
Pagi ini, Elbert mengunjungi ruang rawat Aqila tetapi dia tak menemukan di mana perempuan itu.
"Maaf sus, pasien kamar ini kemana yah?" tanya Elbert pada suster yang lewat depan ruang rawat Aqila.
"Sudah pulang dari semalam tuan," jawab suster itu dan berlalu dari sana.
Elbert mengacak rambutnya, dia segera mengambil ponselnya dan mencoba menelpon Aqila.
Tuuut.
"Ck!" decak Elbert.
Elbert segera berlari di koridor rumah sakit, dia bahkan tak melihat seorang dokter yang tengah berjalan.
Brugh!
"Aw!"
Elbert mendekati dokter tersebut, dia membantu sang dokter untuk berdiri. Namun, dokter tersebut malah menghempaskan tangannya.
"Kamu lagi kamu lagi! gak bosen apa nabrak saya terus?" kesal wanita itu.
Elbert mengerutkan keningnya, baru kali ini ada seorang wanita asing yang berani terhadapnya.
"kalau jalan lain kali pakai kaca mata kuda mas, biar gak nabrak orang terus! permisi!" ujar dokter itu dan berlalu dari sana.
Elbert menghela nafasnya kasar, dia akan berbalik, tetapi dia melihat kartu nama di dekat sepatunya.
Elbert mengambil kartu tersebut, dan menatap nama yang tertera.
"Dokter Clara Emmerson? hm ... nama yang cantik," gumam Elbert.
Setelah itu Elbert berjalan cepat ke parkiran, dia akan mencari Aqila ke apartemen wanita itu.
Selang beberapa menit Elbert sampai di apartemen Aqila, dia langsung menuju unit kakak perempuannya itu.
Tok!
Tok!
Tok!
Elbert beberapa kali mengetuk, tetapi Aqila tidak juga membukanya sehingga terpaksa ELbert membuka pintu tersebut. Berhubung dia tau kata sandi pintu itu, sehingga dia dengan mudah masuk.
"KAK QILA!" panggil Elbert.
Elbert segera mencari Aqila di penjuru apartemen, tetapi dia tak menemukan wanita itu. Tiba-tiba netranya menatap balkon kamar Aqila yang terbuka. Dengan segera Elbert beranjak menuju balkon.
"KAK QILA! JANGAN GILA KAK! TURUN KAK!" panik Elbert ketika melihat Aqila yang sedang duduk di pagar pembatas sambil menatap lurus ke depan.
Dapat Elbert lihat wajah pucat gadis itu dan tatapan kosongnya yang mana membuat Elbert tak tega.
"Kak turun yah, kakak lagi mengandung loh. Kakak please ...," bujuk Elbert.
Aqila akhirnya menoleh, dia menatap Elbert dengan air mata yang jatuh ke pipi tirusnya.
"Dia pergi El ... dia beneran pergi ...," lirih Aqila.
"KAK! LUPAIN KAK FRANS! SEENGGAKNYA KINI ADA NYAWA YANG HARUS KAKAK JAGA!" kesal Elbert.
"Lebih baik kakak tiada El, biar kami mati bersama," lirih Aqila dan kembali menatap lurus ke depan.
Elbert mengacak rambutnya frustasi, dia bingung dengan cara apa lagi membujuk Aqila.
"Kak ... coba kakak pikirin baik-baik, anak kakak gak salah. Dia berhak lahir ke dunia kak, jika bukan karena keluarga kita ... lakukanlah untuk bayi kakak, dia berhak hidup kak. Dia adalah kunci kebahagiaan kakak," bujuk Elbert dengan lembut.
Aqila terdiam, kata-kata Elbert berhasil mempengaruhinya. Namun, dirinya kembali teringat dengan kata-kata pedas dari Frans.
Flashback on.
Aqila sedang dalam perjalanan pulang, tetapi tiba-tiba saja mobilnya mogok.
"Gue harus gimana dong?" gerutu Aqila.
Tak lama sebuah mobil terhenti di dekatnya, tiba-tiba saja beberapa pria keluar dan membekap mulutnya.
Pagi harinya, Aqila terbangun dengan tubuh yang tak memakai sehelai benang pun. Dia menangis histeris, tetapi netranya menoleh menatap seorang pria yang masih tertidur dengan keadaan yang juga sama sepertinya.
"FRANS!" teriak Aqila.
Frans terbangun, dia mengerjapkan matanya pelan. Tak lama kemudian kesadarannya pun kembali, dia menduduki dirinya dan menatap Aqila dengan wajah terkejutnya.
"LU NGAPAIN DISINI HAH?! PASTI INI JEBAKAN LU KAN?! DASAR CEWEK MURAHAN! GUE BATALIN PERTUNANGAN KITA DAN LU BUAT NEKAT KAYAK GINI? LU KIRA GUE BAKAL NIKAHIN LU?! GAK! GUE GAK BAKAL NIKAHIN LU! GUE JIJIK SAMA LU! GUE JIJIK!" bentak Frans.
"KAMU YANG BERBUAT BEGINI SAMA AKU FRANS!"
Frans tak memperdulikan perkataan Aqila, dia bangkit dari ranjang dan memakai bajunya Setelah itu dia menatap Aqila dengan penuh kebencian.
"Gue yakin lu gak lebih dari sekedar j4l4ng! seharusnya dari awal memang kita tidak seharusnya bertemu, bersyukur gue tau sifat lu sebelum kita menikah!" sarkas Frans.
"Hiks ... hiks ... kamu jahat Frans! bagaimana jika aku hamil?" isak Aqila.
"Gugurin! karena gue yakin anak itu bukan anak gue! bisa aja kan lu main di luar sana dan meminta pertanggung jawaban gue?" ujar Frans.
Aqila yang tak tahan segera bangkit dari ranjang, dia memegangi selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
PLAK!
Aqila menampar Frans dengan keras, dia bahkan menatap tajam Frans yang kini wajahnya tertoleh ke samping.
"Iya ... aku yang menjebak kita! AKU YANG MELAKUKAN SEMUANYA!" marah Aqila.
Aqila sungguh marah ketika Frans berkata seperti tadi, sehingga dia berkata jika dirinya lah yang menjebak mereka. Emosi Aqila kini sedang tidak stabil.
"Hahahah ... buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, ibumu seorang ja ...,"
"TUTUP MULUTMU FRANS! SEENGGAKNYA AYAHKU TAK SEBEJ4T DIRIMU!" emosi Aqila.
Frans langsung keluar dari hotel, dia bahkan meninggalkan Aqila yang menangis tersedu-sedu.
Flashback off.
Aqila kembali mengingat kejadian itu, dia menangis histeris sehingga Elbert menatapnya kasihan.
"Aku di jebak ... aku di culik hiks ... aku bukan wanita seperti itu El," isak Aqila.
"Iya kak, El tau. Sekarang turun yah, terus cerita sama El," bujuk Elbert.
AKhirnya Aqila luluh, dia turun dari pagar pembatas dengan di bantu oleh Elbert.
Elbert segera membawa Aqila menuju kamarnya, dia merebahkan Aqila di kasur dan mengambil minum untuk wanita itu.
"Kakak jangan berbuat nekat kayak tadi, kasihan anak kakak," ujar Elbert ketika Aqila sudah selesai minum.
"Kakak harus gimana El? kakak gak mau kecewain ayah Gio hiks ... apalagi papah Alden hiks ... kakak gak mau mereka kecewa memiliki anak yang ...,"
"Syuut, ini musibah kak. Seharusnya kita lebih menjaga kakak ... sekarang istirahatlah. Aku disini menjaga kakak," sela Elbert.
Elbert menyelimuti Aqila, dia sudah menganggap Aqila seperti saudaranya sendiri. Tak ada rasa apapun untuk wanita itu, menurutnya Aqila sama seperti Amora, Lia dan Aurora. Wanita yang harus dia jaga.
Tak lama Aqila tertidur dengan deru nafas teratur, sehingga Elbert bisa keluar dari kamar Aqila untuk menelpon seseorang.
"Halo,"
"Halo paman Arsel, paman aku ingin kau cari tahu tentang Frans Gevonac dan kemana pria itu pergi." ujar Elbert.
"Untuk apa?" bingung Arsel.
"Aku ada urusan dengannya, masalah yang sangat serius. Untuk itu aku minta paman cari informasinya, kalau perlu jatuhkan dia di dunia bisnisnya," pinta Elbert.
"Oke ... oke, paman akan lihat,"
"Hm ... terima kasih paman,"
Elbert langsung mematikan ponselnya, dia teringat dengan Aqila yang begitu sangat menderita.
"Frans ... lu gak bakal lepas dari keluarga Wesley, camkan itu!" gumam Elbert.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.