Dark Memory

Dark Memory
Keributan Ravin



"Kamu mau pulang sekarang? apa gak nginep lagi aja?" tanya Amora pada Lia yang tengah bersiap-siap.


"Gak mom, Lia akan pulang sama mertua Lia. Kasihan kak Ezra," ujar Lia tanpa mengalihkan pandangannya.


Amora menghela nafasnya pelan, dia mendekati putrinya dan mengelus rambut sang putri.


"Sekarang putri mommy sudah besar, sudah bisa mengambil keputusan," ucap Amora.


Lia menatap mommy nya, dia tersenyum lembut dan mengambil kedua tangan sang mommy untuk dia genggam.


"Mommy Lia sayang mommy, nanti kapan-kapan Lia kesini lagi jenguk mommy dan daddy,"


Amora mengangguk, dia memeluk putrinya dengan sayang.


"Ingat pesan mommy sayang, selesaikan masalah apapun itu dengan kepala dingin. Jangan kamu buat keputusan yang akan berdampak dengan kehidupan kamu terlebih hubunganmu," terang Amora.


Lia mengangguk, dia melepaskan pelukan sang mommy. "Pesan mommy selalu Lia ingat, kalau gitu Lia pamit mom,"


Amora mengangguk, dia menarik lengan putrinya untuk mengantar pada besannya.


Pangkah mereka terhenti ketika melihat Lio yang asik mengobrol dengan Viola.


"Ekhem! minggir dong, pdktnya jangan di pinggir jalan," sindir AMora.


"Apaan sih tant, kita cuman ngobrol doang kok," salting Viola.


Amora dan Lia terkekeh, mereka melanjutkan jalannya meninggalkan Viola yang sedang menggerutu kesal.


Sampai di bawah, Amora dan Lia menatap Kino yang sedang menangis. Bahkan anak itu menarik lengan Cia yang berada di gendongan Alden..


"CIA IKUT KINO! CIA IKUT KINO!" teriak Kino..


"Kino tuh apa-apaan cih! kayak metlo mini aja belicik banget! olang Cia adekna Lavin kok," jengah Ravin.


Kino menatap Ravin, setelah itu dia memarahi Ravin. "Kamu kan celing baleng Cia, cekalang aku!"


"Emang kamu pikil Cia balang bica di pinjam cana-cini huh? lambemu!" sentak Ravin.


Mereka semua di buat terkejut dengan perdebatan mereka, terlebih Cia yang sangat ingin menangis karena merasa terdesak.


"Mas kamu bawa Cia tidur gih, mungkin ngantuk. Dia tadi bangun pagi banget," ujar Amora ketika menyadari Cia yang akan menangis.


Alden mengangguk, dia membawa Cia menuju kamarnya.


"Pulang aja cana, kakak Lia juga kan di ambil citu! jangan celakah!" ujar Ravin dan beranjak pergi.


Kino menangis keras, Kirana segera menggendong anaknya dan membawanya ke mobil.


"Yaudah mom, aku pamit dulu yah. Bilang juga sama daddy," ujar Lia.


Amora mengangguk, dia juga melihat Viola yang baru saja keluar dari lift.


"Tant, aku pamit yah," ujar Viola.


"Iya, hati-hati yah kalian,"


Mereka berdua mengangguk, dan keluar dari mansion.


"Hah ... sepi lagi deh," lirih Amora.


Sedangkan Ravin, kini dia ikut daddynya ke kamar. Tak sengaja netranya melihat aquarium miliknya yang berada di nakas.


Matanya membulat sempurna, kaki kecilnya segera berlari menuju nakas. Pekikan histeris pun terdengar nyaring.


"IKAN LAVIIIIINNN!" teriak Ravin.


Alden terkejut, begitu pula dengan Cia. Mereka menatap Ravin yang tengah menatap lesu ikannya.


"Kenapa teriak begitu dek?" geram Alden.


"Ikana Lavin meninggal daddy hiks ... mati hiks ...," isak Ravin dan menunjuk ikannya.


Alden yang sedang tiduran akhirnya terpaksa bangun, dia mendekat ke arah ikan yang di tunjuk Ravin..


"Yaudah, buang aja," enteng Alden.


"DADDY JAHAT BANGET CIH!"


Alden bingung, apakah dirinya salah?


"Terus, daddy harus apa?" bingung Alden.


Ravin mengambil Aquarium itu, memang bentuknya tak terlalu besar hingga penuh di pelukannya.


"Mau Lavin kubulin hiks," isak Ravin.


"Kok di kuburin?" heran Alden.


Alden melongo, dia hanya menatap kepergian sang anak yang membawa ikan tersebut.


"Kemalin Kino kacih makannya kebanyakan jadina mati," ucap Cia.


Alden menoleh, dia kembali merebahkan dirinya dan menatap Cia.


"Oh ya? terus Cia gak larang?" tanya Alden.


"Udah Cia lalang, tapi katana bial ikana jadi gendut. Bial gak malu-maluin," seru Cia.


Alden terkekeh, dia mencium gemas pipi sang anak.


"Cia senang tinggal disini?" tanya Alden.


"Iya ... Cia senang," ujar Cia dengan senyuman nya.


Alden tertawa, dia memeluk erta Cia hingga suara istrinya membuatnya terkejut.


"Ekhm ... mommy gak di ajak pelukan nih?" tanya Amora.


Alden dan Cia tersenyum, mereka menyambut Amora dengan pelukan.


Tapi tiba-tiba saja, seorang bodyguard datang dengan panik.


"MAAF TUAN! TUAN KECIL MEMBUKA KANDANG BLACKY TUAN!"


Pintu kamar memang tidak tertutup, sehingga bodyguard itu bisa langsung memberitahukan pada Alden.


"Apa? bagaimana bisa?" kaget Alden setelah melepas pelukannya.


Alden segera berlari, Amora pun juga ikut dengan Cia yang berada di gendongannya.


Blacky adalah anjing besar milik Alden, dia memang berada di mansion hanya saja digunakan untuk tujuan tertentu. Bahkan anjing itu tak pernah masuk mansion, dia hanya ada di taman belakang yang tersembunyi untuk menjaga mansionnya.


"RAVIN!" teriak Alden.


Ravin yang tengah menarik anjing tersebut menoleh, dia menatap Alden dengan kepala yang di miringkan.


"Kenapa daddy?" bingung Ravin.


"Cepatlah kesini! mau tinggal nama kamu hah?! bikin orang jantungan aja kamu!" sentak Alden.


"Lavin mau pinjam cebental doang!" kekeh Ravin.


Amora akan mendekat, tetapi Alden menahannya. Dia takut Blacky akan menyerang mereka, terlebih Balck hanya menurut pada Elbert.


"Jangan yah sayang, mommy takut nak," bujuk Amora.


"Cebental mommy, cuma buat temenin Lavin ke kubulan ci ikan," kata Ravin.


Alden dan Amora kaget, ternyata Ravin mengeluarkannya untuk menemui si ikan. Lantas? apa gunanya anjing di kuburan?


"Ravin sayang, memangnya kenapa harus kesana?" bingung Amora.


"Bial melayat baleng Lavin," ujar Ravin dan kembali menarik anjing tersebut.


Alden dan Amora menahan nafasnya ketika melihat anjing tersebut yang mengendus Ravin bahkan sudah membuka mulutnya.


PLAK!


"Nda uca cium-cium, Lavin dah mandi kok. Mulutna di tutup aja, bau belel," seru Ravin setelah memukul kepala anjing tersebut.


Alden melirik satu bodyguard, dia mengintruksi agar bodyguard tersebut membawa Ravin.


"HUAAAAA!" teriak Ravin ketika bodyguard tersebut berhasil menggendongnya dan membawanya ke Alden.


Yang lain dengan cepat memasukkan anjing itu lagi ke taman tersembunyi, jika ada penyusup atau siapapun mengancam bahaya di mansion ini anjing itu akan keluar dengan sendirinya.


"Jangan nangis, malu sama Cia," ujar Amora.


Ravin masih berontak, dia berusaha turun dari gendongan Alden.


"DIAM RAVIN! MAU DADDY KURUNG DI KAMAR MANDI HAH?!" bentak Alden.


AMora dan Cia terdiam, Amora pun membawa Cia pergi dari sana. Saat Alden marah dirinya takut Cia akan merasa takut terlebih anak perempuan yang hatinya mudah tersentuh.


"BIKIN RAVIN ITU SUSAH TAU! EMANG KATA RAVIN GAMPANG APA? DADDY SAMPE BEGADANG, MUPUKIN TIAP HARI. TERUS MASA GAK ADA DALAM SEKEJAP HAH?!" bentak Alden yang tak sadar bahwa ucapannya membuat para bodyguard terkejut sekaligus heran


"Hiks ... pupukin pake apa?" isak Ravin.


JDEEERRR!


Alden terdiam kaku, sementara para bodyguard menahan tawa mereka. Dia menepuk keningnya karena melupakan sesuatu.


"Gue lupa kalau ni anak banyak tanya,"