
Mobil Frans sampai di pelataran mansion Wesley, dia keluar dari mobil dan sedikit merapihkan jasnya.
Dia melangkahkan kakinya, tangannya membuka kaca matanya kala melihat seorang wanita yang tengah asik menyiram bunga.
"Cantik yah bunganya?" tanya Frans.
Wanita itu mengangguk, dia tak sadar siapa yang ada di belakangnya.
"Tapi sayang, masih cantikan kamu," ujar Frans.
Wanita itu menegang, dia bergetar takut bahkan selang yang dirinya pegang terjatuh. Wanita itu baru sadar jika di belakangnya ada pria yang selama ini dia hindari.
"Frans?"
"Yes darling," jawab Frans.
Wanita itu yang tak lain adakah Aqila langsung berlari masuk ke dalam mansion, dia sungguh tak mengira jika Frans akan akan mengejarnya hingga ke mansion Alden.
"Hei sayang, kenapa kau berlari?" panik Alden.
"Daddy ... di-di depan a-ada itu di depan ada,"
"Ada apa? kenapa kau ketakutan begitu?" heran Alden.
Aqila menormalkan detak jantungnya, dia akan kembali berbicara tapi suara bariton milik Frans mengejutkan mereka.
"Selamat pagi tuan Alden, maaf saya masuk tanpa izin," ujar Frans.
Aqila langsung bersembunyi di belakang sang daddy, sementara Alden menatap tajam Frans yang ada di depannya.
"Berani kau masuk ke mansionku! dimana semua bodyguard yang berjaga di depan hah?!" sentak Alden.
Frans menggeser tubuhnya, ternyata dirinya membawa mafioso yang menahan bodyguard Alden terlebih Alden hanya mempunyai separuh bodyguard dari biasanya yang mempermudah masuknya Frans.
"Pertahanan mansionmu begitu lemah tuan, kekasihku tak aman jika berada disini," ujar Frans.
"JIKA BERSAMAMU AKU AKAN LEBIH TIDAK MERASA AMAN, BISA AJA AKU MATI KARENA MAKAN HATI!" sentak Aqila.
Alden membisikkan sesuatu pada Aqila, sehingga Aqila pergi dan Alden menahan Frans untuk menyusul putrinya.
"Kau siapa huh?"
Frans menunjuk dirinya, " Aku? kau bertanya siapa aku? kau tak mengenalku? oh ayolah, sekarang siapa yang tak mengenalku? putra pertama Geo seorang mafia ...
"Bodoh! aku tak bertanya ayahmu, tapi aku bertanya siapa kamu. Apa jni yang di ajarkan oleh Geo mafia itu? anaknya tak lebih dari sekedar koala yang bodoh!" sela Alden.
Frans menganga tak percaya, apakah ini sifat asli dari pria yang di juluki penguasa bisnis?
"Kau ikut aku!" titah Alden sambil menarik kerah belakang Frans.
Sedangkan para mafioso yang menahan bodyguard Alden terkejut tak percaya apa yang di lakukan Alden pada king mereka.
"Lihat king kalian itu, dia tak ada apa-apanya di bandingkan tuan kami. Jatuhlah harga diri king kalian hahahah," ledek bodyguard Alden.
Mafioso pun ikut tertawa, mereka melepas bodyguard Alden dan kini mereka asik mengobrol sambil meminum kopi yang memang disiapkan untuk mereka.
Sedangkan Alden, dia mendorong Frans hingga pria itu hampir terjatuh. Netranya menatap tajam Frans yang kini berusaha membenarkan jasnya.
"Kau frans? pria yang telah melecehkan putriku?" tanya Alden.
"Aku tidak melecehkannya!" tak terima Frans.
Alden tertawa sumbang, dia mendekati frans dan menarik kerah kemeja pria itu.
"Terus apa hah?!" marah Alden.
"Cuma nitip saham om," ujar Frans dengan tenang Frans.
Alden mengerutkan keningnya, saham apa yang Frans maksud?
"Saham?"
"Iya, Aqila kan hamil tuh ... nah itu saham saya," ujar Frans
Alden yang baru saja tersadar arti dari perkataan Frans dirinya sungguh di buat semakin marah.
"KAU! YANG DI MAKSUD SAHAM ITU MENGHANCURKAN MASA DEPAN PUTRIKU BODOH!" teriak Alden.
Frans melepaskan tangan Alden dari kerahnya, dia menarik lengang Alden untuk duduk di sofa.
"Gini deh om, saya ceritain maksud kedatangan saya kesini," ujar Frans.
Alden baru sadar jika dirinya di perintah oleh pria tersebut langsung berdiri dan memukul punggung Frans.
"Yang bener aja lu nyuruh gue duduk, lu kesini mau tanggung jawab kan? yaudah tanggung jawab, ngapa jadi berasa gue yang lu kirim saham," kesal Alden.
Frans melototkan matanya, apakah begini absurdnya keluarga Wesley? apakah yang dirinya lihat di televisi itu hanya topeng mereka saja?
"Gimana cara kirimnya om? kan kita sama-sama batang?" bingung Frans.
"Oh iya yah, lupa om," gumam Alden.
***
"Jadi ... karena itu kamu tak sadar apa yang telah kamu lakukan pada putri saya?" tanya Alden dengan datar
"Iya, saya tidak tau siapa yang mencampurkan obat itu ke dalam minuman saya. Tapi yang saya tahu, jika Aqila di culik oleh Daniel. Paman saya, dia yang menjebak kami," ujar Frans.
"Lalu ... mengapa sebelum itu Aqila bilang jika hubungannya denganmu sepertinya tak akan lama apalagi kamu sepertinya tak ingin ke jenjang lebih serius bersama putri saya?" heran Alden..
"Bukan ... saya hanya berkata untuk menunggu bukan memutuskan, dan untuk setelah kejadian itu saya tak bisa berpikir apapun. Saya sangat syok sehingga berkata seperti itu pada Aqila, dan tentang menggugurkan ... saya kira Aqila bekerja sama dengan Daniel untuk menghancurkan saya," terang Frans.
Alden mengepalkan tangannya, dia bangkit dari duduknya dan meraih kerah kemeja Frans dan memukul wajah pria itu.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
"Kau kira aku tak pernah menanamkan didikan padanya? kau kira ayah kandung Aqila selama ini mengajarkan dia menjadi seorang pengecut yang berlindung di balik orang jahat hah?! apa otakmu sedangkal itu huh?!" geram Alden.
Frans menegakkan kepalanya, dia menatap Alden dengan berani.
"Saya memang pengecut karena melakukan semua itu, tapi saya hanya ingin memperbaikinya dengan tanggung jawab dan menjadi ayah yang baik untuk bayi saya kelak," tulus Frans.
Alden menghempaskan tubuh Frans, dia mengambil ponselnya dan menelpon sang istri.
"Turun dan bawa Aqila ke ruang tamu segera, tanpa anak-anak," titah Alden dan langsung mematikan ponselnya.
Alden memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya, dia menatap Frans yang masih tak meringis sakit saat wajahnya sudah babak belur.
Tak lama Amora dateng bersama Aqila yang memegangi tangan sang mommy dengan erat. Dia sungguh trauma terhadap Frans hingga tubuhnya bergetar
"Papah, Aqila gak mau," cicit Aqila yang mampu terdengar oleh Alden dan Frans.
"Kita selesaikan masalah ini sambil menunggu ayahmu datang, dia telah sampai di bandara dan kini tengah perjalanan menuju mansion kita," ujar Alden.
Alden meraih putrinya, dia menduduki Aqila tepat di tengah-tengah antara dirinya dan sang istri.
Aqila memeluk erat Amora, bahkan sangat erat hingga Amora bisa merasakan betapa takutnya Aqila sekarang ini.
"Satu hal yang saya ingin tanyakan, apa yang diri kamu sesali hingga ingin bertanggung jawab pada putri saya?" tanya Alden.
"Terlambat menyadari,"
Jawaban yang sangat singkat, tapi bisa membuat Alden tersenyum.
"Baiklah, keputusan bukan ada di tangan saya. Tapi pada putri saya, dan juga ayah kandungnya ... Gio Lawrance, pria yang berdiri di sana," unjuk Alden pada seorang pria uang berdiri di ambang pintu.
Sontak saja tatapan mereka beralih menatap pria itu yang tak lain adalah Gio.
"Apa sidangnya sudah selesai?" tanya Gio sambil berjalan mendekati mereka.
"Belum, gue serahkan semuanya sama lu. Jangan sampai sekarat, cukup membuatnya menyadari," canda Alden.
Gio menatap datar ke arah Frans, begitu jiga dengan Frans.
"Dia harus membayarnya berkali-kali lipat," ujar Gio yang membuat suasana semakin tegang.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.