
"Jadi papah dan mamah sudah ke mansion Wesley? ternyata Alden berhasil membawa Aqila begitu?"
Keluarga Gevonac telah membicarakan tentang apa yang terjadi tadi, sehingga Frans merasa geram apalagi Geo beritahu kepadanya jika Alden membawa Aqila ke mansion Wesley.
"Kenapa kalian tak membawanya pulang hah?!" sentak Frans yang kesal karena Geo dan Ane tak menjawabnya.
"Kau kira Aqila siapa mu huh? kita punya hak apa membawa dia pulang?" tanya Geo yang langsung menampar Frans dengan kenyataan.
"Iya yah ... Frans lupa belum nikahin Qila," gumam Frans.
Geo memutar bola matanya malas, dia menepuk kedua pahanya dan menunjuk Frans sambil menatap istrinya.
"Lihat? kau lihat seberapa bodohnya putramu itu? dia berkuliah di kampus terkenal dan mendapat lulusan terbaik, tapi soal percintaan otaknya sangat dangkal!" kesal Geo.
Ica terkekeh, begitu pula dengan Ane. Walau di situasi tegang seperti ini, mereka berusaha untuk tidak terbawa situasi.
"Terus Frans nikah sama Qila nya kapan pah?" tanya Frans dengan wajah memelas.
Geo menganga tak percaya, ada apa dengan anaknya ini? mengapa menjadi orang yang tak pernah sekolah sama sekali.
"Abang tuh polos apa beg0 sih? pertanyaannya kayak anak sd tau gak!" kesal Ica.
"Gak usah ikut campur kau kerdil!" kesal Geo.
"Hei ... sudahlah, sekarang yang terpenting Frans kau tanggung jawabkan perbuatanmu," ujar Ane menengahi perdebatan mereka.
Frans mengangguk, tapi sedetik Kemudian dirinya teringat dengan masalah Ane dengan Ezra.
"Lalu bagaimana masalah antara mamah dan putra kandung mamah itu?" tanya Frans.
"Mamah akan memberikannya waktu untuk menerima semuanya, dia pasti akan sangat kecewa. Untuk itu lebih baik mamah memberikan Ezra waktu untuk menerima semuanya," ujar Ane dengan sendu.
Geo merangkul istrinya, dia mengelus punggung istrinya guna menyemangatinya.
"Frans, mamah pernah disakiti akibat kebohongan. Jadi ... jangan sekali-kali kamu menyembunyikan sesuatu pada istrimu kelak, walau itu hanya makan siang bersama klien apalagi perempuan. Kau harus berbicara pada istrimu karena pernikahan harus di landasi dengan saling percaya dan menjaga kepercayaan. Tanpa itu, rumah tangga tak akan bertahan lama," nasehat Ane.
Frans mengangguk, Ane adalah segalanya setelah mamah kandungnya. Dia sangat menyayangi Ane selayaknya ibu kandung karena semenjak Ane dayang kehidupannya, adiknya dan sang daddy berubah menjadi lebih berwarna.
"Mah," panggil Frans.
"Apa?" sahut Ane.
"Frans sekarang harus apa? kalau kesana Frans ngapain?" tanya Frans.
Ane memejamkan matanya, dia sungguh gemas dengan putranya ini.
"MANCING LELE!!! YA TANGGUNG JAWAB LAH ASEEEPPP!" teriak Ane sambil membuka kembali matanya.
Frans menggaruk tengkuknya yang rak gatal, dia tertawa sumbang sementara Geo menenangkan Ane yang mengatur nafasnya yang naik turun.
Berbeda dengan Ica yang tertawa keras bahkan tangannya sudah menunjuk meja akibat terlalu lucunya.
"HAHAHAHA, OTAK LU GESREK SEMENJAK PUNYA ANAK YAH?"
"RAISAAAA!"
***
Amora dan Alden tengah memantau Lia, sudah pertengahan malam tapi Lia belum tidur juga.
"Lia nya udah tidur mas?" tanya Amora pada Alden yang ada di ambang pintu.
Alden menempelkan telunjuk pada bibirnya, dia mengisyaratkan untuk diam pada istrinya.
"Lagi di ambang mimpi," bisik Alden.
Amora mengangguk, dia menjauh ketika Alden menariknya keluar.
"Ravin sama Cia udah tidur?" tanya Alden.
"Kamu balik ke kamar, nanti Ravin bangun gak ada kamu bisa nangis dia," bujuk Alden.
"Aku masih mau mantau Lia," khawatir Amora.
"Ada aku, kamu temani Cia dan Ravin tidur. Kasihan mereka," ujar Alden.
Amora mengangguk, dia pasrah lagi pula sudah ada suami dan putranya.
"Yaudah aku masuk kamar dulu yah," pamit Amora yang di balas anggukan oleh Alden.
Setelah melihat istrinya pergi, Alden akan kembali ke kamar Lia. Tapi langkahnya terhenti melihat bodyguard berlari ke arahnya.
"Maaf tuan, tuan Ezra memaksa untuk masuk mansion padahal kami sudah melarangnya. Dan sekarang dia masih menunggu di depan mansion," ujar bodyguard.
"Kan saya sudah bilang, jika dia kesini jangan biarkan dia sampai masuk. Biarin aja dia di depan, gak usah pedulikan dia," ujar Alden.
Bodyguard tersebut menggaruk kepalanya. "Tapi tuan, dia luar hujan ... Kasihan tuan Ezranya,"
Alden diam, jika dia membiarkan Ezra masuk maka dirinya takut beban pikiran putrinya bertambah karena masalah Ezra. Tapi jika tidak, pria itu bisa sakit yang mana membuat putrinya khawatir dan berakhir banyak pikiran.
"Suruh dia masuk, jika sudah keguyur hujan suruh dia ganti baju terlebih dahulu di kamar tamu bawah. Saya tidak mau putri saya terkena virus hujan," titah Alden.
"Ba-baik tuan," jawab bodyguard tersebut.
Bodyguard tersebut berbalik, dia menggaruk pipinya. Dia masih memikirkan ucapan Alden.
"Apa ada virus hujan? kok saya baru denger yah?" gumam bodyguard tersebut.
Sedangkan Alden masuk ke dalam kamar putrinya, dia melihat Lio yang sudah berhasil menidurkan Lia. Kini putrinya sudah tertidur pulas dengan bantal kecil yang berada di belakang pinggangnya karena Lia selau mengeluh pegal pada pinggangnya.
"Sebaiknya kamu tidur, besok juga kamu ke kantor urusi perusahaan cabang. Daddy mau perusahaan itu berkembang dalam beberapa minggu ini," titah Alden.
Lio mengangguk, dia bangun dari duduknya dan meninggalkan kamar Lia. Kini hanya tersisa Alden karena dia akan menunggu kedatangan Ezra.
"Dad,"
Alden menoleh ketika mendengar panggilan itu, dia menatap Ezra yang berada di ambang pintu.
"Masuklah," pinta Alden.
Ezra masuk, netranya tak lepas dari istrinya yang tertidur pulas.
" kau sudah selesai mengurusi masalah keluargamu itu?" tanya Alden.
Ezra mengangguk. "Sudah, Ezra tak ingin lagi mencampuri kebahagiaan mereka. Papah bahagia dengan Kirana, ya ... Ezra bisa juga apa? menyuruh mereka bercerai pun tak akan bisa mengulang waktu. Mau marah dengan mamah kandungku juga tak ada gunanya, hanya sia-sia yang ku dapat," ujar Ezra.
"Tapi kau tahu bukan jika masalahmu akan terbawa walau kau menghindarinya?" tanya Alden.
"Aku tahu, sangat tahu. Maka dari itu aku akan menghapus nama Elvish dari namaku,"
Mendengar jawaban Ezra sontak saja Alden membulatkan matanya, dia menatap Ezra dengan tajam
"Zidan itu ayahmu! ayah kandungmu! kenapa kau memutus hubungan dengannya? awas kamu jadi malin kundang!" ujar Alden.
"Gak dad, aku tak memutus hubungan. Hanya saja bagi papah keluarganya, dan mamah keluarganya. Aku tak bisa memilih salah satu dari mereka untuk lebih ku percayai siapa yang sebenarnya korban di masalah ini. Untuk itu aku lebih memilih netral, aku akan membangun margaku sendiri," ujar Ezra.
Alden mengangguk, dia menepuk tangannya dengan pelan.
"Waw ... ngomong-ngomong siapa nama marga barumu?" tanya Alden.
Ezra menggaruk pelipisnya pelan, dia meringis menatap Alden yang tengah menunggu jawabannya.
"Hehe, belum tau dad," cengir Ezra
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.