
"Kalian hati-hati yah, Lia jaga kesehatan yah sayang. Mommy gak bisa lagi mantau keadaan kamu,"
"Ezra titip Lia yah, dia selalu makan telat. Tolong kamu bujuk dia supaya makan tepat waktu," pinta Amora.
Ezra mengangguk, dia melirik istrinya yang tak melepas pelukannya dari sang mommy.
"Hiks ... hiks ...," isak Lia.
"Sudah, jangan menangis. Malu sama keluarga suamimu, cepatlah kalian berangkat karena sebentar lagi keluarga Miller dan Wesley akan kesini." ujar Amira sambil melepaskan pelukannya pada Lia.
Orang tua Alden dan Amora mereka tak tahu jika cucu mereka telah menikah, terlebih Jonathan yang menentang keras Lia untuk berhubungan dengan keluarga Elvish sedari dulu. Mereka pun belum di beri tahu jika Zidan dan Ezra masih hidup.
"Yasudah mom, kami berangkat," ujar Ezra.
Amora mengangguk, dia menatap sang putri yang sudah di rangkul oleh suaminya memasuki mobil. Sementara besannya masih berusaha menarik putra mereka yang memeluk seorang gadis kecil.
"Ayo Kino! nanti ketinggalan loh!" geram Kiarana.
Akhirnya Kino melepaskan pelukannya pada Cia, dia menatap Cia yang sedang menangis.
"Cia janan nanis, Lavin duga. Nanti kita main lagi," ucap Kino.
"Capa yang nanis? Lavin ... hiks ... Lavin ndaaa naaaniiis huaaa,"
Alden segera membawa anaknya ke gendongannya, dia tidak tau mengapa anaknya mellow seperti ini. Apakah karena kepergian sang kakak, ataukah karena teman kelahinya?
"Sudahlah, tadi berantem. Sekarang kok gak bisa lepasin Kino pulang?" tanya Alden.
"Kino ambil kakakna Lavin hiks ... napain dia bawa kak Lia na Lavin hiks ...," isak Ravin.
Alden menghela nafasnya pelan, dia memasuki mansion untuk menidurkan putranya yang sepertinya sudah mengantuk.
"Kita pulang dulu ya Ra," ucap Kirana dan memeluk Amora.
"Iya mbak, hati-hati yah. Titip Lia, kalau bandel jewer aja," canda Amora.
Akhirnya Kirana beserta keluarganya oulang meninggalkan Amora yang menatap kepergian mobil mereka.
"Haaah ... satu persatu putra dan putriku pasti akan memiliki kehidupan sendiri-sendiri," lirih Amora.
"Gak kok mom, kan masih ada Ravin dan Cia. Nanti kalau mereka gede ada cucu mommy," bujuk Lio yang sedari tadi ada di belakang Amora.
Amora terkekeh, dia merangkul sang putra yang sedang menggendong Cia memasuki mansion.
Sementara itu, di mobil Lia tak berhenti menangis. Malah justru semakin keras yang mana membuat Ezra menghela nafas kasar.
"Mau balik lagi? ya ayo!" usul Ezra.
"Gak hiks ... hiks ... aku cuma belum siap pisah sama mommy dan daddy," isak Lia.
Ezra menghela nafasnya pelan, dia menutup tirai yang ada di tengah antara supir dan tempat duduk penumpang.
Dengan cekatan Ezra memindahkan Lia ke pangkuannya dan memposisikan istrinya berhadapan dengannya.
"Kakak ngapain sih!" ketus Lia.
"Syuut ... aku tau kamu ngantuk, udah tidur biar aku yang elusin," ujar Ezra dan merebahkan kepala Lia pada dada bidangnya yang berbalut kaos.
Lia hanya pasrah, dia merebahkan kepalanya dan menatap jalanan. Lama-kelamaan netranya tertutup sempurna dan tak lama dengkuran halus terdengar.
"Hais ... sudah ku duga kau mengantuk, istri kecilku." gumam Ezra sambil merapihkan rambut Lia yang menutupi wajahnya.
Ezra mengelus punggung istrinya, dia menatap jalanan yang sepertinya macet. Beruntung orang tua dan adiknya berada di mobil berbeda, jika tidak dia akan pusing dengan celotehan sang adik plus macet.
Satu jam kemudian mereka telah sampai di mansion Elvish, Orang tua beserta adik Ezra telah turun berbeda dengan Ezra yang masih menatap istrinya yang tertidur pulas.
"Maaf pak, sebaiknya bangunkan nona. Karena saya akan memasukkan mobil kedalam garasi," ucap sang supir yang melihat jika tirai sudah di buka oleh Ezra.
"Hm," dehem Ezra.
Ezra tak tega membangunkan Lia yang tertidur pulas, dia menyuruh supir membuka pintu dan membawa istrinya itu keluar dengan menggendongnya.
"Eunghh,"
"Syuut ...,"
Lia kembali terlelap, dengan begitu Ezra kembali melangkahkan kakinya masuk keadalam mansion Elvish.
"Leon!" seru seorang wanita.
"Dia ... Eveline, adik papah dan istri dari Arjuna Miller yang merupakan kakak kandung dari Amora, ibu mertuamu," terang Zidan.
Ezra mengangguk, dia tersenyum tipis ketika melihat raut kerinduan pada wanita itu.
"Leon, kau tumbuh dengan baik," seru Eveline.
"Terima kasih tante, maaf namaku Ezra bukan Leon," ujar Ezra.
"Maafkan tante, tante lupa. Oh iya, siapa yang kau gendong?" tanya Eveline.
Ezra akan menjawab, tetapi seorang pria membalikkan tubuhnya hingga dia sedikit terhuyung.
"Kau! apa-apaan sih! Istri ku bisa jatuh!" sentak Ezra.
"ISTRI? KAPAN KAU MENIKAHI KEPONAKANKU HAH?! LEPASKAN KEPONAKANKU SEKARANG JUGA!" bentak seorang pria yang tak lain adalah Arjuna.
"Tidak! kemarin sore aku menikahinya, kau saja yang ketinggalan berita," sinis Ezra dan pergi dari sana menuju kamar tamu yang akan dia tempati.
Arjuna mengepalkan tangannya, dia akan menyusul Ezra tetapi tangannya di cekal oleh Zidan.
"LEPASKAN!" sentak Arjuna.
"Kau tak berhak mencampuri urusan rumah tangga mereka, karena Alden telah merestui dan memberikan putrinya untuk Ezra!" terang Zidan.
Arjuna melepaskan tangan Zidan, dia menatap tajan Zidan yang tengah menatapnya santai.
"Gak mungkin Alden kasih Lia pada keturunan Elvish! Walaupun mereka kembali bertemu seharusnya Alden tak lagi memberi Leon kesempatan!" bentak Arjuna.
"Loh, apa masalahnya? daddy yang bermasalah dengan Wesley, bukan putraku!" ucap Zidan tak terima.
"Gue yakin pasti terjadi masalah sampai Alden menikahi putrinya dengan putramu itu! Bahkan keluarga besar kami tidak ada yang tahu pernikahan mereka!" marah Arjuna.
Zidan dengan santai mendekat ke arah Arjuna, dia menatap tajam mata pria itu yang sedang menahan amarahnya.
"Apa kau lupa? kau menikahi keturunan Elvish bodoh!" ucap Zidan dengan suara kecil.
Arjuna terdiam, dia menatap istrinya yang sedang menepuk keningnya sambil menggelengkan kepala.
"Tapi beda! masalah daddy dengan keluarga Wesley, bukan keluargaku!" bela Arjuna.
"Amora itu adik mu jika kamu lupa!" ledek Zidan.
"Kau!"
Mereka yang saling berdebat, berbeda dengan Ezra yang tengah memanjakan sang istri.
"Lepas dulu ya ay, aku mau ambilin baju santai kamu biar gak gerah," bujuk Ezra dan berusaha melepaskan pelukan Lia dadi tubuhnya.
"Gak mau gak mau gak mau!" tola Lia.
Ezra menghela nafasnya pelan, terpaksa dirinya harus berbaring. Sungguh saat ini dirinya sangat lelah, tetapi Lia terus memeluknya.
"Kak," cicit Lia.
"Hm,"
"Kakak harum," lirih Lia dan menduselkan wajahnya pada dada bidang Ezra.
"Lepas dulu yah, aku mau mandi gerah nih," bujuk Ezra.
Lia menangis, dia menatap Ezra dengan air mata yang mengalir di pipi putihnya.
"Iya ... iya ... gak, tapi aku lepas kaos yah. Gerah soalnya," bujuk Ezra.
Lia mengangguk, dia melepaskan pelukannya dan menatap suaminya yang akan melepaskan kaosnya. Namun, suara dobrakan pintu membuat mereka terkejut.
BUGH!
CKLEK!
"Awas Kamu Macam-macam Dengan Pona ...,"
"LEEEOOOON! KAMU BELUM SAH KARENA BELUM DAPET RESTU DARI SAYAAAA!"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.