
Kini ruang keluarga terasa berbeda, hanya ada aura dingin yang di pancarkan dari Ezra dan Alden.
"Jadi, apa tujuan kamu kemari?" tanya Alden sambil menatap tajam Ezra.
"Tentu saja melamar putrimu, tapi putrimu itu tidak mau di lamar olehku. Kebanyakan wanita akan senang jika prianya memberi mereka kepastian, tetapi Lia malah menginginkan aku mengghostingnya," ketus Ezra.
Lia mengerucutkan bibirnya sebal, bukan dia tidak mau. Hanya saja waktunya tidak tepat, sementara umur Ezra memang sudah sangat matang untuk menikah.
"Jika putriku tidak mau, kenapa kau memaksanya?" jengah Alden.
Plak!
"Sakit yang!" ringis Alden sembari mengelus pahanya yang di pukul oleh sang istri.
"Diem kamu! dan kamu Lia! saat Leon di kabarkan tiada, kau menangis sepanjang hari. Bahkan mentalmu terguncang, tetapi saat Leon kembali dengan nama yang berbeda ... kenapa kau menolaknya? bagaimana jika Leon akan pergi seperti waktu itu? kau akan mengalami penyesalan yang sama nak," ujar Amora.
Lia menunduk, dia juga tak tau bagaimana memutuskan perkara ini.
"Ezra, ikut denganku!" titah Alden sambil bangkit berdiri dan beranjak menuju ruang kerjanya.
Ezra mengangguk, dia menatap Amora yang mengangguk kepalanya. Dia segera menyusul Alden ke ruang kerja pria itu.
Cklek!
Ezra masuk ke dalam ruang kerja Alden, dia menatap Alden yang sudah duduk di bangku kerjanya. Sehingga dia memutuskan untuk duduk di bangku yang berhadapan dengan meja kerja Alden.
"Jadi kau mau melamar Lia?" tanya Alden yang di balas anggukan oleh Ezra.
"Kau tau bukan, Lia bukan perempuan yang lulusan kuliah. Dia hanya perempuan yang lugu, kekanak-kanakan, keras kepala dan manja. Bukan maksudku menjelekkan putriku, hanya saja aku tak ingin kau menyesal setelah menikahinya nanti," terang Alden.
Ezra terdiam, setelahnya dia menghembuskan nafasnya pelan dan menatap serius kepada Alden.
"Saya, Ezra Louise Elvis ingin menikahi putri anda yang bernama Zanna Liana Putri Wesley. Saya akan terima semua sifatnya, baik dan buruknya. Lia wanita baik menurut saya, dan untuk manja, keras kepala dan kekanak-kanakannya anggaplah itu sebagai bonus untuk saya," tegas Ezra.
Alden mengangkat satu sudut bibirnya, tampaknya dia kagum dengan keberanian Ezra yang akan meminta sang putri.
"Apa yang kamu punya sehingga berani meminta putri saya?" tantang Alden.
"Cinta, saya memiliki cinta yang besar untuk putri anda," jawab Ezra dengan enteng.
Alden terkekeh, dia menatap Ezra yang sedang menatapnya dengan sudut bibirnya yang terangkat satu.
"Kau mau menghidupi putriku dengan cinta? Memangnya cinta bisa buat putriku kenyang?" ledek Alden.
"Aku memiliki perusahaan, gak cuma itu ... aku sudah membangun rumah dan telah memiliki beberapa mobil. Jika anda khawatir tentang finansialku, anda salah. Aku bisa memberi putri anda mas kawin yang dia inginkan," ujar Ezra yang membalas remehan Alden.
Seketika Alden terdiam, dia mengangguk karena menyadari Ezra tidak goyah dengan ucapannya.
"Berikan mas kawin pada putriku yang terbaik, dan kau pasti tau soal kakek reyot itu. Aku minta dia tidak tau apapun tentang ini, bisa hancur pernikahanmu dengan putriku jika dia tahu," terang Alden.
"Apakah itu tandanya kau telah menerimaku sebagai calon menantumu?" tanya Ezra dengan tersenyum tipis.
Alden tak menjawab, dia bangkit berdiri begitu pula dengan Ezra. Setelah itu Alden menghampiri Ezra yang menatapnya bingung.
"Anda ...,"
Ezra terkejut, ternyata Alden malah memeluknya. Dengan kaku, Ezra juga membalas pelukan Alden.
"Iya, aku menerimamu menjadi menantuku," ujar Alden dan melepaskan pelukannya.
"Terima kasih tuan," ujar Ezra.
"Tuan? aku om mu," ujar Alden.
Ezra terkejut, dia menatap bingung Alden yang juga tengah menatapnya.
"Omku?" heran Ezra.
"Apa Lia tidak memberi tahumu jika aku adalah adik papahmu? yah aku tau kau amnesia, tapi setidaknya kau tahu aku bukan?" heran Alden yang di balas gelengan oleh Ezra.
"Hah ... aku adik dari papahmu, kami satu ibu tapi beda ayah," terang Alden.
"Kalian memang sepupu, tapi kalian bukan saudara sedarah. Tidak usah kaget begitu," jengah Alden.
Ezra mengangguk, dia membenarkan apa yang Alden katakan.
"Oh iya, berbicara tentang lamaran. Bukankah Lia sudah menerima lamaran pria lain?" heran Alden.
"Pria lain? siapa?" bingung Ezra sekaligus terkejut.
"Om tidak tau, tapi saat aku menelponnya ada yang mengatakan Lia di lamar oleh jendral. Dan dia menerimanya, apa kau tau itu?" tanya Alden.
Ezra menggeleng, dia merasa ada yang menghujam jantungnya. Tetapi sedetik kemudian dia teringat beberapa hari lalu dirinya melamar Lia dan bukankah dia juga jendral?
"Itu ... itu saya yang melamarnya om," ujar Ezra.
"APA?! salah sangka dong om, malah papah kamu udah telanjur mau cariin kamu istri! karena dikira dia Lia gak setia dengan kamu jadi dia ingin carikan kamu istri," ucap Alden.
"Ck! ini jadi urusan om lah, tapi ... kapan om bertemu papah saya?" bingung Ezra.
"Memangnya kau tidak tau jika orang tuamu kecelakaan?" tanya Alden.
"Apa?!" kaget Ezra.
***
"Cia umulna belapa?" tanya Ravin sambil menyusun legonya.
Cia yang sedang asik bermain boneka Ravin menoleh, dia tampak berpikir dengan jari telunjuk yang menyentuh dagunya.
"Tiga," jawab Cia dan kembali memainkan bonekanya.
"Hoaam! Lavin nantuk, udah jam catu-catu. Ayo ke kamal mommy daddy Lavin, kita tidul di cana," ujar Ravin dan berdiri menghampiri Cia.
Cia mengangguk, dia mengikuti Ravin yang menggandengnya ke arah kamar Amora dan Alden.
Sementara Amora baru saja melihat jam, dia terkejut ketika melihat jam yang menunjukkan pukul sebelas malam.
"Astaga! Ravin belum tidur!" panik Amora dan segera mencari sang putra.
Lia mengikuti sang mommy mencari adiknya dan juga Cia, dirinya baru sadar jika kedua bocah itu tidak ada di antara mereka.
"Mom, kenapa?" bingung Lia saat mendapati sang mommy dan yang berdiri di ambang pintu.
"Syuut, adikmu dan Cia lagi tidur. Mungkin Ravin ngantuk jadi ajak Cia kemari, kamu tau sendiri kan kalau Ravin belum bisa tidur sendiri di kamarnya," ujar Amora.
Lia mengangguk, dia melihat kamar Aurora dan Laskar. Dirinya kangen dengan sang adik, tapi dia sadar jika ini sudah sangat malam.
"Yasudah, kamu tidur aja di kamarmu. Nanti Ezra mommy suruh tidur di kamar tamu," pinta Amora.
"Yaudah mom, Lia ke kamar dulu yah," pamit Lia.
Amora mengangguk, dia juga akan ke ruang kerja Alden untuk memanggil suaminya itu.
Tak terasa sudah pukul 01.00, seorang pria mengendap-endap berjalan menuju sebuah kamar.
Cklek!
Pria itu masuk dan kembali menutup pintu tersebut, dia melihat seorang wanita tertidur pulas dengan baju tidur minionnya bahkan topi minion itu menambah kelucuan pada wanita itu. Pria tersebut terkekeh betapa lucunya wanita itu.
Dengan perlahan pria itu mendekati ranjang, dia merebahkan tubuhnya di samping wanita itu. Dengan menghadap wanita itu pria tersebut mengelus lembut kepala wanita tersebut.
"Benar apa yang daddy mu katakan jika kamu masih kekanak-kanakan, manja dan juga keras kepala. Tapi sayangnya, aku cinta," gumam pria itu yang tak lain adalah Ezra.
"Bantu aku untuk mengingat kisah kita kembali," lirih Ezra dan memejamkan matanya.
Akhirnya Ezra terlelap, dia tidur di ranjang Lia dengan hanya terhalang guling.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.