Dark Memory

Dark Memory
kamera



"Apa kau sering ke restoran ini?" tanya Audrey pada Elbert yang tengah asik makan.


"Iya, ini restoran favoritku. Kenapa? apakah makanannya tidak enak?" bingung Elbert.


"Tidak, hanya saja makanan disini sangat enak. Aku suka," ujar Audrey.


Elbert ikut tersenyum, mereka kembali melanjutkan makannya hingga Elbert kembali berucap.


"Audrey ...," panggil Elbert.


"Ya?" tanya Audrey sambil mengalihkan pandangannya ke arah Elbert.


Elbert menghela nafasnya, dia mengontrol ekspresinya yang terlihat gugup.


"Audrey, setelah pulang dari jepang ... aku ingin melamarmu," gugup Elbert.


Seketika raut wajah Audrey berubah menjadi terkejut, dia menatap tak percaya Elbert yang melamarnya disini.


"Mungkin ini terlalu cepat mengingat kita baru saja kenal selama satu tahun belakangan ini, tapi ... aku sudah merasa cocok dengan mu dan aku tidak ingin menundanya lagi. Aku ingin segera menghalalkanmu," terang Elbert.


"El ... a-aku kau tau bukan kalau ...,"


"Kalau kau masih kuliah? Tenanglah Audrey, aku tak akan mengganggu kuliahmu," sela Elbert dengan nada lembut.


Audrey menunduk malu, saat ini pipinya sudah bersemu merah.


Tiba-tiba saha Elbert bangkit dan duduknya, dia mendekat ke arah Audrey dan berlutut menjadikan satu kakinya sebagai tumpuan.


Audrey terkejut, dia menutup mulutnya ketika Elbert mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya. Mata Audrey berkaca-kaca ketika melihat sebuah cincin yangs sangat cantik.


"Will you marry me?"


Air mata Audrey jatuh saat Elbert mengatakan itu, tidak dia sangka di saat umurnya 19 tahun dia di lamar oleh kekasihnya.


Audrey tak sanggup lagi berkata-kata, dia hanya bisa mengangguk yang mana membuat Elbert tersenyum.


"Hiks ... pakaikan!" isak Audrey sambil menyodorkan tangannya.


"Ck! ganggu suasana aja kamu drey, orang lagi pengen romantis juga!" kesal Elbert.


Audrey hanya terkekeh, dia melihat Elbert memasangkan cincinnya di jari manis Audrey.


"Cantik," puji Elbert.


***


Malam telah tiba, kini Amora tengah uring-uringan karena Alden belum juga pulang padahal sudah jam setengah dua belas malam.


"Mas Alden mana lagi nih," panik Amora sambil mondar-mandir tak jelas.


Terlihat Lio baru saja keluar dari lift dengan Ravin di gendongannya, tampaknya bocah itu terbangun akibat tidak adanya sang mommy.


"Mommy," panggil Lio.


Amora terkejut, dia menatap Lio yang tengah menghampirinya.


"Adek bangun yah?" tanya Amora saat melohat Ravin yang terjaga.


"Iya, mommy kenapa kok masih di luar?" bingung Lio.


Amora belum menjawab, dia mengambil Ravin dari gendongan Lio.


"Daddy kamu belum pulang, mommy khawatir banget," ujar Amora.


"Mommy tidur aja, daddy paling lembur," ujar Lio.


"Tapi ...,"


"Mom, kalau mommy gak tidur. Kasihan Ravin, dia gak bisa tidur kalau mommy gak ada disampingnya." bujuk Lio sambil menatap melas sang mommy.


"Baiklah, mommy ke kamar dulu," ujar Amora dan beranjak dari sana.


Sedangkan Lio dia akan berbalik, namun pendengarannya mendengar suara mobik sang daddy sehingga dia membuka pintu.


"Bagus, baru pulang jam segini Istri panik, anak bangun. Seneng yah, abis dari mana tuh," ujar Lio pada Alden yang telah keluar dari mobil.


Alden hanya menatap anaknya datar, dia tak menghiraukan ucapan Lio dan langsung pergi menuju kamarnya.


"Kacang mahal yah sekarang," gumam Lio.


Alden telah sampai di depan kamarnya, baru saja membuka pintu dia sudah di suguhkan dengan suara istri dan anaknya yang menangis.


"Sayang," panggil Alden.


Amora menoleh, dia segera mendekati Alden dengan air mata yang mengalir.


"Kamu dari, mana aja? aku panik do tambah Ravin sedati tadi nangis terus," isak Amora.


"Maaf, tadi aku lembur. Siniin Ravinnya, biar aku yang tidurkan dia. Kamu istirahat gih," ujar Alden dan merentangkan tangannya.


"Kamu istirahat aja!" titah Alden sambil mengelus lembut rambut sang istri.


"Tapi kamu baru pulang, pasti capek," lirih Amora.


"Besokkan libur, aku bisa istirahat," bujuk Alden.


Akhirnya Amora pasrah, dia mendekati ranjang dan merebahkan dirinya. Amora menarik selimut dan menatap suaminya yang tengah menimang sang anak.


Untungnya Kino tidur di kamar Laskar, sementara Cia seperti biasa dia tidur dengan Aurora.


Tak lama Amora pun tidur dengan deru nafas yang teratur. Begitu pula dengan Ravin, dia sudah tidur dengan tenang.


Alden yang menyadari sang putra yang sudah tertidur segera menaruhnya tepat di samping sang istri.


Setelah menidurkan sang anak, Alden segera membersihkan dirinya.


***


Berbeda dengan Ezra yang harus ekstra sabar dengan istrinya yang sedang cengeng.


"Aku kan bilang gak mau hiks! kok ngeyel sih kamu hiks!" isak Lia.


Ezra hanya mengusap punggung istrinya yang berada di pangkuannya. Sejak tadi istrinya terus berkata itu padahal dirinya hanya bertanya tentang istrinya lapar atau tidak. Pasalnya Lia melewatkan makan malam karena tidur, sehingga Ezra khawatir dengan sang istri.


"Iya ... iya gak mau, minum susu mau?" bujuk Ezra.


Seketika Lia menghentikan tangisannya, dia menatap Ezra dengan wajah sembabnya.


"Susu?" tanya Lia.


"Iya, susu mau?" tanya Ezra.


Lia mengangguk kecil, sehingga Ezra bernafas lega. Dia akan menurunkan Lia dari pangkuannya tetapi Lia malah mengeratkan tangannya pada leher ERa.


"Aku mau buat susu untuk kamu dulu," Ezra benar-benar frustasi karena istrinya


"Ikut," cicit Lia.


Ezra menghela nafasnya, dia kahirnya beranjak dari ranjang dengan Lia yang berada di gendongannya.


Ezra menuju dapur, keadaan sedikit gelap hanya ada beberapa lampu kecil yang menyala. Sehingga kini warna mata hijau Lia terlihat lebih jelas.


Sesampainya di dapur, Ezra membuat susu untuk Lia. Sementara Lia hanya menyandarkan kepalanya pada bahu polos Ezra.


"Dah, nih ... mau minum di kamar apa disini?" tanya Ezra.


"Di kamar," lirih Lia.


Ezra mengangguk, mereka kembali ke kamar dengan susu tersebut.


Di kamar, Ezra langsung duduk di tepi ranjang. Dia segera memberikan Lia susu tersebut dan segera Lia meminumnya hingga kandas.


"Sudah? sekarang tidur," ajak Ezra.


Lia mengangguk, dia hanya menurut ketika Ezra merebahkan tubuhnya setelah menaruh gelas tadi ke atas nakas.


Tak butuh waktu lama, Lia langsung tidur sehingga Ezra bisa mengerjakan sesuatu yang ingin dia kerjakan.


"Gue harus liat video yang ada di kamera itu," gumam Ezra.


Ezra beranjak berdiri, dia melangkah menuju kemari untuk mengambil kamera.


"Kemarinkan udah gue cas, pasti bisa nyala bukan?" gumam Ezra sambil mengambil kamera tersebut.


Ezra melangkah mendekati sofa, dia segera memasukkan memory card ke dalam kamera tersebut.


"Ini ... ini video Zanna," lirih Ezra.


Terlihat di sana Lia yang masih berumur satu tahun sedang belajar berjalan. Ezra melihat semua video tersebut hingga Zanna berumur 6 tahun dengan mempercepatnya hingga tak sadar dirinya telah sampai di memory card terakhir.


"Apa ini?" gumam Ezra.


Terlihat disana Zidan tengah bersama perempuan, perempuan tersebut mengobrol dengan Zidan hingga Zidan memekik kata.


"KAU! KAU DIANA?!


"Mamah?" lirih Ezra.


Saat Ezra terfokus dengan video tersebut untuk melihat wanita itu, tapi tiba-tiba saja video terjeda yang mana membuat Ezra kesal.


Terakhir, hanya ada Lia yang sedang bergumam. Tampaknya anak itu sedang bersembunyi di balik pintu.


"Yah habis mau baterainya, pake punya Lio aja deh mumpung masih penuh baterainya," lirih Lia.


"Itu ... itu artinya, masih ada kelanjutannya kan? tapi ... dimana kamera itu? aku harus cari kamera itu, apakah benar perempuan itu mamah?" gumam Ezra.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.