
Sean mengendara dengan pelan dan menyisip diantara beberapa mobil yang ada di depannya sambil terus mengawasi Alexa.
beberapa saat kemudian mobil Alexa masuk ke sebuah perusahaan besar di sana.
“Jadi itu kantornya Alexa.” gumam Sean berhenti di seberang jalan di depan kantor Alexa menatap ke arah luar.
Alexa turun dari mobil kemudian masuk ke kantor dan sempat melihat mobil berhenti di depan kantornya.
“Mobil siapa itu di sana ?” batinnya menatap mobil yang ada di seberang jalan. “Sudahlah mungkin hanya pengendara mobil biasa.” segera mengalihkan pikiran negatifnya pada mobil tersebut saat mobil itu kembali meluncur di jalanan.
“Aku saja yang terlalu paranoid ada seseorang yang mengikutiku. Lagipula sepertinya itu tidak mungkin dan lagi di sini banyak petugas security.”
Alexa tak mau terlalu memikirkannya dan segera masuk ke kantor.
“Hampir saja aku ketahuan.” Sean yang sudah meluncur di jalanan agak jauh dari kantor Alexa kemudian berhenti sambil menarik nafas panjang.
Ia kemudian kembali ke jalanan sekitar kantor Alexa setelah 30 menit kemudian, memantau di suatu tempat tersembunyi.
Siang hari Alexa keluar dari kantor dan masuk ke mobil.
“Aku akan mengikuti kemana dia pergi.” Sean yang sedang menyamar dan berada di tempat tersembunyi di jalanan itu segera keluar mengikuti mobil Alexa.
Mobil Alexa ternyata tidak menuju ke rumah melainkan berhenti di sebuah restoran.
“Kebetulan sekali dia berhenti di sana jadi tak akan ada yang mengawalnya.” Sean menunggu waktu yang tepat untuk turun dari mobil.
“Sepertinya kondisi aman.” Sean memarkir mobilnya di restoran setelah benar-benar mengetahui kondisi di sana aman tanpa penjagaan dari bodyguard Austin.
Ia segera memakai topi kemudian masuk ke restoran. Sean duduk di dekat pintu masuk mengawasi Alexa yang sedang duduk di dekat pintu keluar.
Sean berhenti di dekat toilet wanita dan menunggu Alexa keluar dari sana.
“Oh dia keluar.” Sean segera berpaling dan berjalan dengan santai saat Alexa berjalan melewatinya.
“Nona tunggu ! Sesuatu jatuh dari tasmu.” Sean yang berjalan di belakang wanita itu mencoba menghentikannya dengan mengambil bolpoin yang memang sengaja ia ambil dari tas Alexa lalu menjatuhkannya.
Alexa berhenti kemudian berbalik. “Terimakasih, tuan.” Alexa menerima bolpoin yang disodorkan oleh seorang pria padanya.
“Sama-sama.” jawab Sean sambil tersenyum kecil.
Tanpa sepengetahuan Alexa, Sean membawa sapu tangan yang sudah ia kasih obat bius sebelumnya dan menjatuhkan sapu tangan tersebut di depan Alexa.
“Ohh... kenapa kepala ku ini ?” Alexa tiba-tiba merasa kepalanya pusing tanpa sebab setelah mencium aroma menyengat yang dipegang oleh pria di depannya.
“Tolong aku...” beberapa menit setelahnya Alexa merasa limbung dan pandangannya kabur.
“Maafkan aku Alexa. Aku terpaksa melakukannya.” Sean menangkap tubuh Alexa sebelum wanita itu terjatuh.
Ia kemudian membawanya keluar dari restoran lalu memasukkannya dalam mobilnya yang segera meluncur kembali ke hotel tempatnya menginap beberapa menit setelahnya.
“Alexa...” Sean memberikan Alexa di tempat tidurnya di kamar hotel lalu duduk di sampingnya.
Lama sekali ia memandangi wajah cantik ia sudah bertahun-tahun lamanya ia rindukan.
“Sayang...” Sean menitikkan air mata, bisa melihat wanita yang dirindukannya itu. “Ini benar-benar kau. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu.”
Sean memeluk Alexa yang masih tak sadarkan diri dengan erat. Tak hanya itu, ia pun menciuminya.