Dark Memory

Dark Memory
Bertemu camer



Lia turun dari mobil bersamaan dengan Cia, mereka telah sampai di depan pintu utama Mansion Wesley. Sementara Ezra dia belum keluar dari mobil entah sedang apa.


"Ravin!" panggil Lia saat melihat adik kecilnya yang sedang berada di ambang pintu mansion sambil memegang botol susu.


Ravin yang merasa di panggil menoleh, dia langsung berlari mendekati Lia.


"KAK LIAA!" seru Ravin.


Lia yang tadi menggandeng lengan Cia melepaskan gandengannya, dia langsung membawa sang adik kedalam pelukannya.


"Kau merindukan kakakmu hm?" tanya Lia.


Ravin melepas pelukannya, dia mengangguk antusias setelahnya netranya menoleh menatap Cia yang juga tengah menatapnya.


"Tantik," gumam Ravin.


Lia yang mendengar gumaman Ravin terkekeh, dia mencolek dagu adiknya dan meledeknya.


"Ekhem, lagi ngegombal nih si bontot," ledek Lia.


Ravin mendekat ke arah Cia, dia menyerahkan botol susunya pada Lia yang mana membuat Lia bingung.


"Titip dulu, nanti Lavin ambil lagi," ujarnya.


Lia mengangguk, netranya beralih menatap orang tuanya yang berjalan ke arahnya. Dia bangkit untuk berdiri dan memeluk Amora.


"Mommy," lirih Lia.


"Sayang, bagaimana kabarmu? apa kau pulang bersama Lio?" tanya Amora sambil melepaskan pelukannya.


"Lio mungkin sedang berada di asrama militer mom, aku tidak pulang dengannya," jawab Lia.


Sedangkan Alden sudah mendekati mobil yang Lia tumpangi tadi, dia mengerutkan keningnya bingung ketika melihat mobil tersebut.


Cklek!


Alden melihat seorang pria yang haru saja keluar dari dalam mobil, dia membulatkan matanya ketika melihat pria itu.


"KAU! KAU LEON!" seru Alden.


Ezra yang merasa terkejut akhirnya terlonjak kaget, apalagi Alden langsung berteriak di dekat wajahnya.


Sedangkan Lia dan Amora langsung menghampiri Alden dan Ezra.


"Iya dad ini Leon, tapi jangan memanggilnya Leon. Karena sekarang namanya adalah Ezra, bukan Leon." terang Lia sambil menatap sang daddy.


"Buat apa dia ada disini?" tanya Alden dengan ketus.


Lia dan Amora saling tatap, berbeda dengan Ezra yang malah menatap Alden dengan datar.


"Saya hanya ingin mengantarkan putri anda, dan juga Cia," terang Ezra.


Lia tau jika niat Ezra kesini adalah melamarnya, tetapi dirinya belum siap untuk menikah. Dirinya masih merasa labil untuk membangun sebuah rumah tangga.


Netra Ezra beralih menatap Amora yang berkaca-kaca menatapnya, dirinya merasa rindu yang sangat pada Amora.


"Le ... ehm Ezra, Ezra ingat mommy tidak?" tanya Amora dengan nada pelan.


Ezra menggeleng polos, dia tak mengingat Amora tetapi entah mengapa dia sangat rindu dengan wanita yang berada di depannya.


"Gak inget yah, apa kepalamu masih terasa sakit nak?" tanya Amora sambil mengelus rambut tebal Ezra.


Ezra mengangguk tetapi sedetik kemudian menggeleng. Bagaikan anak kecil yang sedang di tanya oleh sang ibu.


"Apa-apaan sih yang! lepas-lepas," ujar Alden tak terima dan kembali menarik tangan sang istri.


"Apaan sih mas! Ezra juga putraku, sama seperti Lio," kesal Amora.


Lia terkekeh, daddynya sangat posesif terhadap sang mommy. Sementara dua bocah itu sudah tak berada disana, mungkin mereka sedang bermain.


"Yaudah om, tante. Saya pamit pulang dulu," ujar Ezra.


"Kok pulang kak? baru aja nyampe loh!" kesal Lia.


"Buat apa lagi? niat saya kesini mau melamarmu, tapi kamu tidak mau. Jadi apa gunanya saya di sini?" ketus Ezra.


Amora dan Alden hanya diam, mereka tak mengerti apa masalah mereka. Untuk itu mereka tak akan memotong obrolan mereka.


"Kak, aku sudah bilangkan. Umurku masih 19 tahun, dan aku masih sangat labil kak!" kesal Lia.


Sementara Lia dan Ezra saling pandang dengan tatapan kesal, tatapan mereka di putuskan oleh Lia terlebih dahulu berjalan masuk dengan kesal.


Ezra hanya menatap kepergian Lia dengan senyum mengembang, dia justru sangat bahagia kali ini.


"Jika terlambat kau akan di ambil orang lain, lebih baik aku buat drama sampai kau mau menjadi istriku secepatnya." gumam Ezra sambil memasukkan tangannya kedalam saku celananya.


***


"Lio, lu gak balik apa? kembaran lu kan balik, kenapa lu gak ikut?" tanya Reno.


Mereka sudah sampai di asrama, setelah mereka mendengar kabar bahwa Cia sudah di bawa oleh seorang wanita yang memakai baju militer mereka pun memutuskan kembali ke asrama.


"Balik?" heran Lio sambil menghentikan langkahnya yang mana membuat Reno oun turut menghentikan nya.


"Lu gak tau?" bingung Reno yang di balas gelengan oleh Lio.


"Tadi jendral kabarin gue, katanya dia balik ke kota jakarta bareng sama Lia. Katanya mereka bawa adik dari Heri," terang Reno.


"Kenapa lu gak ngomong sama gue bambang! tau gitu kita gak usah nyari Cia di panti nya kalau udah di bawa ama kembaran gue! dodol emang lu!" gerutu Lio dan beranjak meninggalkan Reno.


Reno pun hanya menggaruk belakang lehernya, dia juga bingung mengapa otaknya lola.


Reno pun mengikuti Lio, tetapi saat berjalan dia tak fokus sehingga menabrak seseorang.


Brugh!


"Aduh!" ringis Reno.


"Eh upil badak! kalau jalan liat-liat dong!" seru seorang wanita yang tak lain adalah Ica.


Reno berdiri dengan kesal, dia menatap Ica dengan tajam.


"Eh gepeng, lu seenaknya aja manggil gue upil badak!" kesal Reno.


"Gepeng? badan gue bagus bak gitar spanyol begini di bilang gepeng? mata lo rabun yah!" balas Ica.


"Gitar spanyol dari mana? dari ujung sedotan lah iya! badan kekurangan gizi gitu juga," sindir Reno.


Ica mengepalkan tangannya, rasanya dirinya akan membogem wajah Reno. Tetapi dia juga sadar pangkatnya disini tak setinggi Reno.


"Apa?! mau mukul gue iya? lu emang bener cocoknya jadi preman yah! telinga banyak tindikan, ada tato pula! cewek kok kayak cowok, gimana mau dapet jodoh cih," ujar Reno dan berlalu dari sana.


Ica yang mendengar itu mengepalkan tangannya, dia sudah sangat kesal dengan Reno.


"Gue sumpahin lu, suatu saat lu bakalan cinta mati sama gue!" geram Ica dan beranjak menuju kamar asramanya.


Ica menekuk wajahnya, dia masih kesal dengan Reno yang meledeknya.


Brak!


Viola terlonjak kaget, begitu pun dengan Mesya yang langsung terbangun dari tidurnya.


"Eh buset dah! abis patah hati lu," kesal Viola.


Ica tak menjawab, dia langsung menuju ranjangnya dan memukul-mukul gulingnya.


"Lu ngapa dah?" heran Viola.


"Lu tau Vi? si Reno, letnan songong itu ngatain gue kekurangan gizi! apa dia gak lihat badan gue kayak gitar spanyol begini," gerutu Ica.


Viola tertawa kencang, dia bahkan memukul meja karena tak tahan dengan kelucuan yang Ica katakan.


"Ish! lu kok ketawa sih!" kesal Ica.


"Hahaha si Reno salah banget bilang lu kekurangan Gizi, apa matanya bermasalah hahaha," ujar Viola.


"Tuh kan! matanya dia emang bermasalah!" lega Ica.


Tapi sedetik kemudian Viola berkata kembali yang mana membuat Ica mematung.


"Lah iya matanya bermasalah, terlalu biasa kalau bilang lu kekurangan gizi. Seharusnya dia bilang badan lu lebih mirip kerupuk rengginang hahaha," kata Lia.


"Dasar! temen minim akhlak lu!" kesal Ica.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.