
Seorang wanita kini sibuk memandangi foto seorang pria yang tengah tersenyum. Tak terasa air matanya terjatuh tepat di foto tersebut.
"Heri ... kenapa lu ninggalin gue secepat ini?" gumam wanita itu yang tak lain adalah Mesya.
"Mesya!"
Mesya mengahapus air matanya, dia menoleh dan menatap datar seseorang yang memanggilnya.
"Ngapain lu kesini?" ketus Mesya.
"Mesya, gue mau kita kayak dulu lagi. Gak seperti ini yang saling berjaga jarak," lirih wanita itu.
"Clara ... gue akan tanya, lu bisa gak kembaliin orang tua gue? lu bisa gak ngebuat ayah dan bunda sayang lagi sama gue? lu bisa gak, gak jadi parasit dalam hidup gue? gak bisa kan? memang pada dasarnya lu itu parasit! lu hancurin kebahagiaan gue! lu hancurin harapan gue! lu hancurin hidup gue hiks ...," sentak Mesya.
Clara hanya bisa menangis, dia juga tak ingin seperti ini. Tapi, dia hanya ingin Mesya berbagi kasih sayang orang tua Mesya pada dirinya.
"Mesya, kenapa lu gak bisa bagi ayah dan bunda sama gue. Kita bisa bahagia bareng," lirih Clara.
"GUE YANG BAHAGIA? LU YANG BAHAGIA! BUKAN GUE YANG GAK MAU BERBAGI, TAPI LU YANG SERAKAH DENGAN SEMUA KASIH SAYANG ORANG TUA GUE!" teriak Mesya dengan nafas memburu.
"Mesya, gue bakal bicarakan sama ayah biar ayah sayang lagi sama lu hiks ...." ucap Clara sambil meraih tangan Mesya.
Mesya menepis tangan Clara, dia menatap tajam wajah Clara yang telah di banjiri air mata dan juga sama juga dengannya.
"Terlambat ... terlambat Clara! ayah dan bunda udah terlanjur benci gue!" bentak Mesya.
"Gue heran, orang tua gue mungut anak orang yang gak jelas asal-usulnya dan malah membuang anak kandungnya sendiri? GUE GAK HABIS PIKIR!" lanjut Mesya.
Clara hanya bisa menangis, dirinya tidak mau seperti ini. Namun, dia mengaku jika dirinya egois untuk mendapatkan kasih sayang orang tua.
"Mesya, gue mohon. Bunda lagi sakit, dia terus manggil nama lu," lirih Clara.
"Gue gak mau lagi egois pada diri gue sendiri. Sudah cukup selama ini kalian sakitin mental gue hiks ... biarkan gue pergi dari kehidupan kalian. Biarkan gue bahagia hiks ...," isak Mesya dan berlalu dari hadapan Clara.
Clara menatap sendu kepergian Mesya, dirinya merasa bersalah dengan Mesya
"Maaf sya, gue hanya ingin merasakan bagaimana rasanya punya orang tua. Tapi, tanpa gue sadari ... gue buat lu terluka," lirih Clara.
***
Sehabis sarapan, kini kediaman Wesley ramai akibat keributan Ravin dan juga Kino yang berebut Cia.
"Cia na Lavin!" sentak Ravin sambil menarik lengan Cia.
"Cia na Kino!" ucap Kino tak terima.
Orang dewasa hanya menatap jengah mereka. Sampai Zidan membuat mereka mengalihkan atensi mereka.
"Ekhem ... Al, gue mau bicara tentang Lia dan Ezra. Apakah lu setuju jika Lia pindah ke Mansion Elvish?" tanya Zidan.
"Gila lu? lu mau anak gue masuk neraka berkedok mansion itu hah?! lu gak tau apa kalau pak reyot itu menentang keras hubungan Ezra dan Lia, gak ada otak lu," kesal Alden.
Zidan dan Ezra menatap datar Alden yang duduk di depan mereka, rasanya mereka ingin menampar mulut Alden jika saja tidak menyadari posisi mereka.
"Makanya dengerin gue dulu kadal guruuun!" kesal Ezra.
"Eh kambing! kenapa jadi lu yang manggil gue kadal gurun hah?!" ucap Alden yang merasa tak terima.
"KALIAN BISA DIAM TIDAK HAH?!" bentak Amora yang mana membuat pria itu terdiam bagaikan anak kecil yang sedang di omeli oleh ibu mereka.
Zidan menatap Amora, dia menghela nafasnya ketika perempuan itu mengodenya untuk melanjutkan pembicaraan.
"Daddy gue Jacob ... dia koma," ujar Zidan.
Amora dan Alden terkejut, mereka menatap Zidan tak percaya.
"Kok enak banget sih!! kita sengsara bertahun-tahun lah dia dapet cuman koma? gak terima gue!" sentak Alden.
"Tapi mas, itu artinya Zanna bisa tenang hingga Jacob sadar. Jika nanti dia sadar, kita akan pikir ulang kembali bagaimana nantinya," bujuk Amora.
"Gue mau anak gue di Mansion Wesley, titik!" ucap Alden.
"Maaf dad, daddy gak bisa melarang Lia untuk mengikuti kemauanku. Karena Lia sudah menerimanya, benarkan ay?" ujar Ezra dan menatap Lia yang tersenyum menatapnya.
Alden bangkit dari duduknya, dia menatap Zidan dengan tajam. Jiwa seorang ayah dalam dirinya bangkit karena rasa khawatir dengan sang putri.
"Apa lu bisa jamin putri gue baik-baik aja tinggal disana hah?! apa lu bisa jamin si jacob gak bakal nyakitin putri gue jika dia sudah sadar?" tanya Alden.
"Bisa, nyawa saya jadi jaminannya dad," jawab Ezra dan menatap Alden dengan sungguh-sungguh.
Alden tersenyum, dia pergi dari sana entah kemana yang mana membuat orang yang berada di ruang keluarga bingung.
Tak lama Alden kembali dengan sebuah kertas dan juga pulpen, dia menyerahkan keduanya pada Ezra yang di balas tatapan bingung dari pria itu.
"Disana daddy sudah menulis apa saja yang tidak boleh kamu langgar selama menjadi suami putri saya," ujar Alden.
Ezra mengerutkan keningnya, begitu banyak peraturan yang Alden buat untuk dirinya sebagai menantu.
Tidak boleh cemburu.
Tidak boleh marah kepada putri saya.
Tidak boleh membentak putri saya.
Tidak boleh membuat putri saya menangis.
Untuk 2 tahun ke depan, pihak kedua tidak boleh menuntut putri saya untuk memiliki anak.
Selalu siaga jika putri saya membutuhkan pihak kedua.
Harus mengunjungi Mansion Wesley minimal 2 minggu sekali.
Tidak boleh membiarkan putri saya terancam.
Tidak boleh berselingkuh, jika pihak kedua di ketahui telah berselingkuh ... maka pihak kedua harus melepaskan putri pihak pertama.
Jatah pihak kedua kepada istrinya hanya ada dua kali dalam seminggu.
Ezra membulatkan matanya, bahkan kini mulutnya sudah membulat dan menatap Alden tak percaya.
"Prioritas jatahku juga masuk dalam perjanjian?" beo Ezra.
"Ya iyalah! biar kamu gak seenaknya dengan putri saya." ucap Alden sambil melipat tangannya di depan dada dengan angkuh.
SREEK!
Amora mengambil kertas itu dan juga pulpennya, dia mencoret kertas tersebut dan kembali memberikannya pada Ezra.
"Kamu ngapain sih yang!" kesal Alden.
"Poin nomor 6 dan 11 mommy hapus karena itu hak kalian, tapi mommy harap kalian segera mempunyai momongan," ucap Amora.
Alden akan melayangkan protes, tetapi Amora membisikkan sesuatu yang mana membuat senyuman Alden merekah sempurna.
"Makasih mom," senang Ezra.
Lia, dia sedari tadi hanya diam karena dirinya memang sudah di beritahu oleh Ezra pagi tadi. Dia hanya menuruti keinginan suaminya itu.
"Oh iya, dan Cia ... apakah kalian mau merawat Cia, atau kalian mau mommy yang rawat Cia biar kalian lebih fokus untuk pernikahan kalian?" tanya Amora sambil menatap Lia dan Ezra.
Lia dan Ezra saling tatap, dapat Ezra lihat jika Lia sangat menginginkan Cia untuk mereka rawat. Namun, Ezra tahu jika Lia masih sangat labil untuk merawat anak kecil. Dirinya bimbang saat ini.
"Atau nggak tanya Cia dia ingin tinggal dengan siapa," usul Kirana.
Amora mengangguk, dia menatap para anak kecil itu yang sedang asik bermain.
"Cia! sini sayang, mommy mau tanya," panggil Amora.
Cia langsung menghampiri Amora, bahkan kini anak itu sudah berada di pangkuan Amora.
"Yes mommy," sahut Cia.
"Ehm ... begini Cia, kakak Lia dan kak Ezra akan pindah ke rumah mereka. Cia ingin ikut mommy, atau mereka hm? mommy gak maksa Cia, keputusan Cia akan kita terima," bujuk Amora.
Cia tampak berpikir, dia menatap Lia dan beralih menatap Amora dan Alden.
"Cia ... Cia mau ikut mommy," ucap Cia.
Bahu Lia melemas, dia berharap Cia ikut dengannya. Sementara Cia yang mengerti jika Lia kecewa mencoba membujuknya.
"Cia di cini aja tama mommy, Cia cenang dicini." ujar Cia sambil menatap Lia.
"Benar sayang?" tanya Lia.
Cia mengangguk mantap, dia menatap Alden dan merentangkan tangannya meminta untuk di gendong.
Alden pun membawa Cia ke gendongannya, dia juga sudah menganggap Cia sebagai putrinya sendiri.
"Nanti kalau kak Lia dan Kak Ezla punya dedek, jangan lupa di kenalin ke Cia yah!" seru Cia.
Lia mengangguk walau berat, sementara Ezra merangkul istrinya yang tampak lesu.
"Sudahlah, jangan cemberut gitu. Kita buat dedek bayi sendiri bagaimana?" bujuk Ezra.
"Bisa emang?" tanya Lia.
"Bisa kan caranya tinggal ...,"
BUGH!
"Gak kenal tempat lu bang!" sarkas Viola setelah melempar bantal sofa pada wajah sang abang.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.