Dark Memory

Dark Memory
Ada apa dengan Mesya?



"Mesya, lu kenapa sih dari tadi diem mulu?" heran Viola saat menatap Mesya yang sedang terduduk diam di ranjangnya.


"Gak gue gak papa, gue cuman lelah karena pertempuran kemarin," cicit Mesya.


Viola mengangguk, dia menatap Ica yang sedang mengotak atik sesuatu.


"Lu ngapain Ca?" heran Viola sambil menghampiri Ica yang sedang duduk di bangku meja belajarnya.


"Mata lu rabun hah? gak liat gue lagi ngapain?" sinis Ica.


Viola meringis pelan, tampak nya temannya ini sedang dalam mode senggol bacok.


"Buset dah, gue nanya baik-baik malah ngegas," gumam Viola.


"Lu bisa diam dulu gak sih?!" ujar Ica sambil memutar bola matanya malas


Viola mengerucutkan bibirnya sebal, setelahnya netranya beralih menatap kotak tersebut.


"Itu kan punya Lia, kok lu main buka aja sih?" ucap Viola gak terima.


"Ish! Lia yang minta tolong ama gue, tapi sayangnya ni kotak susah buat di buka. Mau di gergaji takutnya ada barang yang berharga, mana gemboknya susah banget di rusak," terang Ica.


Viola mengambil kotak tersebut, dia mengerutkan keningnya ketika melihat kotak tersebut yang tak asing baginya.


"Sini balikin, gue mau balikin ke tempatnya. Nyerah gue buat buka kotak ini," pinta Ica.


"Tunggu dulu!" tolak Viola dan segera mengambil ponselnya yang berada di ranjangnya.


Ica mengerutkan keningnya, dia merasa heran dengan Viola yang mala mengotak atik ponselnya.


"Tuh kan! ni kotak mirip banget kayak sketsa punya bang Ezra," seru Viola.


Ica ikut melihat apa yang Viola serukan, dia membulatkan matanya ketika melihat sebuah lukisan yang sangat mirip dengan kotak tersebut.



"Bener-bener mirip," gumam Ica.


Viola merasa heran, mengapa Lia mempunyai barang yang sama seperti sketsa Ezra.


"Kok Lia bisa punya sih?" heran Ica.


"Gue gak tau, mungkin bang Ezra gambar sketsa ini saat ...,"


Flashback Off.


Viola terlihat sedang mengambil air minum, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam tetapi dirinya terbangun akibat haus.


Kreeet.


Saat akan minum Viola terkejut ketika mendengar suara pintu yang terbuka, dia menoleh menatap pintu yang dekat dengan tangga.


"Bang Ezra? ngapain dia malem-malem keluar dari ruangan itu yah? kata om Zidan, itu gudang," gumam Viola.


Dengan perlahan Viola menuju kamar itu saat terlihat bahwa Ezra sudah kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Kreet.


Viola menatap sekitar, tangannya sibuk mencari saklar lampu di dekatnya.


Tak!


"Gudang apaan, ini mah tempat ngelukis. Tapi iya sih agak mirip gudang banyak banget debu, kotor lagi," cicit Viola.


Netra Viola menatap sebuah kanvas yang tertutup kain, dia mendekati kanvas tersebut tetapi dirinya terkejut karena melihat tikus yang lewat kakinya.


"AAA! NGAPAIN ADA SITI DISINI!" teriak Viola dan langsung menutup mulutnya.


Viola takut suaranya terdengar sehingga dia kembali ke ambang pintu untuk melihat situasi.


"Huuhh, aman." lirih Viola sambil mengusap dadanya.


Viola kembali mendekati kanvas itu, kanvas yang berukuran 150×80 cm membuat Viola penasaran ada apa di balik kain putih tersebut.


Sreek!


Netra Viola membulat sempurna setekah dia manarik kain tersebut. Dia takjub ketika melihat sketsa pada kanvas tersebut, tangannya terulur untuk menyentuh kanvas tersebut dan bergumam.


"Gambarnya bagus banget, sayang banget sih kok taro disini!" gumam Viola.


Viola mengambil ponselnya yang berada di saku baju piyamanya, dia segera memfoto sketsa tersebut keburu ada yang datang.


Flashback Off.


Ica mengangguk, netranya tak sengaja menatap Mesya yang menangis. Mereka bingung mengapa Mesya menangis.


"Mesya, lu kenapa?" tanya Ica dengan nada pelan.


Mesya menghapus air matanya, dia menggelengkan kepalanya kemudian merebahkan badannya dan menarik selimut hingga sebatas leher.


Viola dan Ica saling memandang, mereka tak mengerti mengapa Mesya menangis.


"Kenapa sih?" bisik Viola.


"Gak tau, dari kemarin malam dia udah begitu," bisik Ica.


"Emangnya sejak kapan dia kayak gitu, perasaan semalem masih ketawa deh," tanya Viola.


"Mmm ... sejak berita pengumuman si Heri meninggal, dari situ si Mesya diam terus." jawab Viola sambil mengembalikan barang Lia ke tempat semula.


Seketika Viola dan Ica membulatkan mata mereka, mereka saling tatap dan menutup mulut mereka.


***


"Lia bersiaplah," titah Ezra pada Lia yang sedang bercanda dengan Cia.


"Bersiap ngapain kak?" heran Lia sambil menatap Ezra.


"Ck, belah duren! ya pulang lah ayang kuuu!" jengah Ezra.


Lia menggaruk pelipisnya, dia lupa jika mereka memutuskan untuk pulang sore ini juga kembali ke kota mereka.


"Kan kota kita beda, aku jakarta dan kamu .... aku gak tau," ujar Lia.


"Gak ay, bulan lalu aku pindah ke jakarta karena papah ada urusan. Memang sebelumnya kami tinggal di bali," terang Ezra.


Lia mengangguk, dia bangkit dari ranjang bersamaan dengan Cia.


"Cia ikut kakak yah," pinta Cia.


"Tentu saja, Cia akan ikut kami." ucap Lia sambil tersenyum manis menatap Cia.


Ezra tersenyum, dia membawa Cia ke gendongannya dan menggandeng Lia. Mereka keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil.


Di perjalanan, Cia tak henti-hentinya antusias terhadap apa yang dia lihat. Lia pun terkadang ikut terkekeh akibat kelucuan Cia.


"Ay, aku mau nanya. Kamu mau hak asuh Cia sama kita?" tanya Ezra.


Lia menoleh, dia mengangguk tanpa ragu. Tetapi raut wajah Ezra berubah menjadi sendu.


"Tapi ay, kita belum menikah. Pengadilan pasti akan memberi hak asuh Cia pada suami istri, sulit bagi kita untuk mendapat hak asuh Cia jika kita belum menikah," terang Ezra.


"Terus gimana?" bingung Lia.


"Ya kita harus nikah," enteng Ezra.


Lia menatap Ezra dengan sinis, dia curiga ini hanyalah akal-akalan Ezra mencari kesempatan.


"Aku kan udah bilang, kalau aku belum siap nikah sekarang! minimal umurku 21 tahun, kalau sekarang rasanya aku kayak mau di nikahi sama om-om tau!" terang Lia.


"Dih, umur aku masih dua puluhan udah di bilang om-om. Gak papa lah, kamu jadi istri kecilku gimana?" ucap Ezra sambil menaik turunkan alisnya.


Lia mengelus rahang Ezra, dia menghela nafasnya dan menatap Ezra dengan sendu.


"Aku belum dewasa, pikiranku masih labil. Aku takutnya kamu jengah dengan sikapku yang kekanak-kanakan," terang Lia.


"Tapi ay, aku gak bisa leluasa sama kamu sebelum kita menikah. Kamu deket sama aku tanpa ada ikatan pernikahan rasanya hati aku gundah, tapi ketika kamu jauh hati aku gelisah. Tolong lah ay, aku janji teruntuk soal punya anak ... aku serahin ke kamu kapan kamu siap," bujuk Ezra.


Lia menghela nafasnya, kemudian dia kembali menghadap jendela yang mana membuat Ezra kesal.


"Ok fine! seharusnya aku tahu kalau cinta kamu ke aku sebenarnya sudah pudar," ucap Ezra dan membuang pandangannya.


Lia terkejut, dia kembali menoleh menatap Ezra yang membuang pandangannya.


"Kak, jangan gini dong," bujuk Lia dan menyentuh lengan Ezra tetapi Ezra langsung menepisnya


"Belum halal, ngapain pegang-pegang!" ketus Ezra yang mana membuat Lia kaget.


"Giliran ngambek aja, halal yang di bawa-bawa," cicit Lia.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.