
Seharian penuh utusan Sean melakukan pencarian ulang untuk melacak keberadaan Austin.
“Sial informasinya dikunci oleh seseorang dan sulit untuk ditembus.”ucap seorang bodyguard di sebuah ruangan khusus.
“tiiit... akses di tolak.”notifikasi yang sama muncul secara serentak di semua komputer di ruangan itu.
“Sial... keamanannya kuat sekali dan tak bisa ditembus.”ucap seorang Bodyguard lain yang masih mencoba menembus dinding pertahanan Austin.
Setelah satu jam mereka berjuang dan terus mencoba menyerang dinding pertahanan Austin, akhirnya mereka angkat tangan dan menyerah juga.
“Sebaiknya kita laporkan hal ini pada tuan Sean.” Salah seorang bodyguard mengakhiri pencarian mereka dan keluar dari ruangan itu menuju ke ruangan Sean.
“Ya... apa kalian menemukan suatu petunjuk ?”ucap Sean berdiri dari tempat duduknya yang ada di kamar saat mendengar suara derap langkah kaki menuju ke sana.
“Maaf tuan muda.”jawab bodyguard itu menunduk setibanya ia di depan Sean. “Kami sudah melakukan berbagai cara untuk menembus dinding pertahanan Austin yang berlapis, namun gagal.”
“huft... aku sudah menduganya. Berarti Austin memang benar-benar membawa Alexa pergi ke suatu tempat dan tak ingin ditemukan.” Sean menghembuskan nafas panjang dan berat. “Baiklah kalian boleh kembali.”
Sean kembali duduk setelah bodyguard-nya pergi dari kamarnya.
Bugh
Sean melampiaskan kekesalannya yang bercampur dengan amarahnya dengan menghafalkan tangannya kemudian meninju tembok yang ada di dekatnya.
“Austin... kenapa kau membawa pergi Alexa ? Bukankah kau dulu merestui hubungan kami ? Tapi apa... kau rupanya sama saja dengan dirimu yang dulu saat akan menangkap Alexa.”umpatnya memaki lelaki itu.
Sean kembali duduk dan menyandarkan tubuhnya ke dinding melihat tangannya yang berubah warna menjadi ungu setelah ia memukulkannya dengan keras tadi.
“Sayang... aku pasti akan menemukan mu dengan berbagai cara apa pun. Tunggu aku.” Sean mengepalkan tangannya erat-erat sambil mengangkat kepalanya menatap ke depan dengan tatapan tajam.
Di lain tempat, sore hari di Britain.
Saat itu Austin dan Alexa sedang duduk santai di ruang keluarga dan berbincang santai membahas perusahaan.
“Papy...”tiba-tiba Cyrille datang berlari dengan manja dan duduk di pangkuan Austin.
Sementara Cyrano tak memanggil siapapun dari mereka berdua dan langsung duduk di sebelah Alexa.
“Kenapa kalian berdua terlihat ceria sekali sore ini ?”tanya Alexa melihat kedua buah hatinya yang tersenyum lebar.
“Bulan depan kami liburan semester, mommy, papy. Kami ingin liburan ?”jawab Cyrille tak henti-hentinya tersenyum sambil menarik tangan Austin.
“Mommy tidak janji bisa menemani kalian atau tidak. Bulan depan banyak meeting yang tak bisa ditinggal.”jawab Alexa sambil menunjukkan jadwal meeting nya bulan depan pada si kembar.
“Baiklah papy akan menemani kalian liburan. Kalian ingin pergi ke mana ?”tanya Austin menanggapi karena memang selama ini setiap kali liburan dialah yang selalu menemani kedua cucu kembarnya, dan Alexa hanya beberapa kali saja menemani mereka.
“Kami ingin ke Paris, papy.”jawab Cyrano to the point.
“Ya... kami ingin melihat menara Eiffel di sana.”
Alexa dan Austin seketika diam dan terkejut mendengar celoteh si kembar. Kenapa tiba-tiba mereka berdua ingin pergi ke sana ? Padahal mereka sudah berusaha dengan keras agar tempat itu tak terpikirkan oleh si kembar.