Dark Memory

Dark Memory
End



Pagi ini Ezra dan Lia sudah sampai di rumah mereka, rumah yang tak terlalu besar seperti mansion tapi cukup di katakan mewah.


"Kamu langsung ke kamar gih, aku mau ke ruang kerja dulu," ujar Ezra pada Lia yang ada di rangkulannya.


Lia mengangguk, dia memejamkan matanya kala Ezra mencium keningnya.


"Kalau lapar tinggal pencet tombol biru yang ada di dekat nakas, nanti maid datang ke kamar. Okay sayang, jadi jangan turun lagi. Kasihan anak kita kelelahan," ujar Ezra.


Lia mengangguk lucu, sehingga Ezra pun gemas.


Lia akhirnya meninggalkan Ezra, badannya juga terasa lelah walau perjalanan tak terlalu jauh. Lia berjalan menuju kamar dengan santai, dia sangat merindukan kamarnya ini.


Cklek!


Lia membuka pintu kamarnya, setelah itu dia menutupnya kembali dan berjalan menuju ranjangnya.


DUGH!


TAK!


Lia yang baru saja melepas tas selempangnya terkejut, sontak saja dia melihat lemari nya.


"Aneh, apa itu yang jatuh yah?" gumam Lia.


Lia pun berjalan ke arah lemarinya, dengan perlahan dia mengulurkan tangannya mencapai gagang pintu lemarinya.


KREEET!


Tak!


Lia menunduk melihat apa yang jatuh setelah dirinya membuka lemari, ternyata itu sebuah kotak yang dulunya dia pernah simpan.


Lia oun mengambilnya, dia membuka kotak tersebut tapi tak mendapatkan apapun. Netranya teralih terhadap satu boneka yang berada di pojok bawa lemari yang tertutup dengan kain hingga hanya tampak kakinya saja.


Lia pun menunduk dan mengambil boneka tersebut, setelah itu dia kembali menegakkan tubuhnya dan mengamati boneka tersebut.


"Ini boneka yang pernah aku mau gunting itu kan? coba deh aku gunting, penasaran," gumam Lia.


Lia pun berjalan menuju nakas, dia membuka nakas dengan perlahan dan mengambil gunting yang ada disana.


Lia menduduki dirinya di kasur empuknya sambil berusaha menggunting perut boneka itu.


"Kayak ada isinya," gumam Lia.


Lia pun mengambilnya, dia melihat sebuah benda yang mirip dengan memory card kamera yang sebelumnya dirinya cari.


Dengan inisiatif Lia langsung beranjak dan mencari kamera Ezra, setelah dapat dia langsung memasukkan Memory card tersebut ke dalam kamera itu.


"Video apaan sih ini?" gumam Lia


Terlihat seorang wanita yang sedang berbicara dengan Zidan, tak lama datang seorang wanita lagi dan tampak dia terkejut.


"Mbak Diana?!"


"Maaf, saya kesini bukan ingin mengganggu kalian. Saya kesini karena ingin meminta mas Zidan menceraikan saya," ujar Diana.


"Apa maksudmu?!" tegas Zidan.


Diana tampak berdiri, dia mendekati perempuan itu dan menatapnya tajam.


"Saya merelakan mas Zidan dengan kamu, karena bagaimanapun juga saya orang ketiga yang sesungguhnya di antara kalian. Karena akulah istri kedua mas Zidan, bukan kamu,"


JDEERRR!


Lia menjatuhkan kamera tersebut, air matanya luruh seketika saat ucapan Ane atau Diana terngiang di otaknya.


"Jadi ... jadi ... Mamah istri kedua mas Zidan, lalu bunda? ini maksudnya gimana sih?!" kaget Lia.


Ane memang menceritakannya pada Lia, tapi Ane tak menceritakan bahwa dirinya lah istri kedua Zidan.


Cklek!


"Sayang, aku bawain buah potong untuk kamu,"


Lia terkejut saat Ezra masuk, dia menendang kamera tersebut ke bawah tempat tidur.


"Kamu kenapa?" panik Ezra saat mendapati istrinya menangis.


"Gak aku gak papa, tadi aku sebel liat cicak. Iya aku sebel liat cicak," gugup Lia.


Ezra tampak curiga sehingga Lia langsung mengganti topik mereka.


"Oh ini, kamu suka apel kan? kata mommy kamu paling suka apel jadi aku potongin apel, kan kata dokter kamu harus dapet nutrisi yang cukup," terang Ezra.


Lia mengangguk, dia menerima piring yang Ezra berikan. Setelahnya Ezra menatap sebuah boneka yang sudah rusak.


Ezra pun mengambil boneka tersebut, dan dia menoleh menatap Lia seakan bertanya mengapa boneka itu bisa seperti ini?


"Itu aku mau jait ulang, jelek bonekanya," ujar Lia.


Ezra mengangguk, dia menaikkan bahunya acuh dan menaruh boneka tersebut dia atas kasur.


"Yaudah aku balik ke ruang kerja dulu yah, di makan buahnya," ujar Ezra sambil mengelus rambut sang istri.


Lia mengangguk patuh, Ezra pun mencium pipinya dan beranjak dari kamarnya.


Setelah memastikan Ezra telah keluar dari kamar dan menuju ruang kerjanya. Lia segera mencari kamera itu di bawah tempat tidur.


Setelah menemukannya Lia langsung mengeluarkan memory tersebut.


"Hubungan kak Ezra dan mamah baru membaik, dan lagi kak Ezra baru saja menerima kenyataan itu. Jika memory ini sampai ke tangan kak Ezra, dia pasti akan lebih hancur lagi apalagi saat mengetahui bahwa ternyata kak Ezralah anak dari istri kedua," gumam Lia.


Lia pun berjalan ke kamar mandi, dia mendekati closet dan membuang memory tersebut dan menyalakan flush.


"Maaf, jika masa lalu terasa menyakitkan. untuk kak Ezra. Maka sebisa mungkin Lia akan menghilangkannya dari kehidupannya, karena kak Ezra adalah semangat Lia."


Lia pun kembali ke kamar, dia berjalan menuju balkon kamarnya dan melihat langit yang sangat biru.


"Sudah banyak yang kak Ezra lalui, tapi sekarang ada aku. Aku akan menyingkirkan sesuatu yang menyakiti kak Ezra termasuk kenyataan itu,"


Lia beralih menatap perutnya, dia mengelus perutnya.


"Sekarang hanya ada mommy, daddy dan kamu," gumam Lia.


Terdengar langkah derap kaki, Lia pun berbalik dan menatap Ezra yang juga tengah menatapnya.


"Kenapa di luar? buahnya juga belum di habiskan?" tanya Ezra.


Dari pertanyaan Ezra Lia yakin bahwa Ezra baru saja masuk sehingga pria itu tak mendengar ucapannya.


"Aku mau ngeliat luar aja," ujar Lia.


Ezra memeluk Lia dari belakang, dia menaruh kepalanya di pundak sang istri. Lia pun mengelus kepala suaminya yang ada di pundak nya.


"Terima kasih, kau masih menungguku untuk kembali. Terima kasih kau telah hadir dalam hidupku," lirih Ezra.


Lia mengelus lengan Ezra yang melingkar di perutnya, dia tersenyum kala Ezra mencium pipinya.


"Kak, permintaanku hanya satu. Kita lupakan masa lalu, dan kini kita tengah menjalani lembaran baru. Apapun rintangan yang kita lewati nanti, ingat satu hal ... ada aku yang selalu ada di sebelahmu,"


"Tentu honey," ujar Ezra.


Ezra membalikkan tubuh istrinya, kini mereka saling tatap. Tatapan mereka berubah intents, Ezra mendekati wajah istrinya begitu pula dengan Lia. Bibir mereka bertemu menyalurkan apa yang mereka rasakan.


Ini lah kehidupan mereka, seorang pria yang menginginkan kembalinya memory dan seorang wanita yang berharap pria nya kembali.


Kisah yang cukup rumit, tapi dengan begitu mereka bisa melewatinya dengan cinta mereka.


...~Tamat~...


Akhirnya tamat jugaπŸ€—πŸ€—πŸ€—, terima kasih untuk kalian yang sudah membaca cerita ini.


Terima kasih juga atas dukungan kalian dengan memberi like, vote hadian dan komen. Itu sungguh membantu karya ku.😘😘😘.


Mungkin kisah Ezra dan Lia akan berlanjut di karya baru ku yang berjudul My perfect mafia daddy



Langsung cek profil akuπŸ˜‰.


Oh iya aku boleh minta kesan kalian mengenai karya Dark memory?


**Silahkan komen tentang kesan yang kalian dapat dari Dark memory ini😍😍😍πŸ₯°.


Maaf masih banyak typo, dan juga kekurangan yang ada di karyaku iniπŸ€—πŸ€—πŸ€—.


PERINGATAN!


DARI CERITA INI KALIAN BISA AMBIL BAIKNYA DAN BUANG BURUKNYA OKAYπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰**