
Utusan Austin sudah berada di sekolah Cyrano dan Cyrille. Mereka tak hanya saja menyisir lokasi sekolah namun juga menyisir lokasi yang ada di sekitarnya untuk mencari keberadaan si kembar.
“Kami sudah melihat Cyrano dan Cyrille pulang menaiki mobil dengan seseorang yang menjemputnya.” ucap seorang petugas security sekolahan menerangkan saat utusan Austin meminta keterangan padanya.
Para bodyguard itu sudah mencari nona dan tuan muda mereka ke manapun namun tak menemukan jejak mereka yang membuat mereka berhenti di pos security.
“Apa kau tau tuan siapa pria yang menjemputnya ?” tanya salah satu utusan Austin.
“Maaf aku tidak jelas siapa yang menjemputnya karena di luar tadi ramai sekali jadi tidak begitu memperhatikan.”
“Jika begitu bolehkah kami melihat rekaman CCTV di sekolah ini ?” desak utusan Austin yang juga di buru waktu dan hanya diberikan waktu dua jam pencarian saja oleh pria tersebut.
“Ya, boleh saja.”
Petugas security itu kemudian menunjukkan rekaman CCTV yang ada di depan sekolah di jam pulang sekolah.
“Tunggu, hentikan sekarang tuan.” ucap salah satu utusan Austin lagi dan petugas security segera mem-pause rekaman itu.
“Sayang sekali tak terlihat siapa yang menjemputnya karena pengemudinya tak keluar dari mobil.” utusan Austin sangat menyayangkan sekali hal itu. “Tunggu tolong play ulang rekaman tadi.”
Petugas security menuruti permintaan utusan Austin dan menunjukkan rekaman ulang.
“Hentikan sekarang, tuan.” ucap utusan Austin lagi dan petugas security mem-pause kembali rekaman tersebut.
“Catat nopol mobil itu.” utusan Austin segera meminta rekannya untuk mencatat nopol mobil yang terlihat.
Setelah mendapatkan nopol mobil yang membawa tuan dan nona muda mereka, para mereka tadi segera kembali ke rumah.
Austin terlihat menunggu di depan karena saking cemasnya menunggu kabar. Ia berharap si kembar tidak diculik namun hanya keluar bermain saja bersama seseorang yang dikenalnya.
“Kalian sudah kembali bagaimana hasil penyelidikan kalian ?” tanyanya langsung menghampiri utusannya itu begitu mereka datang dan turun dari mobil.
Austin mengerutkan keningnya membaca plat nomor yang diterimanya. “Nomor mobil siapa ini ?” ia mencoba mengingat-ingat plat nomor yang seperti tidak asing baginya tapi tetap saja Iya tak mengetahui dan tak menghafal setiap plat nopol mobil orang yang dikenalnya.
“Kalian menemukan plat nomor mobil yang membawa mereka ?” secara sengaja Alexa mendengar percakapan mereka dan buru-buru keluar untuk melihatnya sendiri.
“Ayah biar ku lihat nomor plat itu, mungkin saja aku mengenalnya.” Alexa yang sudah berada di samping Austin mengambil catatan nopol dari tangan ayahnya.
“Apa kau mengetahui atau mengenal siapa pemilik nomor plat tersebut ?” Austin melihat Alex sayang terlihat berpikir keras mengingat nopol plat tersebut.
Alexa mencoba mengingat satu per satu nopol yang di hafalnya karena ia terbiasa menghafal nomor plat rekan bisnis yang di anggapnya penting.
“Nomor plat ini milik Kevin, ayah.” ucapnya beberapa menit kemudian setelah berhasil mengingatnya.
Austin terkejut mendengar pernyataan tersebut, tak mungkin Kevin membawa pergi si kembar tanpa memberitahunya. “Kau yakin itu ?”
“Ya, aku yakin ayah ini nomor plat mobil pria itu.” ia benar kembali catatan novel itu ke tangan Austin.
“Itu tak mungkin. Coba ingat lagi apa benar itu nomor plat Kevin ?” Austin yang ragu berharap putrinya itu salah mengingat.
“Ya, itu benar nomornya Kevin.”
Alexa terlihat gelisah dan punya pikiran negatif tentang pria tersebut dan ia pun segera mengeluarkan ponselnya untuk membuktikan keraguannya.
“Lihat ini ayah, nomornya aktif saat kau hubungi.” Alexa terlihat semakin panik sembari menunjukkan panggilan pada Kevin yang tak tersambung.
Gleg
Austin menelan salivanya dengan susah payah karena Alexa yakin sekali jika nomor plat mobil tersebut adalah nopol Kevin yang membuat Austin kebakaran jenggot.
“Bagaimana ini ayah ? Apa Kevin memang menculik si kembar ?” Alexa terlihat sangat cemas sekali.