Dark Memory

Dark Memory
Menolong Cia



Bugh!


"Huaaaa cakit ampun ... ampuunn!"


Terlihat seorang wanita memukul seorang anak kecil dengan sapu pada punggungnya, dia dengan tega memukul anak itu tanpa belas kasih.


"Sudah saya bilang! jika kamu tidak mau menurut, maka saya akan memukulmu!" sentak wanita itu.


"Cakit hiks ... cakit ampun hiks ...," isaknya.


Tok!


Tok!


Tok!


"Ck, si4l siapa sih yang ganggu!" ucap kasar wanita itu.


Wanita tersebut membuka pintu dan menatap marah ke seorang anak laki-laki.


"Ada apa hah?!"


"Ma-maaf, di depan ada banyak sekali orang berpakaian hitam dan mereka mencari Cia nyonya Ima," ucap anak itu bergetar.


Wanita bernama Ima itu segera menutup pintu dan menguncinya. Dia segera menghampiri orang-orang yang mencari Cia.


"SIAPA KALIAN HAH?! KENAPA KALIAN MASUK TANPA IZINKU?!" bentak Ima pada orang berpakaian hitam itu.


"Maaf, biar tuan kami yang jelaskan." ucap mereka sembari memecah barisan.


Terlihat seorang wanita berjalan, dengan pakaian militernya dan juga kaca mata hitamnya dia berjalan elegant hingga sampai di depan Ima.


"Waw, apakah tidak ada penyambutan untukku?" ujarnya sembari menurunkan sedikit kaca matanya yang tak lain adalah Lia.


"KAMU?! BUAT APA KAMU DISINI HAH?!" teriak wanita itu.


Prok!


Prok!


Prok!


"Waah ... siapa yang merekrut anda menjadi ibu panti? wanita tempramental seperti anda tidak pantas mengasuh anak-anak," sinis Lia.


"KAMU ...,"


"Haiss, kenapa kau selalu berteriak di hadapanku hah? aku berkata santai, kenapa kau malah ngegas? beruntung aku masih menghormatimu sebagai yang paling tua disini," sela Lia.


Mereka bertatap-tatapan tajam, hingga wanita tersebut menunjuk Lia.


"Kau! kau tidak memiliki sopan santun yah?! keluar dari rumah ku sekarang! KELUAR!" teriak Ima.


"HIKS HUAAA BUKAIN! BUKAIN! TOLONG!"


Atensi Lia mengarah ke sebuah pintu, dia mengerutkan keningnya ketika mendengar suara yang tak asing baginya.


"Cia? kau mengunci Cia hah?!" marah Lia.


Tampak Ima melipat tangannya di depan dada, dia menatap Lia dengan angkuh.


"BUKAN URUSANNMU SEKARANG PERGI DARI RUMAH KU!" teriak Ima.


Lia tetap memaksa untuk menuju kamar itu, dia menggeser tubuh Ima dengan paksa. Tetapi bukannya bergeser, Ima malah balik mendorong Lia sehingga dia akan terjatuh.


"Aahh,"


Hap!


Netar Lia bertubrukan langsung dengan Ezra, tak lama dia segera berdiri tegak dan menatap Ezra yang menatap Ima tajam.


"Beraninya kau mendorong tunanganku hah?!" bentak Ezra.


Ima terkejut mendengar bentakan Ezra, hingga tak sadar jika Lia menerobos masuk untuk mencari Cia.


"Cia! Cia! kau ada di dalam?" tanya Lia saat memperhatikan pintu coklat itu yang tertutup.


Dugh!


Dugh!


Dugh!


"Kakak! kakak! tolong Cia hiks ... Cia takut!" isak anak itu.


Lia khawatir, dia menatap kunci yang masih tergantung disana segera dia memutar kunci itu dan membuka pintu tersebut.


Cklek!


Lia membuka pintu, baru saha membuka tubuhnya langsung di terjang oleh Cia yang memeluknya erat.


"Hiks ... hiks ... Cia takut hiks ...," isaknya.


Lia langsung membawa Cia ke gendongannya, setelah itu dia segera menuju pintu keluar.


Lia menggeleng, dia menatap Ezra meminta batuan. Ezra yang mengerti pun langsung menyuruh para anak buahnya untuk menahan Ima yang akan mendekati Lia.


"HEI! LEPASKAN SAYA! LEPASKAN!" teriak Ima.


Lia segera berjalan menuju Ezra, begitu pun dengan Ezra yang mendekati tunangannya itu.


"Ayo kita kembali dulu, setelah itu baru kita urus data Cia. Aku sudah menyiapkan pengacara untuk mengambil hak asuh Cia," terang Ezra.


Lia mengangguk, dia dan Ezra berjalan memasuki mobil. Sementara para bawahannya akan mengurus Ima.


Di perjalanan hanya keheningan yang ada, Lia sibuk mengelus rambut pendek Cia. Kini anak itu bersandar di dadanya dan tertidur.


"Untung saja tadi kita langsung cepat tangkap dengan kode Cia, anak ini mempunyai kecerdasan yang luar biasa," lirih Lia.


Ezra mengangguk, dia teringat sebelum dia dan Lia menjemput.


Flashback on.


Lia dan Ezra akan memasuki mobil, tetapi netra mereka melihat Cia yang memberontak pada Ima.


"Jendral! Cia ...," kaget Lia.


Ezra menatap apa yang Lia tatap, matanya menyipit saat Cia melirik ke arahnya dan menggunakan isyarat tangannya jika dirinya meminta tolong.


"Cia ... Cia, aku harus menolongnya," ujar Lia dan akan mendekati Cia dan Ima tetapi Ezra menahan lengannya.


"Lepaskan kak! Lepaskan! aku ingin menolongnya!" sentak Lia.


"Diam Lia! jangan bodoh, kita pantau mereka selagi aku memanggil anak buahku dan juga pengacara. Apa kau ingin di teriaki olehnya sebagai penculik anak hah?!" kesal Ezra.


Lia terdiam, benar apa yang di katakan Ezra. Dirinya tak bisa langsung membawa Cia, dia harus memikirkan cara.


"Kita harus bagaimana kak," khawatir Lia.


Ezra tak menjawab, dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.


"Halo, siapkan 10 anak buah. Yah, tentu saja anak buahku. Jangan bicarakan ini dengan papahku mengerti?!" titah Ezra


Lia hanya melihat, dia bingung dengan apa yang Ezra katakan.


"Kamu menelpon siapa?" heran Lia.


"Aku memiliki rumah di kota ini, tadi aku menghubungi asistenku untuk mengirim anak buahku kesini dan kita akan ke panti Cia." jelas Ezra sambil memasukkan ponselnya kembali.


"Kamu tau dimana panti Cia?" tanya Lia.


"Tau, aku pernah ke panti nya saat menjemput Heri untuk kembali ke asrama. Tapi wanita itu, aku belum pernah lihat sebelumnya." terang Ezra sambil membuka pintu untuk Lia.


Lia menatap bingung Ezra yang membukakan pintu untuknya, tetapi sedetik kemudian dia mengerti dan membantu Ezra masuk. Namun, Ezra malah menatapnya kesal.


"Kamu mau ngapain sih?!" tanya Ezra.


"Mau bantu kamu masuk, kamu mau masuk kan?" heran Lia.


"Ck, aku bukain pintu untuk kamu! gak ada romantis-romantisnya!" gerutu Ezra.


"Maaf jendral," ringis Lia.


Lia menyengir lucu, dia segera masuk begitu pula dengan Ezra. Terkadang dirinya akan memanggil Ezra dengan sebutan jendral, terkadang kak yang mana membuat Ezra sangat kesal.


Flashback Off.


Lia menyandarkan kepalanya pada bahu Ezra, sementara Ezra hanya mengelus kepala Lia yang berada di bahunya.


"Kita pulang ke mana?" tanya Lia.


"Kita ke rumah ku dulu, gak mungkin kan kita bawa Cia ke asrama?" jawab Ezra.


"Keluargamu?" heran Lia.


"Itu rumah ku bukan rumah keluargaku, tentu saja mereka tidak ada di sana. Sudah lama rumah itu aku bangun, kau tau untuk siapa?" tanya Ezra.


Lia menggelengkan kepalanya, dia menatap Ezra yang tersenyum manis.


"Dua tahun lalu aku membangun rumah itu untuk seorang wanita yang akan menjadi pendampingku dan juga yang akan menjadi ibu dari anak-anakku. Wanita itu adalah ...,"


"Kau ...," lanjut Ezra.


Pipi Lia bersemu merah, bahkan dia tak bisa berkata apa-apa saat Ezra tersenyum padanya.


Sedangkan di lain tempat, kini Lio dan Reno sedang mencari panti asuhan itu.


"Ini bukan sih Ren pantinya?" tanya Lio sambil menatap sebuah bangunan.


"Iya ini dia pantinya, tapi kok ada polisi yah?" bingung Reno.


Mereka yang akan menjemput Cia tak tau saja jika Cia sudah di bawa lebih dulu oleh kedua pasangan itu.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.