
"EZRAA!"
Teriakan keras Alden mengangetkan Ezra beserta Lia, mereka terkejut mendengar teriakan Alden yang begitu keras.
"BANGUN KAMU! NGAPAIN KAMU TIDUR DI KAMAR PUTRI SAYA HAH?!" teriak Alden sambil menarik Ezra yang baru saja mengerjapkan matanya.
Sedangkan Lia dia hanya bisa diam, dirinya terkejut mengapa Ezra ada di kamarnya. Apalagi mereka tidur dengan satu ranjang di rumah orang tuanya.
"Apaan sih om! orang cuma tidur doang kok," kesal Ezra.
"Tidur doang? kalian ini belum nikah!" sentak Alden.
Lia menatap sang mommy yang juga tengah menatapnya. Dia tau jika sang mommy pasti terkejut melihat dirinya tidur berdua dengan pria yang berstatus menjadi calon suaminya.
"Sore ini panggil orang tuamu, om mau kamu nikahin Lia sore ini juga!" tekan Alden dan beranjak dari kamar putrinya.
"APA?!" kaget Lia dan juga Ezra.
Amora menatap sendu kepergian suaminya, setelah itu dia beralih menatap sang putri yang tengah menatap Ezra dengan tajam.
"Kakak ngapain di kamarku sih?! jadi gini kan!" kesal Lia.
"Mana aku tau kalau bakal begini, tadi malam aku gak bisa tidur makanya aku ke sini!" bela Ezra.
Amora yang menyadari jika sebentar lagi apa peperangan mulut dia segera mendekati putrinya.
"Sudahlah, daddy mungkin salah paham sayang," bujuk Amora.
"Salah paham gimana mom? aku masih pakai baju dan kak Ezra juga ... KAK EZRA!" ucap Lia dan kembali berteriak ketika melihat Ezra yang tak memakai baju.
Ezra melihat tubuhnya, dia kembali menatap Lia yang menutup matanya.
"Maaf, aku terbiasa tidur dengan bertel4njang dada." sesal Ezra sambil mengambil kaosnya yang sempat ia buka dan memakainya.
"Ezra, lebih baik kau bersih-bersih dulu di kamar mandi kamarmu. Setelah itu ikut sarapan bersama kami," titah Amora yang di balas anggukan oleh Ezra.
Ezra bangkit dari ranjang, dia segera keluar dari kamar Lia menuju kamar tamu yang sebelumnya dia pakai. Sementara Lia sudah membuka matanya dan menatap Amora dengan berkaca-kaca.
"Mom, aku dan kak Ezra gak ngapain-ngapain." bujuk Lia sambil meremas selimutnya.
Amora menghela nafas pelan, dia duduk di tepi kasur Lia dan menatap putrinya dengan lembut.
"Mommy tau, mommy percaya sama Ezra yang bisa jaga kamu. Tapi, dengan kalian tidur berdua begini ... itu salah sayang. Apa sebelumnya kamu juga pernah tidur berdua begini sama Ezra?" ujar Amora dan bertanya pada putrinya yang menunduk.
"Pernah," cicit Lia.
"Kapan?" tanya Amora kembali.
"Waktu kak Ezra di rawat, tapi bener mom ... itu terpaksa karena gak ada tempat tidur," ujar Lia dan mengangkat dua jarinya.
"Kan ada sofa sayang?" ledek Amora.
Lia terdiam, benar apa yang di katakan sang mommy. Dirinya menatap sang mommy yang tersenyum meledeknya.
"Mom, ayolah ... aku ...,"
"Daddy dan mommy punya kenangan buruk, itu sebabnya daddy takut jika apa yang mommy alami ... akan kembali terulang ke kamu, walaupun daddy tau jika Ezra tak mungkin melakukan itu padamu. Tapi, kejahatan pasti tak mengenal waktu dan tempat. Itu sebabnya daddy takut," sela Amora.
"Memangnya apa yang terjadi sama kalian?" bingung Lia.
"Huuh ... ada hal yang belum saatnya kamu tau, sudahlah cepatlah bersiap dan sarapan." ujar Amora sambil mengacak rambut putrinya dan bangkit keluar menyusul sang suami.
Amora melangkahkan kakinya ke kamarnya, dia tau pasti sang suami ada di sana tetapi dia menghentikan langkahnya ketika melewati ruangan bermain sang anak.
"Cia mau nda jadi pacalna Lavin?" ujar Ravin pada Cia yang asik bermain boneka.
"Pacal itu apa?" tanya Cia sambil menatap Ravin.
"Pacal itu ... Lavin nda tau duga, tapi katana om Alsel kalo Lavin danteng nanti banyak pacalna. Cia mau jadi pacal peltama Lavin? nanti becok Lavin cali lagi bial Cia ada temena" celoteh anak itu.
Amora tak sanggup lagi menahan tawanya, dia melebarkan pintu dan masuk menemui putranya.
"Hahaha, Ravin gak boleh begitu. Om Arsel itu sesat, gak boleh dengerin apa yang dia omongin om Arsel. Pacaran itu gak boleh, laki-laki sejati harus langsung menikahi wanita yang dia suka," terang Amora.
Amora menghentikan tawanya, tampaknya dirinya sudah salah bicara. Tapi dia bisa apa sekarang?
"Ravin masih kecil, belum ngerti apa itu nikah sayang. Sudah, mending Ravin main saja sama Cia yah," bujuk Amora.
Ravin mengangguk, kemudian dia kembali memainkan legonya. Sementara Amora beranjak keluar dan menuju kamarnya.
Cklek!
"Mas!" panggil Amora pada Alden yang sedang membelakanginya sambil menatap luar jendela kamarnya.
"Mas, apa tidak terlalu cepat?" tanya Amora sambil menghampiri suaminya.
Alden masih terdiam, dia tak menjawab ucapan sang istri. Sedangkan Amora yang merasa di abaikan akhirnya memegang bahu Alden dan menariknya.
"Kamu nangis?" kaget Amora saat melihat pipi Alden basah.
Alden menepis tangan istrinya dari pundaknya, dia mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah itu kembali menatap sang istri yang masih terkejut.
"Aku takut," lirih Alden.
"Takut kenapa?" heran Amora.
"Aku takut jika apa yang aku perbuat pada kamu dulu akan terulang pada Lia. Aku takut putriku akan merasakan apa yang kamu rasakan dulu. Maka dari itu aku langsung memutuskan agar Ezra harus menikahi Lia secepatnya. Aku tak ingin Ezra akan melewati batasnya sebelum mereka terikat pernikahan," lirih Alden.
Amora memeluk suaminya, dia mengelus punggung kekar sang suami yang tampak bergetar.
"Ezra juga pria normal, bisa saja dia khilaf seperti aku dulu. Aku takut, aku khawatir dengan putriku. Apa kekhawatiranku sebagai seorang ayah pada putrinya itu salah?" tanya Alden.
"Tidak, kamu tidak salah. Hanya saja kamu terlalu memutuskan secara sepihak tanpa meminta persetujuan putrimu. Tapi, aku mengerti apa yang kamu rasakan saat ini mas," bujuk Amora.
Alden melepas pelukannya, dia menatap wajah cantik istrinya yang juga tengah menatapnya.
"Pantas saja papi dan daddy sangat marah padaku saat mendengar jika kau di rusak olehku," cicit Alden.
"Sudahlah mas, itu sudah menjadi masa lalu," ujar Amora.
"Pasti kau sangat sakit kala itu ... Apalagi dengan adanya Luna sebagai penyebab rasa sakit itu kian bertambah," lirih Alden.
"Lupakan mas! aku sudah melupakannya, kita kan sudah membuka lembaran baru," bujuk Amora.
Alden mengangguk, dia memajukan wajahnya begitu puLa dengan Amora. Alden berniat mencium istrinya tetapi seseorang malah membuka pintu dengan keras.
BRAK!
Alden dan Amora tersentak kaget, mereka menatap siapa yang membuka pintu dengan paksa.
"Ravin!" kesal Alden.
Ravin menatap bingung Alden dan Amora, dia meletakkan jari telunjuk nya pada dagunya sambil menatap orang tuanya yang sedang terkejut.
"Tenapa? Lavin kecini mau bilang kalo Lavin mau buang air becal, pelut Lavin cakit mommy," ujar anak itu.
Amora menatap Alden yang mengacak rambutnya kesal, dia tertawa melihat sang suami yang tampaknya sangat frustasi.
"Makanya gak usah mikirin banyak anak, susah sendiri kan jadinya," ledek Amora dan menghampiri Ravin.
"Orang nanggung juga, ganggu!" gerutu Alden sambil menatap Ravin dengan kesal.
Ravin yang merasa sang daddy melototinya akhirnya mengadu dengan sang mommy.
"Mommy, daddy pelelok Lavin. Nanti matana jatuh balu tau lasa!" ujar Ravin.
"Pelelok pelelok, ngomong masih cadel aja belagu!" gerutu Alden.
Amora hanya bisa menghela nafasnya, setiap hari suami dan putranya selalu beradu mulut.
Ekspresi Ravin saat berbicara pada daddynya🤭.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.