Dark Memory

Dark Memory
Flashback 2



"Oh, atau bisa di sebut Pe-la-kor?"


"CUKUP DIANA!" bentak Zidan.


Deghh!


Diana membalikkan tubuhnya, dia menatap Zidan dengan tatapan kecewanya.


"Kamu bentak aku hanya karena perempuan perebut ini?" lirih Diana sambil menunjuk Kirana.


"BERHENTI BILANG DIA PEREBUT DIANA, KARENA PEREBUT SEBENARNYA ADALAH KAMU!" bentak Zidan dengan emosinya yang menggebu.


JDEERRR!


Kenyataan apa ini? kenyataan apa yang harus dirinya terima? Diana, wanita yang tengah hamil besar itu menatap kosong suaminya setelah tau fakta yang sebenarnya.


"Kamu istri ke duaku, bukan Kirana, kami telah menikah sebulan sebelum kita menikah. Tapi karena daddy memaksaku untuk menikahimu, terpaksa aku harus menikahimu. Karena kamu aku tidak bisa menikah secara resmi dengan Kirana!" sentak Zidan.


"Jadi ... jadi aku istri keduamu? dan dia ... dia hiks Arghhh!"


Zidan dan kirana panik ketika Diana memegangi perutnya, kehamilan Diana baru menginjak delapan bulan dan sudah besar.


"Sayang kamu kenapa?!" panik Zidan.


"STOP PANGGIL AKU DENGAN PANGGILAN MENJIJIKAN ITU!" sentak Diana.


"Oke! fine! sekarang kita ke rumah sakit," panik Zidan.


Diana melepaskan tangan Zidan, dia menatap Zidan dengan matanya yang memerah.


"Aku tidak akan ke rumah sakit sebelum kamu menalak dia!" tunjuk Diana pada Kirana.


Kirana tertegun, begitu pula dengan Zidan. mana yang harus Zidan pilih?


"Tapi, Kirana istri pertama aku," lirih Zidan.


"TAPI TETAP DIA SELINGKUHAN KAMU! KAMU MENYEMBUNYIKAN DIA DARI AKU, SEDANGKAN DIA TAHU TENTANG AKU! terus ... apa itu kalau bukan namanya selingkuhan?" teriak Diana dan berakhir dengan lirihan.


Diana memegang perutnya, tak lama darah muncul dari sela kakinya.


"Diana kita harus ke rumah sakit, anak kita,"


"Kamu peduli sama anak kita? Bulshit! kalau kamu sayang sama anak kita, ceraikan dia sekarang dan aku akan ke rumah sakit," pinta Diana dengan ringisannya.


Zidan panik, dia tambah Diana yang tambah kesakitan dan darah yang keluar.


"OKE!" pasrah Zidan.


Zidan menatap Kirana, Kirana yang tahu segera menggelengkan kepalanya.


"Kirana Anatasya aku menceraikanmu saat ini juga," ujar Zidan.


Kirana menangis, setelah itu dia berlari keluar meninggalkan Zidan dan Diana.


"Arghhh!" ringis Diana.


"Kita ke rumah sakit," panik Zidan.


Diana mengangguk, Zidan menggendongnya dan membawanya menuju mobil.


Flashback off.


"Terus ... bukankah Kirana menjadi ibu susu Leon?" bingung Geo.


Ane terkekeh, dia mengusap air matanya yang mengalir karena mengingat kejadian masa lalu.


"Kamu percaya?" tanya Ane.


Geo mengangguk kecil, dia tak mengerti dengan semuanya.


"Itu hanya akal-akalan Zidan agar Leon bisa menerima Kirana, bagaimana bisa seorang wanita yang belum hamil saat itu bisa mengeluarkan asi? ya mungkin jaman sekarang banyak yang meminum obat untuk mengeluarkan asi walau dia tidak hamil,"


"Jadi itu semua bohong?" kaget Geo.


"Iya, Kirana baru memiliki anak saat dia menikah dengan pria lain. Setelah mas ZIdan menceraikannya, Kirana hilang. dia tak lagi menemui Zidan, tapi saat Leon beranjak remaja. Dia kembali dengan status jandanya,"


Geo mengangguk paham, dirinya memang terkejut dengan fakta barusan. Takdir memang sangat indah, penuh lika-liku. Tinggal siapa yang bertahan demi mencapai kebahagiaan.


"Jadi sebenarnya ... siapa yang harus di salahkan?" bingung Geo.


"Siapa lagi kalau bukan pak tua itu, Jacob Elvish! Kalau saja dia bilang dari awal jika Zidan sudah menikah, aku tak perlu menikah dengan Zidan. Laki-laki di dunia ini bukan hanya dia," jengah Ane.


"Tapi ... dengan begitu kita bisa bertemu," ujar Geo.


Ane memicingkan matanya. " kau salah menculik orang lagi itu, udah tau aku koma main culik-culik aja!"


Geo tertawa, dia mengingat kapan dirinya bertemu dengan Ane dan itu tak sengaja karena salah menculik yang dia kira adalah musuhnya.


Ane yang saat itu sedang koma, dia dibawa oleh Geo dan di rawat dengan khusus sehingga Ane kembali membuka matanya dan bangun dari komanya.


"Maaf sayang, tapi kita akhirnya saling mencintai bukan?" ledek Geo.


***


CKLEK!


"Kak Ezra kemana?" gumam Lia.


Lia baru saja sampai, dia langsung mencari Ezra ke kamar.


Lia masuk dan kembali menutup pintu, dia mencari Ezra dan pendengarannya menangkap suara gemercik air.


"Ooo lagi mandi," gumam Lia


Lia meneliti kamarnya, dia melihat kopernya yang sudah di letakkan dia tas lemari.


"Hah? baju gue udah di beresin sama kak Ezra, terus dalemannya?" panik Lia.


Lia segera membuka lemari, dan benar saja dakemannya sudah tertata rapih.


"Kamu ngapain ay?"


Lia tersentak kaget ketika mendengar suara bariton milik Ezra, dia membalikkan tubuhnya dan menatap suaminya yang kini hanya memakai handuk di pinggang nya


"Ka-kak Ezra," gugup Lia


"Kenapa hm?"


Lia meneguk ludahnya kasar, dia menatap Ezra yang terlihat sangat sexy apalagi dengan rambut basah dan roti sobeknya.


"Kak Ezra beresin baju Lia?" tanya Lia.


"Iya, kenapa?" bingung Ezra.


Lia menggeleng pelan, dirinya sangat malu. Lia menepis tubuh Ezra, dia akan menghindari Ezra. Namun, pergerakannya kalah cepat dengan Ezra yang memeluk tubuhnya dari belakang.


"Kak ... basah jadinya baju Lia!" lirih Lia.


"Gak papa, nanti juga mandi lagi," ujar Ezra.


Lia merasa geli ketika Ezra mengendus lehernya, dia bahkan sudah berontak tapi Ezra semakin kuat memeluknya.


"Kak lepasin ih! geli tau!" kesal Lia.


"Masih jam 10.00 ay, buat Ezra junior yuk!" ajak Ezra.


Lia mendelik kesal, dia berusaha melepaskan tangan Ezra tetap pria itu malah menggendongnya dan menjatuhkannya di kasur.


"Aku gak mau ihhhh! ini pagi kak Ezraaaa!" kesal Lia.


"Kenapa? mereka juga gak bakal tahu,"


Lie melototkan matanya ketika melihat Ezra akan membuka handuknya.


"Kamu mau ngapain?"


"Mau buat Ezra junior," cicit Ezra.


Lia melempar Ezra pakai bantal, setelah itu dia berlari keluar dan berteriak. "BUAT SANA SAMA GULING!"


Ezra terkekeh, menjahili istrinya kini sudah menjadi kebiasaannya.


"Imut," gumam Ezra.


Sedangkan Lia sedang menggerutu kesal, dia berjalan tanpa melihat dan tak sadar lagi dan lagi dia menabrak sosok mungil.


BRUGH!


"HUAAAA!"


Lia terkejut, segera dia membantu Kino berdiri. Neyranya tak sengaja menatap wajah kino yang terkena eskrim akibat terjatuh.


"Maaf ... maafin kakak, kakak gak sengaja," sesal Lia.


"CAKIT TAU NDAK!" kesal Kino.


"Ya kan habisnya kamu kecil sih," bela Lia.


"KECIL-KECIL DINI BANAK DUITNYA YA! HIKS ... PANTAT KINO CAKIT TAU NDAK! KALO KEMPEC GIMANA HIKS ...,"


Lia melongo mendengarnya, dia melihat eskrim Kino yang berada di lantai dan mengambilnya.


"Udah gak usah nangis, nih eskrimnya,"


Kino melihat eskrimnya, setelah itu netranya menatap lantai bekas eskrimnya tadi.


"Kakak nda cadal ya tuh ec klim dali bawa, memangnya Kino tempat campah apa?!" kesal Kino.


Lia menggaruk pelipisnya. " Yah mirip," cicit Lia.


"MATANA KAK LIA BELMASALAH APA HIKS HUAAAAA!"