Dark Memory

Dark Memory
Ravin dan Cia



Ravin dan Cia tengah bermain di taman, mereka sudah membawa mainan masIng-masing untuk bermain di temani oleh 2 bodyguard.


"Paman di citu aja, nda usah deket-deket, Lavin mau main bukana mau nelampok!" ujar Ravin


Bodyguard tersebut mengangguk, mereka mengawasi Ravin dari jarak yang tidak terlalu jauh.


"Lavin, di citu banyak anak-anak main. Kita kecana yuk!" aja Cia sambil menarik lengan Ravin.


"Dangan ... beda kacta," tolak Ravin.


Cia mengerutkan keningnya, dia menatap Ravin dengan bingung. Mengapa Ravin mempersoalkan kasta? bukankah para anak-anak disini adalah anak orang kaya semua?


"Tapikan nda boleh beda-bedakan olang Lavin, kata kak Heli cemua olang cama," ujar Cia.


"Heli? Helikopter?" bingung Ravin.


"HELIII! KAKAKNA CIA!" teriak Cia dengan nafas memburu.


Ravin menutup telinganya, setelah itu dia mengangguk santai.


"Yacudah, ayo main cama meleka," ujar Ravin.


"Gitu dali tadi kek!" kesal Cia.


Mereka berjalan mendekati para anak-anak yang bermain bola.


"Halo, kita boleh ikut main?" tanya Cia.


Seketika mereka berhenti bermain, mereka menatap Cia dan Ravin dari atas sampe bawah.


"Anak mana?" tanya seorang anak laki-laki berbadan besar.


Ravin dan Cia bingung, sementara yang lain tertawa dengan keluguan dua bocil itu.


"Kalian dari mana?" jengah anak tersebut.


"Dali luma, tuh! lumah Lavin tama Cia di citu!" ujarnya sambil menunjuk pagar mansionnya.


Mereka.melihat mansion Ravin, memang tampak lebih besar dari mansion pada umumnya. Taman ini pun sebenarnya adalah milik keluarga Wesley.


"Oh, anak mami toh," ujar yang lain


"Bukan! Lavin bukan anak mami, tapi anak mommy!" ucap Ravin tak terima.


Seketika gelak tawa memasukin gendang telinga Ravin dan Cia, para anak-anak itu mengelilingi mereka yang mana membuat Cia takut dan memegang lengan Ravin erat.


"Sama aja, udah sana masuk ke dalam kandangmu. Jika kau terluka, maka mommymu akan marah. Lebih baik kau minum susu dan tidur okay," ujar anak berbadan besar.


Ravin menatap tajam, sementara para bodyguard di buat cemas. Mereka ingin menghampiri Ravin, tapi dia takut jika anak itu marah pada mereka.


"Citu belanina ngeledek, badan kayak dentong minyak begitu belagu! belum tau dia Lavin ciapa," ujar Ravin.


"Hahahah, kau berani padaku rupanya?"


"Iya lah, ladian citu ciapa? pleciden butan, mentli butan, altis butan. Kok ya cok-coan!" sinis Ravin.


Anak perempuan berambut pendek menarik tangan Cia hingga terjatuh. Bahkan kini Cia sudah menangis yang mana membuat Ravin mendorong kuat anak itu.


"Cia nda papa?" tanya Ravin sambil membantu Cia bangun.


"Hiks ... hiks ... takut," ujar Cia.


Ravin menatap tajam anak yang terjatuh tadi, dia mendekati anak itu yang sudah bangun dan menatapnya tajam.


"KAU! KAU BERANINYA PADAKU! LIAT SAJA AKU AKAN MEMANGGIL KAKAKKU!" teriak anak itu.


Ravin bersedekap dada, satu kakinya dia majukan dan mengetuknya.


"Gede cekali congol mu Lampe! belum tau lasana mulut citu Lavin dantung!" sarkar Ravin.


Sepertinya lagi-lagi Ravin meniru ucapan dari omnya yang tak lain adalah Arsel.


Anak yang berbadan besar menyentak bahu Ravin, dia menatap Ravin dengan marah.


"Kenapa kamu ngatain temanku lampe, kita gak main kata-kataan dari tadi!" ucapnya tak terima.


"Lavin nda katain, olang emang kenyataana kalau dia lampe. Lambut pendek kok!" bela Ravin.


"KAU!"


Bodyguard yang melihat ada tanda-tanda bahaya segera mendekati Ravin dan Cia, tapi sayang Ravin sudah keburu terpukul oleh anak besar itu dan kini mukanya terdapat lebam.


"LAVIN!" histeris Cia.


Ravin meringis, pipi chubby nya sangat sakit di pukul seperti tadi. Dia berusaha bangun dengan di bantu oleh bodyguard nya.


"KAU! KAU NDA ADA OTAKNA! PIPI LAVIN MAHAL TAU! PELAWATANA MAHAL TAU! GINJAL TAMU NDA BICA BELI PELAWATAN LAVIN!" teriak Ravin.


Salah satu bodyguard menggendong Cia, sementara yang lain menenangkan Ravin yang ingin menerjang anak yang memukulnya.


"Bialin! bialin daddy malah! Lavin nda telima pipi muluc Lavin tena tabok dia! bial Lavin kacih pelajalan cupaya otakna gak gesel!" sentak Ravin dan menarik pakaian anak itu.


Anak tersebut malah terkekeh, tubuhnya yang besar dan tubuh Ravin yang kecil sangat berbanding terbalik


Dengan terpaksa bodyguard tersebut menggendong paksa Ravin dan membawa masuk ke mansion dengan di ikuti oleh temannya yang menggendong Cia.


"HIKS HUAAAA! LEPACIN! LEPACIN!" teriak Ravin saat masuk ke dalam mansion.


Alden dan Amora sedang sibuk makan salak, mereka terkejut melihat Ravin yang menangis kencang.


"Maaf nyonya, tuan. Tadi tuan kecil berantem dengan anak orang," ujar bodyguard dan menurunkan Ravin.


Ravin menerjang tubuh mommynya, dia bukan nangis karena sakit tapi dia nangis karena kesal.


"Kenapa sayang? kok berantem?" tanya Amora dengan lembut


Alden menatap anak buahnya, dia mendekati anak buahnya sambil memakan salaknya yang masih ada di tangan.


"Anak saya kenapa?"


"Tadi ...,"


Bodyguard tersebut menjelaskan secara keseluruhan yang mana membuat Alden menggeram marah. Dia menatap Amora yang tengah menenangkan Cia dan juga Ravin.


"Yang, aku keluar dulu," pamit Alden.


"Dan kalian, ikut saya," titah Alden.


Alden keluar, dia menuju taman itu kembali di temani 2 bodyguard tadi.


"Mana anaknya?" tanya Alden sembari menatap sekumpulan anak yang masih bermain.


"Itu tuan, yang badannya besar itu. Dia yang memukul tuan kecil," ucapnya dan menunjuk ke arah anak tersebut


Alden berjalan dengan masih asik memakan salaknya, dia mendekati anak yang di maksud bodyguard nya.


"EKHM!" batuk Alden.


Seketika semua anak menghentikan aktifitasnya, mereka menatap pria yang berpakaian kemeja putih terbalut rompi warna biru muda serta celana panjang berwarna sama dengan rompi.


"Tadi siapa yang mukulin anak gue? ngaku lu pada!" tanya Alden.


Mereka semua menunjuk anak berbadan besar itu, seketika Alden langsung menatapnya dengan tajam.


"Sini lu!" pinta Alden sambil menyuruhnya mendekat.


Anak tersebut mendekati Alden, dengan berani dia menatap Alden yang telah selesai memakan salaknya.


"Lu di ajarin gak sama orang tua lu, main yah main jangan pakai kekerasan. Kalau lu gak suka sama anak gue ya usir aja." ucap Alden sembari membuang biji salak tersebut.


"Maaf om, abisnya anak omnya ngeselin," ujarnya.


"Etdah buset nih bocah di bilangin juga!" kesal Alden.


Anak tersebut tak menghiraukan tatapan tajam Alden, berapa detik kemudian dia bingung ketika Alden mengeluarkan uang.


"Tau kan pada ini apa?" tanya Alden.


"Uang?" jawab anak-anak dengan bingung.


"Nah itu tau," seru Alden dan kembali memasukkan uang itu ke dalam sakunya.


2 bodyguard menatap satu sama lain, mereka bingung dengan apa yang di maksud Alden.


"Lu liat badan lu, gede kagak?" tanya Alden yang di balas anggukan oleh anak itu.


"Itu lu tau bada lu gede, kenapa malah lawan anak gue yang badannya kecil begitu?" heran Alden.


Tak mendapat jawaban, Alden menghela nafasnya. DIa memijat keningnya dan kembali menatap anak itu.


"Hah ... percuma ngomong sama nih bocah," lirih Alden.


"Yaudah! mana bapak lu? gue mau ketemu sama dia! biar dia ajarin anaknya supaya gak ngelawan yang kecil," ujar Alden dan menarik anak itu.


Anak tersebut menghentikan langkahnya, dia menatap Alden yang tengah menatapnya bingung.


"Kuburannya jauh om," ujar anak tersebut.


"Ngapain ke kuburan? gue mau ketemu bapak lu, bukan mau melayat!" bingung Alden.


"Saya kan yatim om!" kesal anak tersebut.


"HAH?!"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.