Dark Memory

Dark Memory
Ekspor nutrisi



"Jadi gimana Des keadaan istri gue?" tanya Ezra pada seorang wanita berpakaian dokter bernama Desi.


"Dia gak papa, lu tanyain deh apa yang istri lu paling gak suka. Tampaknya dia gak suka sama sesuatu tapi di paksa dan berakhir muntah," terang Desi.


Netra Ezra beralih menatap Lia yang tertidur di brankar, sehabis Lia muntah Ezra langsung membawanya ke rumah sakit karena dia pikir Lia keracunan makanan.


"Yang gue tahu dia gak suka ikan," ujar Ezra.


"Nanti kalau bangun lu tanyain kenapa dia bisa mual," terang Desi.


"Gue suka heran sama ngidamnya dia, gue beliin sate dia nangis dan nyuruh gue kubur satenya karena katanya kasihan ayaknya. Terus dia minya ayam bakar, emangnya apa bedanya?" gerutu Ezra.


Desi tertawa, temannya ini baru saja menjadi seorang suami sekaligus ayah. Tentu saja dia butuh banyak belajar mengenai kehamilan pertama sang istri.


"Itu namanya ngidam, jika nanti istri lu minta aneh-aneh jangan dibentak ataupun di marahin. Perasaan ibu hamil sangat mudah tergores sehingga mereka akan ketakutan. Jika hal itu terjadi bisa aja istri lu nyembunyiin apa yang dia rasa misal ... dia gak suka sama ini, tapi dia takut omong ke lu karena sebelumnya lu bentak," terang Desi.


Ezra mengangguk paham, dia tersenyum tipis dan menatap Desi yang kembali melihat dokumen kesehatan Lia.


"Vitamin penguat janin harus tetap di minun, jangan sampai telat. Kau harus memantau nutrisi ibu dan bayinya," titah Desi.


"Hm ... kalau dia gak minum vitaminnya atau susunya ya pasti yang minun gue," ujar Ezra.


Desi menghentikan kegiatannya, keningnya mengerut dan menatap Ezra dengan bingung.


"Kok lu yang minum?" heran Desi.


"Kan biar si dedek tetep dapet nutrisinya, gak dari ibu bisa juga dari ayahnya kan? kalau jenguk dede kan bisa di ekspor?" ujar Ezra dengan entengnya.


Desi membulatkan mulutnya, dia tak percaya temannya sebodoh ini dalam menanggapi kehamilan sang istri.


"Ntar, otak gue ngelag!" gumam Desi.


Sesaat kemudian Desi kembali berucap. "Lu dapet teori itu dari mana?"


Ezra tampak berpikir, tapi sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya dan hal itu membuat Desi kesal dengan Ezra.


"MAna bisa kayak gitu Ezraaaa! emang lu kira itu nutrisi bisa di ekspor apa? ya kagak bisa lah bunglon!" kesal Desi.


Ezra akan menjawab, tapi lenguhan sang istri membuatnya terkejut dan segera mendekati brankar Lia.


"Hiks ... hiks ...,"


"Kenapa? sakit perutnya?" panik Ezra.


"Laper hiks ...," lirih Lia.


Ezra menatap Desi, Desi yang mengerti oun segera keluar untuk mengambilkan Lia makan di kantin rumah sakit.


"Aku gak suka hiks ... paha ayam hiks ... gak enak hiks ... kamu malah beliin paha ayam," isak Lia.


Ezra jadi tahu mengapa istirnya mual, ternyata Lia tak menyukai paha ayam sama seperti ikan. Apa mungkin karena kehamilannya sang istri menjadi lebih sensitif.


"Maaf yah aku gak tau, sebentar dokternya lagi nyuruh suster buat ambilin kamu makan," bujuk Ezra dengan lembut.


Lia mengangguk, dia mengamati wajah sang suami yang tampak begitu lelah.


"Pulang aja yuk, kak Ezra pasti capek kan. Maaf Lia ngerepotin kakak," ujar Lia.


"Gak, kamu gak sama sekali ngerepotin aku. Justru aku yang ngerepotin kamu, kamu harus hamil anak aku. PAsti bukan hal yang mudah untuk kamu hamil di usia yang masih muda," ujar Ezra.


Cklek!


"Nih makannya, dan juga vitaminnya. Kalau gitu gue balik ke ruangan dulu, selesai makan istri lu langsung boleh pulang gak harus di rawat." ujar Desi sambil menaruh nampan di atas nakas.


"Makasih ya Des, sorry ngerepotin," ujar Ezra.


"Santai aja, udah tugas gue kok. Oh iya Lia, selamat atas pernikahan dan juga kehamilannya, sorry gue gak dateng karena suami lu gak ngundang!"


Lia tersenyum paksa, sedangkan Ezra meringis pelan. Dia lupa mengundang temannya itu dan lagi pernikahannya sangat cepat.


Ezra pun mengambil nampan itu, dia melihat makanan yang temannya bawa.


"Makanan apaan ini? gue rasa kucing juga gak doyan," gumam Ezra.


Tampak makanan yang di bawa oleh Desi adalah bubur yang di campur dengan sayuran dan daging.


"Kenapa kak?" bingung Lia.


"Gak gak papa, ini buka mulut aku suapin," ujar Ezra.


Lia oun membuka mulutnya, Ezra menyuapkan bubur tersebut pada Lia. Lia pun memakannya tanpa protes yang mana membuat Ezra kebingungan.


"Enak ay?" ragu Ezra.


"Enak, ada manis-manisnya," ujar Lia.


Ezra yang penasaran pun akhirnya menyuapkan bubur tersebut ke mulutnya. Baru juga masuk Ezra langsung berlari ke kamar mandi karena mual akibat bubur tersebut.


Lia tertawa puas, memang bubur itu tak ada rasanya. Hanya saja Lia bukan tipikal orang tak menyukai bubur, yang penting bubur itu ada campurannya dan Lia pun akan makan.


"Manis dari mana, hambar lah iya," gerutu Ezra saat keluar dari kamar mandi.


"Kan aku makannya sambil ngeliatin kakak, jadinya manis," kekeh Lia.


Ezra berdecak sebal, dia kembali mengambil nampan yang sempat dia taruh dan kembali menyuapkan sang istri.


"Habis ini ke mansion daddy yah," pinta Lia.


Ezra menghentikan kegiatannya, pandangannya berubah menjadi datar ketika Lia berkata seperti tadi.


"Kamu kan tau kalau kita ke mansion daddy, daddy pasti akan buat ulah. Entah itu nyuruh aku main catur lah di tengah malam, atau nonton bola lah. Kayaknya niatnya emang mau misahin aku sama kamu," gerutu Ezra.


"Tapi kan aku kangen sama daddy," cicit Lia.


Ezra menghela nafasnya kasar, dia sungguh kesal jika sang istri akan ke rumah orang tuanya. Tak masalah bagi Ezra, tapi Alden selalu mencari masalah dengannya.


"Yaudah kita ke mansion daddy, tapi janji gak nginep. Malam kita pulang, deal?" saran Ezra.


"Kok gak nginep? tanggung kak," rengek Lia.


"Mau apa nggak?" ancam Ezra.


Akhirnya Lia mengangguk pasrah dari pada Ezra saka sekali tak mengizinkannya mending dia menurut dulu dan nanti mengeluarkan jurus aduan pada sang daddy.


Setelah selesai makan, Ezra pun membantu Lia untuk minum. Dia membereskan bekas makan Lia dan menaruhnya di nakas.


"Mau pulang sekarang atau nanti?" tanya Ezra.


"Sekarang, mumpung masih sore," ujar Lia.


Ezra mengangguk, dia membantu sang istri untuk berdiri, setelahnya dia menggandeng tangan sang istri dan keluar dati kamar rawat tersebut.


Lia berjalan di samping Ezra dengan senyum mengembang karena dia sangat bahagia akan ke mansion sang daddy dan mommy.


"Pulang beli rujak di jalan yah," pinta Lia di sela berjalan mereka.


"Boleh tapi nanti malam satu ronde, gimana?"


Lia mencubit pinggang Ezra, walau tak sakit Ezra hanya meringis geli.


"Satu ronde sama sapi sana! lebih rapet!" sentak Lia dan melepas genggaman Ezra dari tangannya dan berjalan cepat meninggalkan Ezra yang bergidik ngeri.


"Dih ogah sama sapi, di sangka apa nanti gue?" ringis Ezra.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.