
"MASALAHNYA NTU JENDRAL SUAMINYA LIA!" teriak Viola tepat di depan kedua temannya itu.
"APA?!
" Ups ... sorry ... bocor Li ...," ringis Viola.
Mesya dan Ica segera mendekat, sementara Lia menutup wajahnya yang sudah kelewat malu.
"Kalian harus jelasin! pokoknya harus!" paksa Ica.
Viola meringis pelan ketika Lia mengakat wajahnya dan menatap tajam Viola.
"Lia! jelasin gak!" sentak Mesya.
"Huh .... iya ... iya, jadi ...,"
***
Seorang pria berjas hitam, berjalan di lorong mansion.
"King!" panggil seseorang.
Orang yang di panggil king menoleh, dia menatap datar orang tersebut.
"Maaf king, mafia black hold membuat kerusuhan lagi. Mereka berhasil membobol jaringan pemerintahan," ujar orang tersebut.
"Atasi! kirim beberapa pasukan untuk membantu anggota polisi," ujarnya.
"Baik king!" serunya dan pergi dari hadapan pria tersebut.
Saat pria itu berbalik, dia terkejut melihat seseorang yang berada di belakangnya.
"Papah?"
"Oh, jadi kabur kesini rupanya kamu Frans! pulang sekarang juga!" sentak pria itu yang tak lain ada Geo.
Frans, dirinya yang di juluki King. Dia merupakan penerus mafia sang papah yang bernama Ateez.
"Aku tidak akan pulang, aku hanya ingin mengurusi mafia ku disini," terang Frans dan berlalu dari hadapan Geo.
Geo menggeram kesal, dia membalikkan tubuhnya dan menatap Frans dengan tajam.
"APA YANG MEMBUATMU MEMBATALKAN PERTUNANGAN ITU HAH?!" teriak Geo.
Frans menghentikan langkahnya, dia berbalik menatap Geo yang sedang menahan amarahnya.
"Dia bukan wanita yang baik untukku," ujar Frans.
"Apa kurangnya dia? Aqila wanita yang baik, pandai, cerdas dan pintar! bahkan mamahmu yang cuek langsung menyukainya sejak pertama kali melihatnya," kesal Geo.
Frans tertawa sumbang, dia menatap papahnya dengan tangan yang terkepal di sisi tubuhnya.
"Perempuan baik tidak akan rela merendahkan dirinya hanya demi cinta, dia ... dengan suka relanya naik ke ranjangku. Jangan salahkan aku memutus pertunangan itu," terang Frans.
"Apa maksudmu? Aqila bukan wanita seperti itu! jangan kamu samakan dia dengan ibunya Frans!" sentak Geo tak terima.
"Tapi kenyataanya begitu, dia hanyalah j4l4ng persis seperti ibunya," ujar Frans.
Geo melangkahkan kakinya mendekati sang putra, dia langsung memukul wajah sang putra dengan keras.
BUGH!
Tentu saja hal itu mengundang perhatian para anak buah Frans, mereka langsung menodongkan senjata pada Geo.
"Apa hah?! kalian ingin membunuh master kalian?!" sentak Geo.
Para mafioso langsung menurunkan senjata mereka ketika menyadari jika itu adalah Geo, master mereka.
"Papah ingetin sama kamu, jangan kamu menyesal di kemudian hari! seharusnya papah menjodohkan Aqila dengan sepupumu saja itu lebih baik dari pada laki-laki br6ngsek macam dirimu!" sentak Geo dan meninggalkan Frans yang terdiam.
Frans menatap kepergian Geo, dia mengusap pelan sudut bibirnya yang sobek akibat tonjokan keras Geo.
"Kalian kembalilah," pinta Frans.
"Baik king!" seru anak buahnya.
Frans akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar nya, dia merebahkan dirinya pada ranjang yang terdapat di kamar itu.
"Ck, apa yang wanita itu berikan kepada keluargaku sehingga orang tuaku sangat menyayanginya," gerutu Frans.
Berbeda dengan Aqila yang kini sedang tersiksa akibat mual yang melanda dirinya. Bahkan rasanya dirinya tak mampu berdiri jika bukan Elbert yang menopang tubuhnya.
Aqila hanya mengangguk lesu, dengan segera Elbert menggendong kakaknya menuju ranjang. Setelah itu dia ke dapur untuk mengambil Air hangat.
"Minun dulu kak," pinta Elbert dan memberikan air minum itu pada Aqila.
Aqila meminumnya tetapi hanya sedikit, sungguh perutnya sangat mual hari ini.
"Biasanya seperti ini ya kak?" tanya Elbert sambil menaruh gelas tersebut ke atas nakas.
"Iya," lirih Aqila.
"Kak ... ke mansion daddy aja yuk, disana ada mommy yang bakal rawat kakak. Kalau gini terus aku gak tenang kak," bujuk Elbert.
"Aku gak mau mommy kecewa El, aku telah mengecewakan semua keluarga. Aku malu ... aku malu dengan kejahatan mama dulu," lirih Aqila.
"Gak kak, itu kan bukan salah kakak. Kakak hanya korban, mommy dan daddy pasti ngerti kondisi kakak saat ini," bujuk Elbert.
Aqila tetap menggeleng, dia tidak mau kembali menyusahkan keluarga Wesley.
"Haah ... kak, besok aku akan berangkat ke jepang karena urusan bisnis. Aku takut kakak kenapa-napa disini, aku mohon kak," bujuk Elbert kembali.
"Berangkat lah El, kakak gak papa. Besok bakal ada pembantu yang temenin kakak, jadi kamu gak perlu khawatir," lirih Aqila.
Elbert menghela nafasnya kasar, sepertinya Aqila sangat susah di bujuk. Keras kepala Aqila membuat Elbert terpaksa menyetujui keinginan wanita itu.
"Baiklah, jika perlu sesuatu aku harap kakak menghubungiku. Biar aku mengutus anak buah ku untuk menolong kakak," pinta Elbert.
"Baiklah, sekarang pulanglah. Aku takut mereka akan curiga," ujar Aqila.
Elbert mengangguk, dia berpamitan dan keluar dari apartemen Aqila.
Kini, wanita itu tengah menatap sendu langit-langit kamarnya. Cairan bening mengalir dari matanya, hidupnya kini sudah hancur akibat kesalahan satu malam.
"Hiks ... hiks ... apakah ini karma ibuku? kenapa harus aku yang menanggung semuanya?" lirih Aqila.
Tangan Aqila menyentuh perutnya yang masih datar, yang dimana disana tumbuh janinnya. Buah hatinya dengan pria yang membuangnya.
"Frans ... aku pastikan kau tidak akan pernah bertemu dengan anakku sekalipun kamu memohon padaku kecuali jika kamu membayar penderitaan yang aku rasakan saat ini!" lirih Aqila.
Aqila tak meminta harta Frans, dirinya sudah kaya. Tapi, dirinya hanya ingin pertanggung jawaban Frans. Sudah cukup dirinya bertahan di atas tali yang Frans buat, karena sehebat apapun dirinya berjalan diatas tali pasti akan terjatuh juga.
"Kenapa? kenapa kau kau hadir saat ini? apakah kau ingin menjadi penyemangat bundamu hm, baiklah sayang ... mari kita berjuang bersama. Maafkan bunda yang tak bisa membujuk ayahmu untuk bersamamu, tapi bunda janji ... bunda akan menjadi figur seorang ayah untukmu." gumam Aqila sambil mengelus perut datarnya
Tiba-tiba ponsel Aqila berdering, segera Aqila mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
"Ayah? bagaimana ini?" panik Aqila. Apalagi ayahnya itu mem video call dirinya.
Aqila menghela nafasnya pelan, dia menggeser tombol hijau itu dan terlihatlah wajah sang ayah.
"Halo sayang," seru Gio.
"Halo ayah, apa kabar?" tanya Aqila.
"I'm fine, apa kamu baik-baik saja? perasaan ayah belakangan ini gak enak, ayah khawatir dengan keadaan kamu," ujar Gio.
Gio Fandi Lawrance merupakan ayah Aqila, dia menikah dengan wanita bernama Aghata seorang wanita keturunan london. Namun, pernikahannya tak bertahan lama karena ketidak cocokan mereka akhirnya memutuskan bercerai.
"Aku baik-baik saja ayah." ujar Aqila sambil meremas selimutnya karena takut.
"Benarkah? Kenapa wajahmu sangat pucat? ayah khawatir dengan keadaanmu sayang," panik Gio.
"Aku tidak apa-apa ayah, hanya masuk angin saja," bujuk Aqila.
"Baiklah, kalau begitu. Jadi, kapan kamu akan pulang ke London? atau ayah yang ke Jakarta?" tanya Gio yang mana membuat Aqila panik.
"Ja-jangan ayah! aku ... aku akan pulang setelah urusanku disini selesai," jawab Aqila.
Gio nampak mengerutkan keningnya, dia merasa ada yang salah dari putrinya.
"Kamu bohong sama ayah? ayah tau gimana gerak-gerikmu ketika kamu bohong, be honest with dad!"
("Jujur pada ayah!")
Aqila tertegun, dia semakin gelisah apalagi sang ayah menatapnya tajam.
"Apa ini ada hubungannya dengan Frans? apa yang pria itu lakukan terhadapmu Aqila? jawab ayah!"
Deghhh!
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.