
Ezra tengah kelimpungan mencari istrinya, saat selesai meeting tadi Ezra tak mendapati sang istri ada di ruangannya sehingga dirinya kini sibuk mencari di temani oleh sang tangan kanannya.
"Gimana? sudah ketemu istri saya?" tanya Ezra.
"Belum tuan muda, istri anda hamil kan?" tanya sang tangan kanan yang bernama Sherena Emily yang merupakan perempuan tangguh.
"Iya," sahut Ezra.
Emily menepuk tangannya, dia berlari meninggalkan Ezra yang tengah kebingungan dengan ekspresi Emily.
Ezra pun mengikuti sang kepercayaan, ternyata Emily menuju toilet. Dia memecah perkumpulan para wanita yang saling berbisik.
"MINGGIR WOY! GUE MAU LEWAT INI! MINGGIR GUE BILANG!" sentak Emily.
Seketika para pegawai wanita itu minggir, mereka memberi akses masuk Emily.
Emily masuk ke dalam toilet, dia terkejut melihat Lia yang sedang menangis sambil menunduk kala seorang OB membentaknya.
"GILA YA LO BENTAK DIA HAH?!" sentak Emily.
OB itu terlihat takut, dia terdiam saat Emily menatapnya tajam.
"Gak papa?" tanya Emily.
Lia menggeleng, dia keluar dari sana meninggalkan Emily menatap tajam ke arah OB tersebut.
Lia berlari hingga dirinya tak sadar jika dia hampir menabrak Ezra jika Ezra tak menahan lengannya.
"Loh ay, dari tadi aku cariin loh. Kamu kemana aja?" panik Ezra.
Lia memeluk Ezra dengan kencang, dia menangis tersedu-sedu membuat Ezra semakin panik.
"Ay kenapa? perutnya sakit? atau ada orang yang nyakitin kamu?" panik Ezra.
Lia hanya menggeleng, Ezra pun dengan inisiatif mengangkat sang istri ke gendongannya. istri akan terus menangis yang membuat sang istri lelah, karena itu Ezra harus membawanya ke ruang kerjanya untuk menenangkannya.
"Coba sini cerita sama aku kamu kenapa?" tanya Ezra setelah menduduki istrinya di sofa ruang kerjanya.
Lia masih sesenggukan, tak lama Emily masuk dengan gelas air putih di tangannya.
"Ini nona, minum dulu. Kasihan atuh suaranya mau habis begitu," ujar Emily.
Ezra mengambil gelas tersebut, dia membantu sang istri minum. Lia oun tak menolak, dia tetap minum dan setelah merasa cukup dia menjauhkan mulutnya dari gelas tersebut.
"Udah?" tanya Ezra.
Lia mengangguk, dia menatap Ezra dengan air mata yang terus menggenang.
"Kamu kenapa? jangan nangis terus, aku bingung jadinya," lembut Ezra.
Lia menggeleng, dia menatap Emily yang juga tengah menatapnya.
"Tuan, kayaknya nona syok deh. Lebih baik suruh tidur dulu," ujar Emily.
Ezra pun mengangguk, dia menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar pribadinya. Sementara Emily dia membuka laptopnya dan mencoba membuka rekaman CCTV yang ada di depan toilet wanita.
Emily mengerutkan keningnya ketika mendengar suara muntahan dan bentakan, sehingga dia lebih mengeraskan lagi suara tersebut.
"Ooo gitu," gumam Emily.
"Gimana? udah dapet penyebab kenapa istri saya bisa seperti itu?" tanya Ezra yang sepertinya baru keluar dari kamar pribadinya.
Emily tersentak kaget, dia mengangguk ragu dan memberikan laptopnya pada Ezra.
Ezra pun mengambilnya, dia mengamati laptop tersebut dengan intens. Rahangnya mengeras ketika mendengar suara bentakan yang di tujukan pada sang istri.
"Panggil OB tersebut," tegas Ezra.
Emily mengangguk, dia segera keluar dari ruangan Ezra dan mengelus dadanya pelan.
"Tamatlah riwayatmu OB yang malang," gumam Emily.
***
"Tidak tuan,"
"KAU TIDAK TAHU APA PURA-PURA TIDAK TAHU HUH?!" bentak Ezra.
"Be-benar ti-tidak tau tuan," lirihnya.
Ezra membalikkan laptopnya sehingga kini wanita OB itu bisa melihat apa yang di tayangkan oleh layar laptop tersebut.
"EMILY!"
"Iya tuan?" sahut Emily yang berdiri di sebelah Ezra.
"Jelaskan apa kesalahan dia," ujar Ezra.
Emily mengangguk, dia berdehem dan menatap datar OB tersebut yang juga kini tengah menatapnya takut.
"Pertama, kau telah membentak seorang wanita yang merupakan istri dari CEO Castillo Company. Yang kedua, kau telah membuat istri dari seorang Ezra Louise Castillo menangis. Yang ketiga, istri dari CEO sedang hamil muda dan wajar saja jika dia muntah-muntah. Sudah tugasmu untuk membersihkannya dan kau malah lancang sekali menyuruh istri dari seorang CEO!" datar Emily.
OB itu ketakutan, tubuhnya bergetar tatapannya pun kini menatap Ezra takut karena Ezra mengeluarkan aura yang tak biasa.
"Maafkan saya tuan, saya tidak tahu jika itu istri anda," belanya.
"Terus kalau memang dia bukan istri saya, kau mau semena-mena dengannya huh? YANG WANITA ITU KANDUNG ADALAH CALON PENERUS CASTILLO COMPANY!" sentak Ezra.
Wanita itu bersudut di hadapan Ezra yang mana membuat Ezra menyentaknya.
"SAYA BUKAN TUHAN! KENAPA KAU MALAH SUJUD DI HADAPANKU?! KAU SEMAKIN MEMBUATKU MARAH!" ujar Ezra dan berlalu dari hadapan wanita itu menuju kamar pribadinya. Tapi langkahnya terhenti mendengar suara wanita itu.
"Saya mohon tuan, jangan pecat saya. Anak saya mau makan apa nanti?"
Ezra memejamkan matanya, dirinya tak tega jika anak wanita tersebut juga jadi korban karena keegoisan sang ibu.
Ezra membuka matanya, dia berbalik dan menatap wanita tersebut dengan tajam.
"Baik, ini yang terakhir kalinya. Ingat, kau bukan bos atau raja. Kau hanyalah pekerja dan jangan sok berkuasa seperti tadi. Paham!"
"Paham tuan, terima kasih tuan," sahutnya.
Ezra kembali ke kamar pribadinya, dia menutup pintu dengan pelan dan menghampiri sang istri yang tertidur pulas.
"Pasti kau takit hm," ujar Ezra.
Dapat Ezra lihat mata Lia membengkak karena terlalu banyak menangis, tangannya terulur untuk menyingkirkan rambut yang menutupi pipi bulat Lia.
Kini Netra Ezra beralih menatap perut Lia, dia menyingkap baju yang di kenakan sang istri sehingga tampak lah perut datar Lia yang sedikit membuncit.
"Kau juga pasti takut, maafkan daddy sayang. Lain kali daddy akan lebih menjagamu," lirih Ezra.
Ezra mengetuk perut Lia, dia sedang memikirkan apakah sang anak berjenis kelamin laki-laki ataukah perempuan.
"Kamu itu laki-laki atau perempuan? kalau daddy maunya perempuan, tapi kalau keluarnya laki-laki yasudah gak papa. Daddy bisa buat adik lagi untukmu," gumam Ezra.
Tak lama pintu Ezra di ketuk, dia membenarkan kembali baju istrinya dan berjalan menuju pintu.
"Ada apa?" to the point Ezra
"Maaf tuan, tuan Frans tengah mencari anda bersama asistennya Kenan," ujar Emily.
"Ck, kau saja yang temui mereka," kesal Ezra.
Emily merengut kesal. "Kan tuan yang di cari, kenapa saya? kalau saya yang temui mereka, bisa saja si kenan itu saya parut wajahnya di talenan ibu saya!" kesal Emily.
Ezra menghela nafasnya, memang Emily jika sudah bertemu dengan Kenan seperti tom and jerry. Selalu berantem dan tak ada habisnya.
"Baiklah, suruh mereka menunggu," ujar Ezra.
"Oke!" seru Emily.
Ezra menggelengkan kepalanya. "Dasar, awas aja jadi saling suka,"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.