
Helikopter pun tinggal landas dari airport. Mereka melewati jalanan yang cukup panjang.
“Apakah rumah pappy ada di sini, oncle Steven ?” tanya Cyrille penasaran saat heli membawanya melewati pusat kota.
“Bukan nona.”
Cyrille hanya diam saja dan menunggu heli segera mendarat di salah satu tempat ramai yang ada di sana.
“Wow... itu kan Menara Eiffel ?” pekiknya lagi dengan histeris. “Kuharap rumah pappy ada di sekitar sini.”
“Tidak mungkin pappy tinggal di sini.” Cyrano langsung membantah keras anggapan saudari kembarnya.
Sementara Paul dan Steven hanya tersenyum kecil saja mendengar percakapan mereka.
“Kenapa kita melewati hutan ?” pekik Cyrille saat melihat hamparan hutan luas.
“Sudah ku duga.” celetuk Cyrano sambil memakai kacamata hitamnya karena angin berhembus kencang untuk menghindari debu yang masuk ke mata.
Dengan karakter pappy nya Cyrano paham betul seperti apa pria itu dan bagaimana seleranya. Ia juga sudah menduga sebelumnya jika rumah pappy nya pasti ada di tempat jauh dan terpelosok. Kini sudah kenapa bodyguard-nya menjemputnya menggunakan heli bukannya mobil.
“What ?” Cyrille benar-benar terkejut dan seketika tampak lemas karena bayangan nya rumah pappy setidaknya ada di pusat kota dekat dengan Resort wisata jadi dia bisa menghabiskan banyak waktu di sana. “Lalu apa yang bisa kita temukan di rumah pappy nanti ?”
“Banyak nona. Tuan punya banyak peliharaan yang menakjubkan dan tuan pasti suka.” sahut Steven.
“Hewan peliharaan ? Di tengah hutan ? Jangan bilang itu cheetah atau binatang sejenisnya ?!” Cyrille berharap bukan itu hewan yang dipelihara oleh pappy nya.
Steven hanya tertawa kecil menanggapi nona mudanya.
“Untuk apa pappy memelihara binatang buas ?” Cyrano justru penasaran dan ingin bermain dengan mereka tinimbang harus pergi ke mall menemani saudari kembarnya.
Tak lama kemudian heli mendarat di atas sebuah gedung.
“Kita sudah sampai nona muda dan tuan muda.” Steven memberitahu setelah mematikan mesin heli.
“Apa ?” Cyrille kembali terkejut mereka mendarat di sebuah gedung yang tinggi. “Apa kita harus menuruni gedung ini ?”
“Oh... My God...” gadis kecil itu lagi-lagi hanya bisa menarik nafas panjang mendapati semuanya tidaklah sesuai dengan estimasinya.
Cyrano segera melompat turun dari Heli meninggalkan saudari kembarnya yang masih syok.
“Oncle Paul kita turun lewat mana ?” ia justru terlihat bersemangat dengan semua ini dan menurutnya menantang adrenalinnya.
“Tangganya ada di samping sana tuan muda.”
Cyrano segera menuju ke tempat yang ditunjuk oleh body guard nya namun sesampainya di sana ia tak menemukan apapun selain sebuah bunker.
“Aku tidak menemukan tangga di sini, oncle.” teriak Cyrano.
“Tunggu sebentar tuan muda.”
Paul melihat nona mudanya yang enggan untuk turun dari sana. “Nona muda kami berdua akan pergi dari sini sekarang.”
“Terserah kalian berdua, tinggalkan saja aku di sini.” Cyrille masih ngambek pada pappy nya kenapa tak mau minta mereka tinggal di hotel saja.
Paul memberi kode pada temannya dan mereka berdua pun kembali berjalan menuju ke tempat Cyrano menunggu.
“klak.” setibanya di tempat Cyrano berdiri, pria itu membuka bunker. “Pappy memang cool.” Cyrano melihat anak tangga di sana.
“Hey kalian bertiga tunggu aku !” teriak Cyrille melihat tiga lelaki tadi sudah masuk ke dalam bunker.
Mau tak mau gadis itu pun melompat turun dari heli. Ia pun berlari menyusul mereka bertiga karena tak ingin berada di sana seorang diri.
“Hey Cyrano tunggu aku !” teriaknya lagi setelah sampai di bunker dan melihat saudara kembarnya itu sudah berada jauh di bawahnya.
“Ayo anak manja, jika kau tidak cepat turun maka kami akan segera menutup pintu keluarnya.”
“Sialan !” Cyrille pun mau tak mau akhirnya masuk ke bunker dan mulai menuruni tangga mengikuti mereka bertiga.