Dark Memory

Dark Memory
Permen kapas



"Kak, kita balik lagi ke akademi? hari ini?" tanya Lia.


Pasalnya mereka menikah baru saja seminggu, dan Ezra di minta untuk kembali hari ini juga.


"Iya, kalau kamu gak mau balik lagi ke asrama gak papa. Aku hargai keputusan kamu, tergantung kamu maunya gimana?" jawab Ezra.


Lia tampak berpikir, dia masih ingin berada di akademi. Namun, dirinya tidak ada keinginan untuk menjadi militer. Menurutnya itu sangat membosankan karena sedari kecil dirinya sudah di latih oleh Arthur untuk memegangi senjata dan bela diri. Jadi, dia sudah biasa dengan hal itu. Lia adalah seorang wanita yang sangat menyukai hal baru.


"Saran aku, kamu mending masuk lagi ke asrama. Bulan depan, terserah kamu mau keluar atau nggak. Karena bulan depan aku mengundurkan diri dari jabatan itu, aku ingin fokus pada perusahaan," usul Ezra.


Lia akhirnya mengangguk, dia menyetujui usul Ezra. Lagi pula dirinya tidak ingin di tinggal oleh Ezra, minimal dirinya bisa melihat suaminya.


"Terus tentang pernikahan kita ...,"


"Publik belum tahu, lebih baik di sembunyikan lebih dulu. Perizinan menikah di militer itu panjang urusannya, lebih baik setelah aku keluar baru kita meresmikan pernikahan kita," sela Ezra.


"Benar juga," gumam Lia.


Cklek!


"Abang!" seru Kino sambil berlari menghampiri Ezra yang tengah berbincang dengan Lia di kasur.


"Apa?" tanya Ezra dan mengangkat tubuh adiknya ke pangkuannya.


"Ayuk ke lumah Lavin, Kino mau ketemu Cia," ujar Kino.


Ezra menatap Lia, dia bertanya pada Lia dengan isyarat ada apa dengan adiknya. Ezra kembali menoleh menatap Kino.


"Gak bisa sayang, hari ini abang dan kakak akan balik ke akademi," bujuk Ezra.


Kino melengkungkan bibirnya ke bawah, matanya kini telah terpejam dan bersiap akan menangis.


"Eehh denger dulu abang ...,"


"HUAAAAA!"


Ezra langsung beranjak berdiri, dia menimang-nimang adiknya yang menangis keras sehingga mengundang perhatian Kirana yang sedang memasak.


"Ada apa bang?" tanya Kirana sambil masuk tergesa-gesa ke dalam kamar Ezra.


"Bundaaa hiks ... abang mau balik lagi ke akademina! Kino di tindal lagi huaa," isak Kino dan merentangkan tangannya pada Kirana.


Kirana langsung menggendong putranya, dia menatap sekeliling ternyata benar saja Ezra dan Lia sedang bersiap bahkan koper sudah siap.


"Kalian mau berangkat sekarang? gak nunggu papah pulang dulu?" bujuk Kirana.


"Iya bun, tadi jendral besar nelpon suruh balik. Suruh Viola siap-siap juga kalau mau berangkat bareng," ujar Ezra.


Kirana mengangguk pasrah, tangannya mengelus pipi gembil sang anak yang terdapat air mata.


"Abang mah pelgi telus! tadi bilangna nda belangkat lagi, telus sekalang belangkat lagi! Kino di kacih halapan palcu telus!" gerutu anak itu.


Ezra dan Lia menatap tak percaya Kino, dari mana anak itu tau bahasa seperti itu. Mereka beralih menatap Kirana yang tersenyum canggung.


"Ma-maaf, mungkin dia denger dari sinetron yang bunda tonton," ringis Kirana.


"Hais ... kalau bunda nonton sinetron jangan ada Kino, nanti segala macem dia tiru." pinta Ezra sambil menduduki dirinya di tepi kasur.


"Ya ... ya," ucap Kirana.


Lia mengerutkan keningnya, dia tampak mencium aroma sesuatu.


"Bunda lagi masak?" tanya Lia.


Kirana mengangguk, tetapi sedetik kemudian dia memukul keningnya dan langsung memberikan Kino pada Ezra.


"Astaga! masakan bundaaa!" histeris Kirana dan berlari keluar menuju dapur.


Ezra dan Lia saling tatap, kemudian mereka terkekeh karena kejadian tadi.


"Hei Kino, liat kaka sini," pinta Lia.


Kino melihat Lia, hidung yang memerah disertai pipi yang chubby membuat Lia gemas sendiri. DIa jadi teringat dengan Ravin.


"Kita hanya pergi satu bulan, nanti kita bakal balik pagi kesini dan gak bakal balik lagi kesana. Kak Lia bisa main sepuasnya dengan Kino begitu juga abang," bujuk Lia.


"Hiks ... hiks ... belalti nda balik lagi, bulan depan tindal di cini?" tanya Kino dengan sesenggukan.


"Benel? pelomis?" tanya Kino sambil memberikan kelingkingnya.


"Hm! promise," sambut Lia.


Kino melepaskan tautan jari kelingking mereka, dia menghapus air matanya dengan punggung tangannya.


"Yacudah, cana pelgi," ujar anak itu.


"Kok nadanya kayak ngusir yah?" gumam Ezra sambil menatap Lia yang terkekeh mendengar ucapan Kino.


***


"DADDY!" teriak Ravin sambil mencari Alden ke penjuru mansion. Anak itu terlihat sangat panik entah apa yang terjadi.


"Huh ... huh ... daddy!" panggil kembali Ravin.


Amora keluar dari dapur, dia menatap bingung anaknya yang seperti cacing kepanasan.


"Ada apa dek? kok teriak gitu?" heran Amora.


Ravin menoleh menatap sang mommy, dia segera berlari menghampiri sang mommy.


"Mommy! mommy! huh ... huh ...,"


Amora yang melihat anaknya sulit bernafas segera menggendongnya, dia membawa sang anak ke dapur untuk mengambil minum.


"Minum dulu," titah Amora.


Ravin langsung meminum air putih di dalam gelas itu hingga kandas, dia tampak ngos-ngosan dan menatap sang mommy.


"Mommy ... itu ... itu,"


"Itu apa sayang?" bingung Amora.


"Lavin mau beli pelmen kapas depan pagal, kebulu tukangna pelgi! Lavin mau minta uang cama daddy!" seru Ravin.


Amora menghela nafasnya, dia kira ada apa ternyata sang anak ingin permen kapas.


Amora merogoh sakunya, dia menemukan uang lima puluh ribu dan memberinya ke Ravin.


"Beli dua, satu untuk Ravin dan satu untuk Cia. No beli lagi okay," pinta Amora.


Ravin mengangguk, dia turun dari gendongan sang mommy dan berlari keluar mansion. Uang lima puluh ribu itu dia tempelkan di keningnya yang mana membuat para bodyguard terkekeh.


"Pak talim! bukain gelbangna, cepet!" panik Ravin.


Penjaga gerbang yang bernama salim itu akhirnya membuka gerbang, dia hanya menggelengkan kepala ketika tubuh kecil Ravin berhasil masuk dengan celah pagar yang baru saja sedikit di buka.


Tatapan Ravin berbinar ketika melihat gerobak permen kapas itu, dia segera menghampirinya dan menyerahkan duit lima puluh ribu itu.


"Pak, Lavin mau pelmen kapac na dua yah!" pinta Ravin.


Tapi, penjual tersebut mengerutkan keningnya. Dia melihat wadah gulanya yang sudah habis, dan menatap Ravin dengan tatapan bersalah.


"Maaf dek, gulanya habis. Ini bapak mau pulang, udah siang juga," ujar bapak itu.


Ravin menjatuhkan rahangnya, dia menatap tak percaya pada bapak penjual itu.


"Bapakna boong pacti!" tak terima Ravin.


"Bener dek, masa bapak mau tolak rezeki," ujar bapak itu.


Ravin menatap sendu uangnya, dia menatap sekumpulan anak-anak yang asik memakan permen kapas.


"Yah ... pelmena habis, daddy cih di cali dali tadi nda ada," lirih Ravin.


Namun, bukan Ravin namanya jika bocah kecil itu tak memiliki jalur lain untuk mendapatkan apa yang dia mau.


"Yang abic gulana kan pak?" tanya Ravin dan di balas anggukan oleh bapak penjual tersebut.


"Hm ... Bapak tundu di cini yah, Lavin mau macuk ambil gulana mommy di dapul," ucap anak itu dan berlalu pergi dari hadapan penjual tersebut yang tampak terkejut.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.