
"Jadi ... Lia sudah kembali ke akademi? kok kamu belum balik Lio?" tanya seorang paruh baya, dia adalah Jonathan Wesley yang merupakan ayah dari Alden.
"Ehm ... itu opa, besok Lio baru balik. Masih kangen sama mommy," alasan Lio.
Amora terkekeh, berbeda dengan Alden yang memandang sinis anaknya itu.
"Oh iya Al, mommy dengar kalian mengangkat seorang anak?" tanya seorang wanita paruh baya bernama Jeslyn Wesley yang merupakan ibu dari Alden dan istri dari Jonathan.
"Iya mom, namanya Gracia. Kami mengangkatnya menjadi anak, Ravin juga terlihat sangat senang dengan Cia," jawab Alden.
"Benarkah, panggil dia kesini. Mommy ingin Lihat," pinta Jeslyn.
Alden mengangguk, dia memanggil salah satu bodyguard yang berjaga di sudut ruangan itu dan memerintahkannya untuk memanggil Cia.
Tak lama Cia datang dengan Ravin, mereka langsung mendekat pada Alden dan Amora.
"Cia sayang, kenalin ... ini oma dan opa, ayo sapa mereka," pinta Amora.
Cia menatap Jeslyn dan Jonathan yang menatapnya, dia mengerutkan keningnya ketika melihat Jeslyn yang berbinar menatapnya.
"Omanya Cia?" tanya Cia.
"Iya sayang, sini sama oma." pinta Jeslyn dan menarik pela pergelangan tangan Cia.
"Halo oma, nama Cia Glacia," ucap Cia.
Jeslyn tersenyum, dia mencubit pelan pipi Cia yang masih terlihat kurus. Dia menatap Amora yang tersenyum menatap Cia.
"Cia sangat lucu, dimana kalian mendapatkannya?" tanya Jeslyn.
"Kuburan, oma," jawab Lio.
Lio tak salah, dia benar jika dirinya menemukan Cia di kuburan ketika Heri meninggal.
"Gak usah ngarang kamu!" sinis Jonathan.
"Beneran opa! aku gak bohong, aku ketemu Cia di kuburan," serius Lio.
"Di kubulana abang yah?" tanya Cia dengan wajah lugunya.
Lio mengangguk, dia kembali menatap Jonathan yang menatap sinis ke arahnya.
"Bener loh!" bela Lio.
"Benar dad, Lio tidak sedang bercanda. Dia menemukan Cia di makam abangnya yang meninggal akibat pertempuran." ujar Amora sambil menarik Ravin yang akan meminum kopi milik Alden.
"Iiihhh mommy! bental dulu! minum ceuyup aja," kesal Ravin.
Alden menggelengkan kepalanya pelan, putranya itu sangat suka mencuri kopinya. Bahkan ketika dirinya tinggal kopinya untuk menelpon saat kembali kopi itu sudah kandas karena sang putra.
"Ravin bawa Cia main lagi aja gih sana!" bujuk Amora.
"Mommy tuh gimana cih! tadi di suluh kecini, sekalang di ucil!" geriti Ravin.
Mereka terkekeh, netra mereka menatap Ravin yang menarik Cia menjauhi mereka kenuju ruang main.
"Mereka sangat imut," gemas Jeslyn.
"Mommy benar," sahut Alden.
"Oh iya, singa Arthur masih ada disini?" tanya Jonathan.
"Masih dad, papi mau bawa pulang singannya Tapi Ravin gak mau balikin singa papi, katanya udah terlanjur sayang," jawab Alden.
Mereka tertawa, ada-ada saja kelakuan Ravin. Tak lama terdengar ponsel Lio berdering, dia melihat siapa yang menelponnya.
"Aku angkat telpon dulu, permisi," ujar Lio dan bangkit dari duduknya.
"Oh ya Lio, nanti kalau grandpa mu sudah datang. Langsung ajak kesini yah," ujar Alden.
Lio hanya mengacungkan jempolnya. Entah kenapa keluarga Miller juga ingin menemui sang putri yang menjadi istri Alden yaitu Amora.
Lio menoleh ke kanan dan kiri, dia segera menjawab telpon itu dan menempelkan benda pipih itu pada telinganya.
"Halo?"
"Halo Lio, ini saya Ezra. Sorry ganggu, saya mau tanya kalau Lia sakit perut biasanya di kasih obat apa?" tanya Ezra.
"Sakit apa dulu nih, nyeri menstruasi atau sakit perut biasa?" bingung Lio.
"Tadi Lia makan ....,"
Lio mendengarkan apa yang Ezra cerotakan tentang kondisi Lia, dia mengangguk pelan mengerti dengan apa yang Ezra ucapkan.
"Elusin aja, yang penting tuh anak tidur. Besok juga sembuh, udah jam sebelas ... lu gak tidur?" ujar Lio.
"Saya sudah tidur, tapi kembaranmu bangun dan kembali merengek sakit," terang Ezra.
"Emang gitu, tapi tenang aja kok palingan besok sembuh. Pokoknya jangan kasih dia makan ikan apapun, memang lidahnya bisa di bohongin tapi perutnya gak bisa," ucap Lio.
"Yaudah kakak ipar, gue mau ...,"
"kakak ipar?"
"Grandpa? Grandma? kapan kalian datang," tanya Lio dan mematikan ponselnya.
"Baru saja, jawab pertanyaan kami. Siapa yang kamu panggil kakak ipar? Elbert kan belum nikah?" bingung seorang wanita paruh yang merupakan grandma Lio dan ibu dari Amora yang bernama Queen Miller.
"Itu ... hahaha biasalah, candaan anak muda," sahut Lio.
Queen hanya mengangguk, dia menoleh menatap suaminya yang bernama Arthur Miller.
"Kamu mau istirahat apa ketemu dulu sama Amora?" tanya Queen.
"Ketemu dulu lah," jawab Arthur.
Queen dan Arthur lahirnya pergi dari hadapan Lio yang sedang menghela nafasnya lega.
***
"Ayo tidur Ravin, sudah malam," bujuk Amora pada putranya yang asik bermain.
"Ntal dulu mommy, macih jam catu-catu belum jam catu dua," tola Ravin.
"Cianya udah ngantuk sayang, udah yah mainnya," bujuk Amora dan mengambil mainan yang ada di tangan sang putra.
Ravin merengek dan berakhir menangis, dengan cekatan Amora menggendongnya dan menggandeng Cia menuju kamar mereka.
"Cia mau tidul cama kak Lola aja mommy," ujar Cia.
Amora mengangguk, dia mengantarkan Cia ke kamar Aurora.
Cklek!
Amora menggandeng tangan Cia memasuki kamar Aurora, putrinya itu sudah tidur sehingga dia berusaha tidak menimbulkan suara agar tak membangun kan putrinya.
Beruntunglah kasur Aurora tidak tinggi sehingga Cia dengan mudah naik dan tidur di sebelah kakaknya itu.
"Mommy tinggal yah sayang, kalau mau susu tinggal ke kamar mommy," ujar Amora.
"Iya mommy," lirih Cia karena sudah sangat mengantuk.
Amora keluar dari kamar, dia merasa heran dengan sang putra yang tak lagi menangis.
"Ravin tidur yah?" tanya Amora pada Alden yang melihat mereka masuk kamar.
Alden segera mendekati istrinya, dia menatap Ravin dan benar saja sang putra sudah tidur.
"Iya, kamu tidurin aja dia ke kasur. Aku mau ngurus kerjaan dulu sama papi dan daddy bentar," ujar Alden.
Amora mengangguk, dia merebahkan Ravin dan ikut berbaring di samping putranya.
"Cucu! Cucu na Lavin mana hiks ...,"
Amora segera bangkit, dia berjalan ke arah nakas dan mengambil botol susu Ravin. Dia memencet botol tersebut sehingga tercampurlah antara air hangat dan bubuk susu.
"Nih,"
Ravin segera menyambut susunya, dia mengedot susu itu dengan mata yang terpejam.
Amora yang melihat anaknya telah anteng segera membersihkan diri di kamar mandi.
Setelah beberapa menit, Amora keluar dengan handuk kimono yang menutupi tubuhnya.
Cklek!
Amora menatap Alden tang baru saja masuk, suaminya mengunci pintu dan mendekatinya.
"Kamu ngapain pakek handuk begitu?" heran Alden.
"Lupa bawa baju," singkat Amora dan berjalan menuju lemarinya.
Alden menyunggingkan senyum tipis, dia mendekat ke arah istrinya dan memeluknya dati belakang.
"Mas! lepas! aku mau pake baju!" kesal Amora.
"Gak usah pake baju, nanti juga di buka," ujar Alden.
Alden membalikkan tubuh istrinya, dia menatap.lekat sang istri yang kini tengah gugup.
Wajah Alden mendekat ke arah wajah istrinya, mereka memejamkan mata mereka. Saat bibir mereka hampir bersentuhan, tangisan anak mereka membuat Alden berdecak kesal.
PLUK!
"HUAAAA!"
Amora terkejut, dia langsung melihat sang anak yang menangis akibat botol susu yang jatuh tepat di depan wajahnya.
Sementara Alden mengacak rambutnya frustasi, tanpa pikir panjang dia segera masuk kamar mandi dengan keadaan yang kesal.
"Gagal terus!" gerutu Alden.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.