Where's My Daddy?

Where's My Daddy?
Eps. 86 Ajakan Menikah



“haah....” desau Sean menarik nafas kasar sembari duduk di kursi kamarnya.


Ya, pria itu sedikit merasa depresi karena beberapa kali Angel mengajaknya keluar bersama yang ia artikan sebagai ajakan kencan. Sedangkan dia tak bisa menolak ajakan itu terlebih Wanita itu sudah membantunya kali ini dan berperan besar mempengaruhi keputusan Mr. Cool beberapa waktu yang lalu.


“Apa yang harus ku lakukan ?” sampai-sampai ia memegang kepalanya yang terasa mulai berat.


Bagaimana tidak berat jika ia melihat tayangan di monitor yang menampilkan Alexa sedang keluar bersama keluarga kecilnya. membuatnya tak hanya terbakar amarah tapi juga terbakar api cemburu.


“Alexa beraninya kau keluar dengan pria itu meski aku sudah menyentuh mu dan aku tahu kau juga menginginkan itu.” Sean mengepalkan tangan dan langsung menggebrak meja dengan keras. “Kau itu masih istri ku.”


Karena kesal Sean pun memukul monitor di depannya tepat ke muka pria yang saat ini sedang bersama istrinya dan tersenyum penuh arti menatap Alexa.


“Ada apa dengan tuan, kenapa akhir-akhir ini terlihat sering marah ?” gumam seorang pelayan dari luar kamar Sean yang mendengar suara sesuatu yang pecah juga suara meja di pukul dengan keras.


Namun pelayan yang sebenarnya akan masuk ke kamar tuannya itu memutuskan untuk pergi dari sana daripada terkena efek kemarahan dari Sean dan menunggu satu atau dua jam sampai amarahnya reda baru masuk ke sana.


Dua jam kemudian seorang pelayan kembali mendatangi kamar Sean.


“Tuan, nona Angel menunggu di depan.” ucap pelayan tersebut setelah mengetuk pintu.


“Ya, aku akan keluar setelah ini bilang padanya untuk menunggu ku.” jawab Sean menetap ke arah pintu tanpa membuka pintu tersebut.


“Baik, tuan.”


Setelah pelayan tadi pergi, Sean segera berganti baju dan menutup laptopnya, membiarkan pecahan monitornya berserakan di lantai.


“Maaf membuatmu lama menunggu.” Sean keluar 15 menit kemudian itu pun dengan terpaksa setelah ibunya berulang kali mendatangi kamarnya.


“Aku tidak lama menunggumu Sean, ada nyonya Marion di sini yang menemaniku.”


“Jika begitu lebih baik kalian berdua segera keluar setiap hari semakin malam.” desak Marion sambil tersenyum kecil.


Mereka berapa kemudian akhirnya keluar bersama.


“Kau ingin pergi ke mana malam ini ?” tanya Sean setelah mobil melaju keluar dari rumahnya.


Sean mengangguk lalu mengemudikan mobilnya menuju ke bar terdekat yang ada di sana.


Mereka berdua duduk setelah memesan minuman. Angel memesan wine dengan kadar alkohol rendah sedangkan Sean hanya mesan white soda saja, karena ia tak ingin mabuk meskipun dalam pikiran yang kacau.


“Angel itu tak baik untukmu minum wine seperti itu.” tegur Sean melihat Angel dua gelas wine.


“Hanya sedikit saja dan tidak setiap hari tidak masalah bukan ?”


Menit berikutnya musik menghentak semakin menggoda untuk membuat siapa saja yang ada di sana ingin bergoyang.


“Sean, temani aku berdansa sebentar.” Angel berdiri dan meraih tangan pria itu.


“Aku saat ini sedang tidak mood untuk berdansa.” tolak Sean enggan karena pikirannya masih saja tertuju pada Alexa di jauh sana.


“Sebentar saja.”


Angel memaksa dan akhirnya Sean pun menurut saja saat wanita itu menariknya ke tengah dan mulai memegang bahunya lalu mengajaknya berdansa.


Sean mengikuti gerakan Angel dan mengimbanginya saja.


“Sean kapan kau ingin membuat pesta pernikahan untuk kita ?” tanya Angel dengan berbisik lirih.


“Tidak dalam waktu dekat ini.”


“Jadi kapan, awal tahun depan ?” ulang Angel lagi untuk memastikan.


“Tidak, maksud ku maaf aku tak bisa menikah dengan mu. Kau terlalu baik bagiku.” tolaknya dengan halus yang membuat Angel terluka dengan penolakan tersebut.


“Bagiku kau pria yang sempurna.”


Sean melepas tangannya dari pinggang Angel. “Maaf aku tak bisa menikah tanpa ada rasa cinta.” ia pun segera beranjak dari sana dan kembali ke tempat duduknya semula.


“Sean.” Angel mengejar pria itu lalu ikut duduk kembali ke tempat mereka semula dengan tatapan nanar.