
Viola baru saja sampai di mansion Wesley, dia sedikit bingung mengapa sang papah menyuruhnya kesini.
"Eh, udah nyampe lu," ujar Lio baru saja akan keluar, dirinya sudah siap dengan jaket hitamnya.
"Iya nih, lu mau kemana? bonyok gue mana?" tanya Viola.
Lio menghentikan langkahnya di depan Viola.
"Lu gak tau kalau bonyok lu dan yang lainnya ke rumah sakit? ini juga gue mau nyusul,"
Viola membulatkan matanya, dia menunduk menatap Kino yang juga bingung.
"Terus pada ngapain ke rumah sakit?"
"Si Lia pendarahan, gue juga gak tau persis ini baru mau nyusul," ujar Lio.
"Gue ikut dong!" seru Viola.
Lio menaikkan satu alisnya, setelah itu pandangannya jatuh pada Kino.
"Terus si Kino gimana? Ica sama Ravin juga di tinggal biar gak rusuh, lu disini aja dah ... jagain bocah," tolak Lio.
"Tapi kan gue khawatir," ujar Viola.
Lio menghela nafasnya, dia berkacak pinggang dan menatap Viola.
"Yaudah, lu antarkan si Kino ke kamar bermain Ravin dan Cia. Gue tunggu disini," ujar Lio.
Viola mengangguk, di segera membawa Kino menuju kamar yang di maksud. sementara Lio menunggu di motornya.
Selang beberapa menit, Viola berlari ke arah motor Lio dengan tergesa-gesa.
"Udah?" tanya Lio sambil memberikan helm.
Viola mengangguk, dia menerima helm dari Lio dan memakainya.
Viola naik ke atas motor Lio, setrkah itu Lio menjalankan motornya meninggalkan mansion.
Tak berselang kama, mereka akhirnya sampai di parkiran rumah sakit. Lio dan Viola pun turun dan masuk ke dalam rumah sakit.
"Kamarnya di mana?" tanya Viola sambil mereka berjalan.
"Kata mommy sih masih di ruang UGD," jawab Lio.
Mereka akhirnya menemukan ruang UGD yang di maksud, Alden dan Viola pun mendekat. Tapi mereka hanya melihat semua anggota keluarga harap-harap cemas apalagi Ezra yang sudah terlihat sangat berantakan.
"Mom gimana keadaan Lia?" khawatir lio.
Amora mengangkat kepalanya, dia menatap sang putra dan menyuruhnya duduk.
"Masih di tangani dokter, mommy takut jika terjadi apa-apa dengan Lia. Apalagi janinnya, kita gak tau kalau Lia hamil," ujar Amora.
Lio menatap Viola seakana bertanya apakah yang di katakan mommy nya itu benar?
"Ya, baru siang tadi kita periksa karena Lia sempat pingsan. Tapi kok bisa Lia sampe kayak gini? kata dokter kandungannya masih sangat muda, pasti ada hal yang terjadi kan?" ujar Viola.
"Ya kejadian besar, lu gak tau bukan? lu bisa tanya sama bunda tersayang lu itu, Viola." ujar Lio sambio melirik Kirana yang tengah gemetar.
Viola menatap bingung bundanya, dia mendekati bundanya yang seperti ketakutan.
"Bunda, ini sebenarnya ada apa? Kenapa Lio bercakap seperti itu?" tajya Viola.
"Vi, kita bicara ini di mansion saja. Sekarang keadaannya tidak memungkinkan untuk menjelaskan semuanya," ujar Zidan.
"Ck, beri tahu anakmu jika ibunya itu seorang pelakor," sarkas Alden.
Viola sontak saja membulatkan matanya, dia menatap nyalang ke arah Alden yang juga tengah menatapnya tajam.
"Om kalau ngomong di saring dulu napa, bunda itu menikah sama papah pas papah jadi duda bukan suami orang," kesal Viola.
"Ya tapi kenyataannya begitu!"
"Mas!" peringat Amora.
"Apa? aku benarkan? gara-gara masalah mereka, putriku menjadi korbannya. Jika tahu seperti ini aku tidak rela putriku menikah dengan putra keluarga bermasalah," sindir Alden.
Amora menghela nafsnya pelan, suaminya jika sudah kesal dia akan berbicara yang menyakiti hati lawannya. Dirinya tidak mau ada keributan di rumah sakit, apalagi keadaan Ezra sedang kacau seperti ini.
CKLEK!
Seorang dokter keluar dari ruang UGD, dengan segera semua keluarga mendekat.
"Dok gimana keadaan istri saya?" panik Ezra.
Dokter itu membuka maskernya, dia menghela nafas pelan dan tersenyum lega menatap Ezra.
Ezra tersenyum senang, air mata kebahagiaannya menjelaskan betapa bersyukurnya dirinya.
"Tapi,"
"Tapi apa dok?" was-was Ezra.
"Istri anda harus bed rest total, jika dia kelelahan sedikit saja maka itu berpengaruh bagi janin. Hamil di usia muda bukanlah perkara yang mudah, kalian harus memastikan bahwa suasana hati sang ibu baik dan tak ada beban pikiran yang berlebih," ujar sang dokter.
"Baik dok, apakah istri saya harus di rawat?" tajya Ezra.
"Tidak usah!" sela Alden.
Alden mendekati dokter itu, dia menyerahkan sebuah kartu yang mana membuat dokter itu terkejut.
"Aku akan membawa putriku pulang, dia akan di rawat di rumah dengan pamanku yang juga dokter. Jika dia disini, aku tak bisa memantaunya," pinta Alden.
"Baik tuan, kami akan segera mengurusnya. Kalau begitu saya permisi,"
Setelah dokter itu pergi, Ezra menatap Alden tak terima.
"Apa maksud daddy? istriku akan aku bawa pulang!" tak terima Ezra.
Alden menatap tajam dirinya. "Kau lupa apa yang di katakan dokter? putriku tidak boleh terlalu banyak pikiran, selesaikan masalah rumitmu itu baru kau boleh menemui putriku!"
"Dan untuk anda tuan dan nyonya Gevonac, masalahku bukan pada anda tapi putra anda. Suruh dia datang menghadapku, karena aku hanya ingin tahu seperti apa pria yang sudah berani-beraninya melecehkan putriku!" lanjut Alden.
Alden membawa istrinya pergi, mereka akan mengurus kepulangan Lia. Lio pun mengikuti mereka.
Sementara Ezra tengah memegang kepalanya, dia sunggu stres sekarang ini.
DERTTT!
DERTTT!
Ponsel Zidan berbunyi, dia segera melihatnya dan ternyata sang mommy yang menelponnya.
"Halo mom?"
"Halo Zidan, daddy kamu hiks ... daddy kamu kritis hiks ... mommy mohon kamu pulang nak!" panik Dea.
Zidan terkejut, dia segera mematikan ponselnya dan menyuruh sang istri ikut pulang.
"Kita harus pulang, keadaan daddy kritis. Kau juga Ezra, kau harus pulang," ujar Zidan.
"Aku tidak mau!" tolak Ezra.
"HARUS! KAU HARUS PULANG, BIARLAH LIA BERSAMA DENGAN MERTUAMU DULU!" sentak Zidan.
Ezra terdiam, dia khawatir dengan keadaan istrinya. Tapi sang kakek kini tengah kritis. Sejahat-jahatnya Jacob, Ezra tak pernah membencinya.
"Baiklah," pasrah Ezra.
Mereka pun pulang, begitu pula dengan Viola yang masih merasa heran dengan semuanya.
Di perjalanan semuanya terdiam, sedangkan Zidan fokus menyetir.
"Mas hiks ... maaf hiks ... maaf," isak Kirana.
Zidan menghela nafasnya, sedangkan Ezra sudah memejamkan matanya menahan amarah.
"Bisa tidak kau jangan menangis dan berkata maaf? semuanya tidak akan menjadi seperti semula, PAHAM!" kesal Ezra.
"Ezra bunda minta maaf, tapi sungguh bunda tidak ada maksud untuk menjadi orang ke tiga," ujar Kirana.
"Tapi itu kenyataannya!" marah Ezra.
"ABANG JANGAN MARAHIN BUNDA!" bentak Viola.
Ezra menatap tajam adiknya yang duduk di sebelahnya, Viola tak mengetahui apapun tapi berasa seperti Ezra lah yang salah disini.
"Kalian jangan bahas itu di mobil, papah capek!" ujar Zidan sambil menoleh ke belakang.
TIN! TIN! TIN!
"PAPAH AWAS PAH!" teriak Viola.
BUGH!
BRAK!
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.