
Sean kembali menatap monitor di depannya dan membaca kembali informasi yang barusan di dapatnya.
“Aku akan mencari informasinya Apakah benar 5 tahun yang lalu Austin benar-benar pergi ke Britain.
Baru saja Judas duduk belum ada dua menit, telepon di mejanya kembali berdering. “Ouh pasti ini telepon dari tuan Sean.” Judas yakin akan hal itu karena ia menyetel nada dering yang berbeda untuk panggilan dari bosnya.
“Ya tuan...”jawab Judas sembari menghapus peluh di keningnya yang belum kering.
“Dataglah ke ruanganku sekarang.”ucap Sean singkat kemudian mengakhiri panggilan.
“Ya tuan Sean. Apa ada tugas lagi untukku ?” tanya Judas begitu ia sudah masuk ke ruangan bosnya.
“Pergi ke bandara dan cari informasi apakah benar Austin melakukan perjalanan ke Britain 5 tahun yang lalu ?”
“Baik tuan.” Judas langsung keluar dari ruangan Sean.
“Tunggu ! Kau bawa berkas ini untuk memudahkan pencarian mu.” Sean memanggil kembali sekretarisnya itu. Ia pun menyerahkan berkasnya pada Judas saat pria itu berbalik dan menghampirinya.
“Aku akan segera laporkan pada tuan hasilnya nanti.” Judas membawa berkas dari Sean dan bergegas melaksanakan tugasnya meskipun ia sebenarnya ingin duduk sejenak dan merileks kan otot tubuhnya setelah kembali dari panti asuhan.
Siang hari di Britain
Cyrano dan Cerylle pulang dari sekolah. Seperti biasa, Cyrille melempar pasti sembarangan begitu masuk ke rumah dan berlari menuju ke ruangan kerja pappy nya.
“Kriek.” gadis kecil itu membuka pintu ruangan pappy nya dan masuk.
“Cyrille... kau belum ganti seragam.” Austin menoleh ke arah pintu dan menatap cucu perempuannya itu masih mengenakan seragam sekolah. “Ada apa sayang ?” tanyanya karena pasti ada sesuatu yang penting atau ingin minta sesuatu padanya.
Austin diam dan mengingat kembali apa sebelumnya ia pernah memberi persetujuan pada cucunya untuk berlibur ke sana.
“Di Paris tak ada apa-apa di sana.” Austin menjawab setelah lama diam dan mencari alasan yang tepat untuk menolaknya. “Bagaimana jika kita ke Hawaii saja ?” menawarkan destinasi liburan lainnya.
Cyrille sudah menduga sebelumnya jika ia tidak menanyakan hal ini, pappy nya pasti akan lupa, tepatnya sengaja melupa.
“Tidak... aku ingin ke sana.” Cyrille bersikeras karena ia yakin pasti ada sesuatu jika pappy melarang nya. “Aku Ingin melihat tempat kelahiran pappy. Please, please.” menciumi pappy nya sambil memeluknya dengan manja.
“Aku janji akan menurut selama di sana dan berbuat nakal seperti biasanya.” tambah Cyrille dengan mata membulat merayu pappy nya.
“Oh... kau memang Helena kecil.” Austin tak bisa menolak, tak tega melihat cucunya yang sudah menangis itu. “Ya baiklah tapi kau dan Cyrano harus mengikuti semua perintah pappy.”
Cyrille pun tersenyum lebar dan kembali mencium pappy nya itu.
Sedangkan di kantor Sean, Judas barulah kembali ke kantor setelah melakukan investigasi yang rumit dan perlu waktu.
“Judas aku sudah menunggumu. Bagaimana hasil investigasi mu ?” tanya Sean tak sabar begitu sekretarisnya itu masuk ke ruangannya.
“Tuan aku sudah menanyakan pada bandara yang tuan sebutkan tapi di sana tak ada record data pembelian tiket tuan Austin seperti yang tuan sebutkan.” Judas menyampaikan laporannya sekaligus memberikan buktinya pada bosnya.
“Apa ? Bagaimana mungkin terdapat perbedaan data ?” ucap Sean setelah membaca berkas laporan yang diberikan oleh sekretarisnya itu.
“Ada dua kemungkinan tuan. Data yang anda berikan padaku itu benar adanya tapi pihak airport sudah menghapusnya atau data yang anda berikan itu hanyalah suatu pengalihan dan tidak pernah ada.”
Sean hanya menarik nafas kasar saja mendengarnya karena kembali kehilangan petunjuk.