Dark Memory

Dark Memory
Aku ingin mengingat tentang mu



Makan malam berlangsung dengan tenang, Lia pun merasa biasa saja karena dia sudah terbiasa dengan keluarga Arjuna hanya Dea yang menurutnya masih terasa asing.


"Lia nambah lagi nak?" tanya Dea.


"Gak nek, Lia sudah kenyang," ujar Lia.


Dea mengangguk sambil tersenyum, sementara Ezra menatap makanan Lia yang sepertinya terlihat sedikit sekali.


"Makannya dikit banget ay, nanti malam lapar loh," bisik Ezra.


"Aku gak nafsu," bisik Lia.


Tanpa basa-basi, Ezra mengambil piring Lia. Dia menaruh semua nasi Lia beserta lauk pauknya kedalam piringnya. Setelah itu dia kembali mengambil nasi kedalam piringnya dan menyendokkan nasi tersebut.


"Kakak ngapain sih!" ucap Lia.


"Udah, buka mulutnya!" titah Ezra sambil mengarahkan sendok itu ke depan mulut Lia.


Lia terpaksa membuka mulutnya karena tak enak melihat tatapan orang-orang yang mengarah kepadanya.


"Bucin terus, gak liat tempat apa?!" sindi Arjuna.


"Lu kenapa sih? sirik mulu dari tadi, biarlah mereka. Lagi pula udah sah ini." kesal Zidan sambil kembali fokus pada makanannya.


Arjuna menatap istrinya yang sedang menatapnya tajam.


"Makan!" tekan Eveline. Arjuna pun hanya bisa menurut.


Zidan kembali menyendokkan nasi ke mulutnya, berbeda dengan Alysa yang memandang pengantin baru itu dengan tatapan kagum.


"Waaah, kak Ezra udah ganteng romantis lagi! kak Lia nya juga malu-malu kucing, cocok deh kalian berdua!" seru Alysa.


"Ck, tumben kamu ngomong halus begitu lys? biasanya juga ngegas," sinis Lia.


"Lah, si kakak. Aku ngegas salah, halus salah. terus maunya gimana?" jengah Alysa.


Lia menggendikkan bahunya acuh, dia kembali menoleh menatap Ezra dan membuka mulutnya.


"Aku gak suka ikan," cicit Lia ketika merasa ada yang aneh dengan makanannya.


"Loh, dari tadi aku suapi ikan kok kamu makan aja?" bingung Ezra.


"Hiks ... gak suka! gak suka!" rengek Lia.


Ezra panik, dia mengambil air putih dan memberikannya ke Lia. Lia pun segera meminum habis air putih itu.


"IIIIHHH GAK SUKA HUWEEK." Lia berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya.


"Maaf, Ezra susul istri Ezra dulu," pamit Ezra.


Ezra segera berlari menyusul Lia yang sudah terlebih dahulu ke kamar mandi.


"Ayang gak papa ay?" panik Ezra sambil mengikat rambut istrinya yang tergerai dengan satu tangannya Sementara tangan lain dia gunakan untuk mengurut leher Lia.


"Hiks ... hiks ... kamu kesana aja! kamu kesana! aku lagi kotor sana! bau disini!" isak Lia.


Ezra tak mengindahkan ucapan sang istri, dia membantu Lia mencuci mulutnya tak peduli dengan muntahan sang istri.


"Hiks ... hiks ...," isak Lia.


Lia menyandarkan tubuhnya pada sang suami, dirinya sangat lemas karena sehabis muntah.


"Lemas hiks ... hiks ...,"


Ezra dengan cekatan membalikkan tubuh Lia, dia langsung menggendong koala isyrinya itu.


Lia membenamkan wajahnya pada ceruk leher sang suami, dia hanya melingkarkan kakinya dan juga tangannya yang merangkul pada leher suaminya.


Ezra keluar dari kamat mandi, ternyata semua anggota keluarga kumpul di depan kamar mandi karena khawatir dengan Lia.


"Ezra Lia kenapa?" panik Eveline.


"Gak tau tan, kayaknya Lia gak suka ikan," ujar Ezra.


Ezra berlalu dari hadapan mereka menuju kamarnya, meninggalkan semua orang yang menatap heran.


"Lia kan baru nikah kemarin, masa udah langsung hamil?" heran Eveline.


Ucapan Eveline membuat Dea, Arjuna dan Alysa memandang Zidan dengan tatapan penuh selidik.


"Apa? aku gak tau yah! tanya aja sama orangnya langsung," bela Zidan.


"Anak lu udah macem-macemin ponakan gue kan?" tanya Arjuna dengan tatapan tajam.


"Mana aku tau! emangnya aku suka ngintipin orang apa!" kesal Arjuna dan berlalu dari sana menuju kamar sang anak.


Arjuna mendengus kesal, dia menatap putrinya yang sedang memegang dagunya sambil berpikir.


"Hm ... seingat Alysa, kak Lia emang gak suka sama ikan. Tapi, sepertinya tadi dia gak kerasa jika makan ikan dan baru kerasa suapan terakhir. Mungkin rasa ikannya lebih kerasa," ujar Alysa.


***


"Sakit hiks ... perutnya gak enak hiks ...," isak Lia yang sedari tadi memeluk Ezra.


Ezra menyelimuti diri mereka, dia menyingkap baju yang Lia pakai dan memasukkan tangannya. Dia mengusap pelan perut istrinya yang tampak kesakitan.


"Sakit banget yah?" tanya Ezra.


"Iya hiks ... hiks ... JANGAN DI TEKEN!" teriak Lia ketika Ezra menekan sedikit perutnya.


Ezra terkejut, dia langsung melepas tangan dan membuka laci nakas. Dia mengambil minyak angin dan membalurkannya ke perut Lia.


"Ezra, gimana keadaan Lia?" tanya Zidan yang baru saja masuk.


Ezra langsung menarik selimut menutupi perut istrinya yang tadi sempat ia singkap untuk mengoleskan minyak angin.


"Masuk angin kayaknya pah, perutnya keras juga. Di tambah muntah karena ikan," jawab Ezra tanpa melepas pandangan dari sang istri dengan tangan yang setia mengoleskan minyak angin.


"Papah telpon ibu mertuamu dulu, kita tanya obatnya apa," ucap Zidan dan mengambil ponselnya.


"Jangan! hiks ... jangan kasih tau mommy hiks ... nanti mommy khawatir hiks ...," isak Lia.


"Syuut iya ... iya enggak, udah biasanya kamu pernah begini?" tanya Ezra.


"Pernah hiks ... mommy cuma ngelus aja sampe Lia tidur," lirih Lia.


Ezra mengangguk, dia menoleh menatap Zidan dan memberi kode jika dia akan menangani Lia.


"Yaudah kalau gitu papah keluar dulu," ucap Zidan.


Zidan keluar dari kamar tersebut, tak lupa juga menutup pintu. Ezra langsung bangkit dan mengunci pintu tersebut, berhubung juga sudah malam.


"Hiks ... elusin lagi hiks ...," rengek Lia.


"Iya sebentar yah," bujuk Ezra.


Ezra berjalan mendekati ranjang, dia membuka kaosnya dan menaruhnya di cantolan nakas.


Ezra segera membuka selimut dan merebahkan tubuhnya sehingga Lia dengan segera memeluk Ezra.


"Balik ay, biar gampang aku elusinnya," titah Ezra.


Lia membalikkan badan, sementara Ezra menyelipkan tangan kanannya di sela leher Lia sebagai bantalan istrinya.


Tangan kirinya mengelus perut sang istri, dia mengecup kepala istrinya beberapa kali.


"Sakit ya ay, sabar yah ... besok pasti sembuh. Lain kali kamu bilang makanan apa yang paling gak kamu suka," ujar Ezra.


"Hiks ... kakak kan tahu kalau aku gak suka ikan! dulu juga kakak selalu singkirin ikan dari meja makan!" gumam Lia.


Elusan tangan Ezra terhenti, dia merasa bersalah karena dirinya amnesia dan melupakan apa pantangan bagi Lia.


"Aku juga gak mau kayak gini ay, andaikan aja ingatanku tentang kita balik," lirih Ezra.


Lia yang akan menutup matanya mengurungkan niatnya, dia menyadari jika dirinya salah bicara dan malah menyakiti Ezra.


Lia segera berbalik dan menatap Ezra dengan panik.


"Maaf kak, maaf ... aku gak bermaksud ...,"


"Syuut sudahlah, aku tau," singkat Ezra.


Lia semakin merasa bersalah ketika melihat sorot mata kecewa dari Ezra.


Lia kembali berbalik, dia kembali memejamkan matanya dan menikmati elusan Ezra pada perutnya yang sakit.


Selang beberapa menit, dengkuran halus terdengar kembali. Ezra yang menyadari itu segera melepaskan tangannya yang berada di leher Lia dengan pelan dan menggantinya dengan bantal.


Setelah merasa jika Lia kembali tertidur nyenyak, Ezra bangkit dari ranjang dan mengambil ponselnya yang berada di nakas.


Ezra menghubungi seseorang, dan tak lama panggilan itu tersambung.


"Halo,"


"Halo, Haikal ... gue mau pengobatan amnesia gue," pinta Ezra.


"Lu lupa yah? gue kan udah pernah bilang, resikonya fatal Zra! lu udah beberapa kali coba kan? dan hasilnya? Zra, udah cukup ... Lu selalu nyakitin diri sendiri. Lu selalu histeris jika masa lalu itu terbuka kembali, gue gak mau lu kembali kayak dulu Zra," bujuk Haikal.


"Wanita yang ada di mimpi gue sekarang sudah menjadi milik gue, gue mau lu bantu gue mengingat dia kembali. Gue gak peduli apapun rintangannya, gue mau ingatan gue tentang dia balik lagi!" ucap Ezra dan mematikan ponselnya.


Ezra mendekati ranjang, dia menaruh ponselnya di atas nakas dan merebahkan kembali tubuhnya di samping sang istri.


Ezra memandang wajah cantik Lia yang sangat damai, tangannya terulur untuk menyingkirkan rambut istrinya yang menghalangi wajah cantiknya.


"Apapun untukmu honey, aku ingin mengingat kembali bagaimana kenangan kita. Bagaimana dirimu, bagaimana kebiasaan dan sikapmu. Aku ingin tahu," lirih Ezra.