
"Saya nikahkan dan saya kawinkan kamu dengan putri saya Zanna Liana putri Wesley binti Alden Leon Wesley dengan mas kawin ... kamu ngasih mas kawin apa?"
Sore ini tepatnya Lia dan Ezra melaksanakan ijab kabul, bahkan kini Alden sudah berjabat tangan dengan Ezra di hadapan pak penghulu.
Zidan dan istrinya sudah datang begitu juga dengan Viola, Elbert dan Lio walaupun awal yang mengagetkan menurut mereka. Namun, saat pengucapan ijab kabul sepertinya Ezra belum memberi tahu Alden mas kawin apa yang ingin dia berikan pada Lia.
"Mas kawin?" bingung Ezra sambil menoleh menatap Zidan.
"Kok lihat papah, ya kamu nyiapin nggak! kita aja kesini mendadak ... mana tau kamu belum nyiapin mas kawin," ujar Zidan.
Ezra kembali menatap Alden dan melepaskan jabatannya dengan Alden, dia langsung mengeluarkan dompetnya untuk mencari uang disana. Namun, sayang sekali di dompetnya tidak ada uang cash hanya ada 2000 rupiah.
"Di dompet kamu ada berapa? jadiin mahar dulu, nanti kalau udah selesai akad ambil lagi di atm," usul Alden.
"Tapi om, di dompet saya cuma ada 2000. Sudah lama saya tidak ambil uang karena terus memakai ATM. Saya lupa nyiapin," sesal Ezra.
Alden dan lainnya tercengang termasuk Lia, dia menatap calon suaminya itu tak percaya sehingga merebut dompet Ezra dan melihatnya.
"Ini ada black card, ini juga ada STNK mobil," ucap Lia tak terima.
"Jangan ay, itu black card aku satu-satunya. Terus STNK mobil bukan punya aku tapi punya daddy, STNK mobil ku ketinggalan di rumah," ringis Ezra.
"HAAAA, TERUS KAMU BILANG KE SAYA PUNYA RUMAH, PUNYA MOBIL, PUNYA PERUSAHAAN ITU APA?" ujar Alden yang terlanjur kesal.
Ezra menggaruk leher belakangnya, dia meringis pelan kala melihat tatapan orang-orang yang menatapnya kaget.
"Gini om, kemarin kan aku kasih cincin pertunangan sama Lia. Jadiin aja itu mahar," usul Ezra.
"Kamu gimana sih kak, kan ni cincin di niatin buat tunangan bukan mahar! iiihhh kakak mah! yaudah dua ribu itu aja, biar berkah!" ketus Lia yang merasa Ezra mencandainya.
"Gini deh ay, mahar kali ini dua ribu, lagi pula nikah kita hanya keluarga yang tahu. Selesai aku bertugas baru kita nikah ulang lagi gimana?" usul Ezra.
Akhirnya Lia mengangguk walau terpaksa, dia menatap sang daddy yang akan melayangkan protes tetapi gerakan bibirnya mengatakan jika dia tidak apa-apa.
"Yaudah, silahkan anda jabat tangan tuan Alden kembali," ujar pak penghulu.
Ezra menjabat tangan Alden kembali, dia menghembuskan nafasnya pelan dan menatap Alden.
"Saya nikahkan kamu dengan putri saya Zanna Liana putri Wesley dengan mas kawin uang dua ...,"
"Yang bener sih kamu! ck, rasanya tuh susah menyebut dua ribu tau gak! bahkan saya gak pernah megang uang dua ribu," gerutu Alden yang di balas tatapan tajam dari sang istri.
"Huh .... saya nikahkan dan saya kawinkan kamu dengan putri saya Zanna Liana putri Wesley dengan mas kawin uang dua ribu rupiah di bayar Tu-nai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Zanna Liana putri Wesley dengan mas kawin tersebut tu-nai!"
"Bagaimana para saksi? sah?" tanya pak penghulu.
"SAH!"
Akhirnya Ezra dan Lia Resmi menikah dengan mahar dua ribu, walau begitu Lia tetap menerima karena tak mungkin juga setelah ini Ezra hanya memberinya dua ribu.
***
Sedangkan di lain tempat, kini seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Dea tengah menunggu cemas sang suami yang tengah di periksa oleh dokter.
Cklek!
"Gimana dok keadaan suami saya?" tanya Dea dengan panik.
"Apakah suami anda mempunyai riwayat gagal jantung? karena berdasarkan pemeriksaan, jantung suami anda mengalami masalah," tanya dokter tersebut.
"Iya dok, tapi akhir-akhir ini suami saya tidak apa-apa. Dan malah beraktifitas seperti biasanya," jawab Dea.
Dokter tersebut mengangguk, tiba-tiba saja teriakan dari suster membuat dokter tersebut kembali masuk.
"DOKTER! KEADAAN PASIEN SEMAKIN KRITIS!"
Dea panik, sementara dokter tersebut langsung kembali masuk dan memeriksa keadaan Jacob.
Dea meremas tangannya, dia sangat khawatir dengan keadaan suaminya. Sejahat apapun Jacob, pria itu tetap suaminya.
"Gimana dok? apa suami saya sudah sadar?" tanya Dea.
"Maaf bu, pasien kami nyatakan koma," ujar sang dokter yang mana membuat Dea terkejut.
Dea menangis, tapi sedetik kemudian dia mengambil ponselnya dan coba menghubungi Zidan.
Namun, Zidan yang kala ini sedang sibuk sehingga tak bisa mengangkat telpon tersebut dan mengabaikannya.
"Hiks ... dimana anak itu!" gerutu Dea.
Dea akhirnya menelpon Eveline, anak keduanya dengan Jacob.
"Halo mom,"
"Halo Eve, Eve daddy masuk rumah sakit hiks ... jantungnya kumat lagi hiks ... kamu kesini yah," pinta Dea.
"Apa? iya mom, Eve dan kak Arjuna akan berangkat kesana sekarang,"
Dea langsung mematikan ponselnya, dia segera mengurus kamar rawat sang suami.
Berbeda dengan mansion Wesley yang tampak sedang merayakan pernikahan Lia dan Ezra. Mereka asik berbincang sementara para anak kecil asik bermain.
"Cia ini kino temena Lavin," ucap Ravin pada Cia.
"Halo Kino, nama Cia ... Glacia." ucap Cia sambil berjabat tangan dengan Kino.
"Glacia?" tanya Kino.
"Bukan ... tapi Glacia," ralat Cia.
"Iya ... Glacia kan!" kekeh Kino.
sementara Ravin hanya menggaruk pelipisnya yang tak gatal, dia juga bingung mengapa nama Cia selalu salah Kino ucapkan.
"Namanya Gracia Kino, bukan Glacia," ucap Viola yang berada di dekat para bocil itu.
"Ooo ... Glacia kan," ucap Kino yang di balas anggukan oleh Cia.
Sedangkan Lio yang berada di sebelah Viola mengerutkan keningnya, dia bingung dengan perkataan Kino yang memanggil Gracia. Bukankah sedari tadi memang itu yang dia ucapkan?
"Tadi bukankah adikmu memanggilnya Glacia?" bingung Lio.
"Kamu tak akan mengerti, hanya anak dunia percadelan lah yang mengerti apa yang mereka maksudkan," terang Viola.
Lio semakin bingung apalagi kini bahasa para bocil itu sudah di luar bahasa mereka.
"Kino pelna polelok pelelok Lavin, tapi Lavin ... kino temen sekalang,"
"Cia jadi pacalna Kino yah," pinta Kino mengabaikan ucapan Ravin.
"Dih! tadi Lavin bilang kita temen loh, sekalang kok jadi lebut pacal Lavin? belalti kita mucuhan lagi!" ucap Ravin yang merasa tak terima
"Yang mau temena cama kamu ciapa? aku nda mau temena cama olang cadel!" ujar Kino dan berhasil memancing emosi Ravin.
BUGH!
"Huaaaa,"
Viola langsung memisahkan Ravin dan Kino yang kini sudah saling jambak, mereka menahan tubuh bocah itu yang selalu memberontak.
"Lepacin! lepacin! bial Lavin hajal mulutna! maling teliak maling! lepacin abang!" sentak Ravin.
"Kakak duga lepacin! Kino nda maling kok! Lavin pitnah Kino!" kesal Kino.
Akhirnya dengan terpaksa mereka membawa kedua bocah itu pada ibu mereka masing-masing. Dengan meninggalkan Cia yang sedang bingung.
"Kok pada belantem? kan kita beltiga emang cadel?" gumamnya.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.