
Cyrano dan Cyrille saling menatap karena menjadi rebutan antara pappy juga daddy mereka yang membuat mereka juga bingung harus memilih siapa. Secara keduanya penting dan berarti bagi mereka.
“Pernikahan mu tidak syah jadi mereka tidak sah, jadi mereka juga belum syah menjadi anakmu.” Austin bersikeras pada pendiriannya dan menarik tangan si kembar.
“Sebentar lagi aku mengesahkan pernikahan ku dengan Alexa.” Sean juga tak terima dan menarik tangan si kembar ke sisinya.
“Auwh pappy, daddy tangan ku sakit.” keluh Cyrille dan segitiga kedua pria itu melepaskan tangan si kembar karenanya.
Cyrano masih melihat ketegangan di antara mereka berdua dan jika situasi itu tetap seperti ini maka tidak memungkinkan akan terjadi adu fisik lagi.
“Pappy aku akan ikut bersamamu.” Cyrano berjalan menghampiri Austin yang membuat pria itu merasa menang karena cucunya lebih memilih dirinya tinimbang Sean. “Cyrille kau ikut daddy. Dengan begini akan adil, bukan ?” tambah Cyrano.
Cyrille pun yang sebenarnya masih ingin bersama daddy-nya segera memegang tangan Sean dengan sukacita.
“Cyrano ikutlah bersama daddy.” Sean sedikit kecewa kenapa putranya itu lebih memilih Austin.
“Cyrille, ayo ikut pappy pulang.” Austin berharap cucu perempuan itu akan ikut bersamanya.
“Tidak, pappy.” tolaknya tegas dan menggenggam tangan daddy-nya dengan erat.
“Berikan dia padaku !” teriak Sean dan Austin bersamaan membuat suasana semakin menegang.
“Tidak.” tiba-tiba Alexa muncul di depan pintu yang membuat semua mata tertuju padanya. “Cyrano, Cyrille kalian ikut pappy pulang sekarang.”
“Tapi mommy, Alexa...” bantah Cyrille dan Sean bersamaan.
“Tak ada tapi-tapian. Kalian harus belajar sekarang setelah dua hari tak masuk sekolah.” hardik Alexa yang diangguki oleh Sean, ternyata putrinya lebih membela dirinya daripada Sean.
Sean pun melepas tangan Cyrille dan gadis itu pun terpaksa kembali pada pappy-nya bersama Cyrano.
Austin pun perjalanan keluar bersama si kembar. “Alexa ayo kita pulang bersama.” ia mengajak Alexa yang masih berdiri di sana.
Dan tentu saja Austin tak mau hal itu terjadi. “Terserah kau sajalah.” ucapnya sembari berlalu karena yang penting baginya si kembar sudah dia bawa.
Alexa baru berjalan dua langkah namun Sean sudah menariknya masuk ke kamar.
“Alexa kenapa Kau biarkan mereka dibawa pergi olehnya ?” protes Sean yang masih tak terima juga tak tahu apa alasannya dirinya harus merelakan si kembar di bawa Austin.
“Karena mereka sudah waktunya pulang dan sekarang giliran ku yang menemani mu.” Alexa memeluk leher Sean sembari menyentuhkan bibirnya pada bibir Sean yang tentu saja langsung disambar oleh pria itu.
“Bagaimana dengan luka operasi mu ?” Sean melepas tautan bibir mereka karena khawatir pada luka Alexa.
“Dengan perawatan dari dokter terbaik di rumah sakit maka luka ku tak menjadi masalah lagi.”
“Tapi meskipun begitu kau harus tetap hati-hati dengan luka mu.” jawabnya sembari mencium bibir Alexa lagi dengan ciuman panas.
Tiga menit setelahnya Sean sudah merebahkan Alexa di bawah tubuhnya di tempat tidur dengan pakaian mereka yang berserakan di lantai.
“Ini sebagai ganti hutang lima tahun kita tidak bertemu dan kau baru membayarnya lima kali masih kurang 1.500 kali hutang yang harus kau bayar padaku.” ucap Sean saat memasuki Alexa.
“Baik aku akan mencicilnya mulai dari sekarang kuharap tak ada bunganya.” Alexa mencium bibir Sean karena ia tak tahan dengan gerakan Sean di bawah sana yang membuatnya mabuk, melayang.
🌹
🌹
Di Paris terlihat Marion yang berulang kali menghubungi nomor telepon Sean.
“Aku sudah lima hari ini menghubungi nomornya namun tetap tak aktif sampai sekarang. Kemana dia sebenarnya ?” decaknya kesal bahkan sampai ia bertanya pada anak buah Sean dan tak ada satupun dari mereka yang mau memberitahu di mana keberadaan putranya tersebut.
“Tunggu saja jika kau pulang nanti, Sean.” ucapnya berjalan cepat masuk di dalam rumah.