini! ada kumicnya! lutu!" kekeh Ravin.
"Hais ... yasudah, ambil. Nanti kalau di omelin daddy, kakak gak tanggung jawab," ujar Aurora.
"Iya, beli ini nda bakal buat daddy bangklut!" seru Ravin sambil mengambil benda yang dia mau.
Setengah jam kemudian, mereka telah selesai berbelanja. Belanjaan mereka pun tak terlalu banyak sehingga Ravin dan Cia membawa belanjaan mereka sendiri.
"Eh bang, tadi Rora nabrak orang. Tapi wajahnya kayak gak asing tapi Rora lupa," bisik Aurora.
"Siapa?" bingung Laskar.
"Gak tau ... tapi tuh wajahnya kayak kakak Aqila anaknya om Gio yang waktu bulan lalu main ke mansion," bisik Aurora.
"Kenapa kau berbisik sih?" bingung Laskar.
Aurora menoleh ke sana dan kemari, dia menarik Laskar agar lebih mendekatinya.
"Tapi bedanya, dia beli susu hamil. Bukannya kak Aqila belum nikah yah? juga kan katanya baru mau tunangan?" bisik Aurora.
Laskar menghentikan langkahnya, dia bertanya pada Aurora seakan bertanya.
"Benarkah? apa kau sudah yakin jika itu kak Qila?" ragu Laskar.
"Benar! coba aku cari di akun sosialnya," ucap Rora.
Laskar hanya menatap Aurora yang sedang sibuk mengotak-atik ponselnya.
"Nah kan! ingatanku tajam pada wajah seseorang bang, lihat ini." ujar Aurora sambil memberikan ponselnya pada Laskar.
"Wanita ini yang tadi kamu lihat?" tanya Laskar.
"Iya, dia. Tapi ... kenapa dia beli susu hamil?" bingung Aurora.
Laskar menaikkan bahunya acuh, dia menyerahkan ponsel itu kembali pada Aurora.
"Hais ... jangan berpikir negatif, siapa tahu ada temannya yang nitip ke dia," ujar Laskar.
"Hellow! ini jaman 2022, banyak aplikasi ojek online Atau mall online. Jadi gak perlu nitip ke orang kayak tahun-tahun lalu!" kesal Auroa.
Laskar menaikkan bahunya acuh, dia kembali menatap depan dan terkejut ketika tidak melihat kedua adiknya.
"Loh ... Cia? Ravin? kemana mereka?" bingung Laskar.
Sedangkan dua bocah itu kini berada di depan mansion, mereka duduk di trotoar sambil memakan jajanan mereka.
"Enakkan? janan bilang daddy kalo Lavin beli pelmen banak!" ujar Ravin..
"Iya, soalnya ini enak," ujar Cia.
"Maaf tuan kecil, nona kecil. Nanti kalau kakak kalian cari gimana?" tanya bodyguard yang memang mengikuti kedua bocah itu karena itulah prioritasnya.
"Paman diem deh, abisnya kakak lama. Ya kita tindal!" ujar Ravin.
Ravin asik makan, begitu pula dengan Cia. Mereka tak menghiraukan Aurora dan Laskar kelimpungan mencari dua bocah itu.
"OH ... BAGUUUS, KEDUA KAKAK KALIAN MENCARI KALIAN HINGGA MENELPON DADDY. TERNYATA KALIAN DISINI HM ...,"
Ravin dan Cia yang sedang makan eskrim sontak terdiam kaku, suara bariton itu membuat bulu tangan mereka merinding.
Ravin dan Cia menoleh, es krim yang mereka pegang terjatuh ketika melihat sang daddy yang menatap mereka dengan wajah memerah.
"Da ... daddy ...," cicit Ravin.
"Bagus ... mommy sampai pingsan saat kakak kalian telpon jika kalian hilang, tapi daddy ingat jika daddy mempunyai anak yang nakal!" geram Alden.
Tak kama terlihat Aurora dan Laskar yang berlari ke arah mereka, sontak ketika melihat Ravin mereka langsung memarahinya.
"Ravin! kalau kemana-mana bilang kakak! kita panik nyariin kalian!" marah Aurora.
Ravin berdiri, dia mendekati daddynya dengan kepala tertunduk begitu pula dengan Cia.
"Maaf daddy," seru keduanya.
Cia menyenggol tangan Ravin untuk meminta maaf juga dengan Aurora, tetapi bocah itu menggeleng tidak mau.
"Ish! Lavin gak mau Cia! meleka aja yang otakna nda di pake, olang Lavin cama paman jaga kok malah di cali,"
"Lavin!" kesal Cia.
"Apa? Lavin benalkan?"
Mereka hanya menatap perdebatan dua bocil itu dengan wajah bingung.
"Nda boleh begitu! nanti kak Lola cedih," ucap Cia.
"Cedih kalna nda ada otakna?" tanya Ravin dengan wajah lugunya.
BUGH!
Sangking kesalnya Cia mendorong Ravin hingga anak itu terjatuh, Ravin menatap Cia nyalang.
"Tenapa Cia dolong Lavin?!" sewot Ravin.
"Kok datuh cih? kan citu punya kaki dua?" ujar Cia sambil bersedekap dada.
Ravin bangun sambil menatap tajam Cia, tangannya terkepal dengan wajah yang sedikit di majukan.
"Cia bukan besflen Lavin! hmphh!" ujar Ravin setelah itu membuang wajahnya.
"Dali awal Cia kan emang bukan besflen Lavin," sahut Cia.
Ravin terdiam, bibirnya melengkung ke bawah yang menandakan dia akan menangis.
"Hiks ... hiks ... huaaaaaa!"
Alden panik, dia akan menggendong anaknya. Tetapi sudah terlebih dulu dengan Amora yang ternyata sudah sadar dari pingsannya.
"Sayang, kamu udah sadar?" heran Alden.
Amora mendelik ke arah Alden, dia berusaha menenangkan sang anak tanpa melepas pandangan dari Alden.
"Aku salah apa lagi?" bingung Alden.
"KAMU ITU KALAU KASIH INFORMASI YANG JELAS DONG! RAVIN SAMA CIA ILANG KOK KAMU NGOMONGNYA DI CULIK, GIMANA AKU GAK PINGSAN?!" kesal Amora.
Mereka semua melongo mendengar teriakan Amora, tatapan mereka tertuju pada Alden yang meringis.
"Maaf yang, panik tadi aku. Anak-anak kita kan limited, kalau Ravin sama Cia hilang otomatis di culik dong ... hehe," ringis Alden.
__________________
Halo kakak semua, aku mau kinta saran nih. Cover Dark memory ada yang sama dengan lain. Jadi ... aku ingin mengganitinya dengan ...
Bagaimana menurut kalian? komen yah😁😄