Dark Memory

Dark Memory
Terungkap?



Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!"


Cklek!


Alden menoleh menatap seseorang yang baru saja masuk, sudut bibirnya terangkat membuat sebuah senyuman.


"Apa kabar win?" tanya Alden.


"Baik tuan." jawab Erwin sambil mendekat ke arah Alden dan menarik kursi untuknya duduk.


"Bagaimana kabar putrimu? ku rasa putrimu sangat cantik, cocoklah dengan putraku Laskar," ujar Alden.


Erwin mendengus kesal, mantan pengawal Alden kini menjadi sebuah pemilik restoran yang cukup terkenal. Sesekali dirinya akan menolong Alden jika itu sangat genting.


"Aku tidak sudi putriku nikah dengan putra anda tuan!" ujar Erwin dengan tidak sopannya.


"Oh ayolah, putraku tampan dan lagi dia keturunan Wesley," ujar Alden.


"Tapi dia putramu, pasti kelakuannya tak jauh beda dengan ayahnya," jengah Erwin.


Alden mendengus kesal, tangan kanannya mengambil sebuah map yang berwarna merah dan melemparkannya ke hadapan Erwin.


"Bantu aku mengurus proyek, keuntungan kita bagi dua," titah Alden.


Erwin membuka map tersebut, dia membacanya begitu detail hingga ada sesuatu hal yang membuat keningnya mengerut.


"Proyek mall? kau gila? kau sudah banyak membangun mall, apa masih kurang?" jengah Erwin.


Alden menggaruk pelipisnya. "Aku bingung ingin membuat proyek apa lagi,"


Erwin menghela nafasnya pelan, dia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya.


"Lebih baik kau tak usah ambil proyek apapun, kau sudah banyak memiliki segalanya. Fokuslah pada keluargamu saat ini," saran Erwin.


"Tidak bisa, aku harus bekerja untuk mewariskan pada anak-anakku kelak," ujar Alden..


"Apa kau tak mengerti juga? Elbert bisa membangun perusahaannya sendiri, jika kalian tidak memaksanya untuk memegang perusahaan tuan Jonathan,"


"Anak-anakmu tidak ada yang rakus dengan harta, mereka lebih senang kebebasan. Karena mereka di didik oleh istrimu untuk tak selalu mementingkan uang," lanjut Erwin.


Alden menunduk, benar apa yang dikatakan Erwin. Kehidupan bukan segalanya tentang kerja ... kerja ... dan kerja. Keluarga juga perlu hadirnya kepala keluarga.


"Thank's nasehatnya, gue sadar sekarang," ujar Alden.


Erwin tersenyum tipis dan mengangguk, sangat mudah membujuk Alden dengan iming-iming keluarga. Karena hati pria itu mudah tersentuh dengan kata keluarga.


"Oh iya, gue kesini cuman mau ngomong. Emangnya si Aqila udah nikah yah?" bingung Erwin.


"Hah? ngaco lu!" bantah Alden.


"Ish! iya, gue ketemu dia pas lagi di depan dokter kandungan. Lu taukan beberapa minggu yang lalu anak gue sakit, dan saat itu gue mau nebus obat eh malah ketemu dia," cerita Erwin.


Alden mengetuk jari telunjuknya, dia menggigit bibirnya. Otaknya berusaha mencerna ucapan Erwin.


"Gak ah Win, jangan fitnah lu. Putri gue gak mungkin kayak gitu," bantah Alden.


"Gak percaya lu? gue tanya langsung sama dokter kandungannya, dia temen gue!" kesal Erwin.


Erwin menghubungi temannya, sementara Alden menggigit jarinya karena gugup. Dia takut apa yang terjadi pada Amora terulang kembali pada Aqila.


"Gimana?" tanya Alden tanpa suara.


Erwin menunjukkan lima jarinya yang menandakan Alden harus diam dulu.


"Oh gitu ya Sis, Thank's ya infonya,"


"Gimana?"


Erwin mengangguk kecil. " Tadinya Sisca gak mau ngomong karena itu data pribadi pasien, tapi gue bilang ada sesuatu yang serius dan keluarga harus tau jadinya dia mau ngomong sama gue tentang keadaan Aqila," terang Erwin.


"Te-rus?" tanya Alden sambil menunggu ucapan selanjutnya.


"Aqila hamil, usia kandungannya sudah masuk bulan ke dua,"


JDEEERR!


***


BUGH!


BUGH!


"BERHENTI PAH HIKS BERHENTI!" sentak Ane sambil menarik lengan suaminya yang akan kembali memukuli Frans.


"Lepas mah, papah malu punya anak seperti dia. Papah kecewa dengan dia mah!" ujar Geo dengan nafas memburu.


Ica hanya menatap itu dengan tangan di lipat di depan dada. Senyuman nya terangkat, tapi bukan senyuman tulus. Tapi senyuman menyiksa.


"Maafin Frans pah, itu di luar kendali Frans. Frans gak tau jika kami di jebak," lirih Frans karena dirinya tak sanggup lagi berbicara.


"NIKAHI AQILA!" sentak Ane.


Frans menggeleng kecil, air matanya jatuh ketika melihat air mata sang mamah.


"Belum saatnya mah," ujar Frans.


"Kandungan dia akan semakin besar, mau ngomong apa dia sama keluarganya kalau mereka tahu? AQILA AKAN DI EJEK KARENA HAMIL DI LUAR NIKAH FRANS! Dimana otak kamu?" isak Ane.


Frans menunduk lama, hingga ia kembali mengangkat wajahnya dan menatap sang mamah.


"Urusan mamah dengan keluarga Elvish belum selesai, bagaimana bisa Frans menikahi Aqila yang notabennya adalah putri angkat dari besan Elvish yaitu Alden Leon Wesley?"


Ane sungguh terkejut, begitu pula dengan Geo. Ica? jangan di tanya lagi, dirinya mendadak kaku mendengar nya.


"Apa hubungannya kakak Qila dengan keluarga Wesley?" heran Iva.


Frans terdiam sejenak, kemudian dia menatap serius mamahnya.


"Mamah belum menyelesaikan masalah dengan Leon, putra kandung mamah. Jika aku menikah dengan Aqila, otomatis keluarga Wesley dan Elvish tahu betul siapa mamah terlebih Amora istri dari Alden adalah sahabat mamah," ujar Frans.


Frans beranjak dari sana sambil memegangi pipinya. Kini, di ruangan itu hanya tersisa keheningan karena terkejutnya mereka.


"Ba-bagaimana ini? aku ... aku sama sekali tidak tau," lirih Ane.


"Bukan hanya kau, Gio juga sama sekali tak menceritakannya padaku," ujar Geo.


Ica berlari ke kamar abangnya, dia sungguh penasaran dengan apa yang terjadi.


CKLEK!


"ABANG!"


Ica memasuki kamar abangnya dengan tidak ada sopannya, dia segera mendekati abangnya yang tengah mengobati lukanya.


"Hm,"


"Emang bener? berarti si Ezra Leon dong? kan besannya Wesley Elvish?" bingung Ica.


Frans menghentikan kegiatannya, dia menatap Ica dengan pandangan bingung.


"Lia siapa?" bingungnya.


"Itu loh, temen aku yang kesini terus pingsan kemarin itu. Abang Liat kan? dia istri dari Ezra, eh ... tapi kok namanya beda?" ujar Ica.


Kerutan tercetak jelas di kening Frans, dia mencoba memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Jadi ... kemarin tuh cewe pingsan karena syok ngeliat mamah? atau karena sakit?" tanya Frans.


PLAK!


Ica bertepuk tangan, dia menunjuk Frans dengan spontan


"Nah, bener tuh! sesuai pikiran gue! apa jangan-jangan dia syok gitu kali yah? orang pas ngeliat mamah wajahnya kayak pengen nangis terus pucat gitu kok wajahnya. Di tambah mamah bilang kalau Lia menantunya waktu di rumah sakit," gumam Ica.


Frans terdiam, jika benar maka hubungan keluarga ini hanya ada dua kemungkinan. Berdamai atau berperang. Elvish dan Wesley kini telah bersatu, masalah Ane dan masalah dirinya pada dua keluarga itu. Apa yang harus dia lakukan sekarang?


"Lu ... gue jamin lu susah dapet restu," seru Ica.


"Maksudnya?" bingung Frans.


"Lia cerita ama gue tentang Ezra, keluarga Wesley pada posesiv sama Lia bahkan mereka bikin perjanjian sama Ezra. Nah lu, lu ngehamilin anak orang di tambah kabur lagi lu," ancam Ica.


Frans menggedikkan bahunya. "Gue udah nanam saham duluan, mau gak mau mereka harus balikin saham gue,"


"HA-HAH?"