
Sean begadang sampai hampir pagi demi mencari informasi untuk melacak keberadaan Alexa.
“Ya, aku mendapatkan informasi ticketing semua bandara lima tahun yang lalu.” Sean membaca satu per satu informasi itu hingga membuatnya ketiduran di meja.
Di Britain
“Sean... apa yang terjadi padamu ? Tidak... jangan pergi ! Jangan tinggalkan aku !” gumam Alexa dalam tidurnya sedang bermimpi buruk.
Pagi harinya kembali ke kamar Sean.
“Tuan... kamar mandi anda sudah siap.” seorang pelayan wanita masuk ke kamar untuk memberitahukannya.
“Oh...” Sean pun bangun dan mengusap wajahnya. “Ya, terima kasih.” menatap sang pelayan juga jam yang tergantung di dinding. “Aku tiduran dan hampir kesiangan.”
Sean bangkit dari duduknya. Ia kemudian membereskan mejanya serta mematikan laptopnya, bersiap untuk ke kantor.
Satu jam kemudian pria itu sudah berada di ruangan kantornya.
“tok...tok...” suara seseorang mengetuk pintu. “Masuk.” ucap Sean singkat. “Ya, Judas ada apa ?” langsung bertanya pada sekretarisnya yang masuk.
“Ini tuan laporan hasil penyelidikan tentang nona Angel White.” Judas menyodorkan laporannya yang langsung diterima oleh Sean.
“Apa ada tugas lagi tuan ?”
“Tidak ada, kau boleh pergi sekarang.” Judas pun segera kembali ke ruangannya.
Sean membaca berkas laporan di tangan nya dengan cermat.
“Jadi dia pemilik Visa Group.” Sean baru mengetahui jika Angel merupakan pemegang salah satu perusahaan terkenal di sana meskipun tidak sebesar perusahaannya.
Pria itu melanjutkan berkas laporan mengenai identitas wanita tersebut dan menepikan berkas tersebut setelah selesai mengetahui semua informasinya.
“Setidaknya aku harus membantunya sedikit sebagai ungkapan rasa terima kasih ku.”
“Ya tuan, apa ada tugas buat ku ?” tanya Judas begitu kembali ke ruangan Sean setelah duduk lima menit di kursinya.
“Pergi ke Panti Asuhan Perle Fleurs dan kirim bantuan untuk anak-anak banting di sana atas namaku.”
Ya, dari informasi yang di dapatkan, perusahaan Angel ternyata menjadi donatur tetap sebuah panti asuhan dan kali ini perusahaan itu sedang mengadakan acara amal di sana.
“Baik tuan.” jawab Judas singkat kemudian segera menjalankan tugasnya. Ia sudah tidak kaget lagi dengan banyaknya tugas juga deadline semenjak bosnya itu aktif bekerja kembali.
Di Panti Asuhan Perle Fleur,
terlihat Angel berada di sana berada di tengah-tengah anak panti bersama para pengurus panti.
“Pasti ini Panti Asuhan yang dimaksud oleh tuan Sean.” Judas memarkirkan mobilnya di depan panti asuhan. Pria itu kemudian berjalan masuk ke panti asuhan dengan memberikan rangkaian bunga mawar merah pada seluruh penghuni panti. Ia juga memberikan sejumlah uang berikut parcel untuk seluruh penghuni panti.
“Terimakasih banyak, aku tak menyangka tuan Sean akan berbaik hati membantu semua warga panti asuhan di sini.” ucap Angel bicara dengan Judas sembari tersenyum lebar.
“Terimakasih untuk tuan Sean juga Aldric group.”ucap pimpinan panti pada Judas.
Judas hanya mengangguk tersenyum dan akan menyampaikan terima kasih mereka pada tuannya nanti.
“Oh tuan Sean... bagaimana kau bisa tahu jika aku hari ini ada acara dengan panti Perle Fleur ini.” gumam Angel melihat mobil Judas yang meluncur keluar dari panti asuhan.
Gadis itu pun hanya tersenyum simpul merasa pria itu memperhatikan dirinya.
“Ayah sepertinya pria yang kau tolong itu berhati lembut dan juga pengertian.” Angel berbalik kemudian masuk kembali ke panti asuhan dan bergabung dengan penghuni panti.
Di kantor Sean kembali membaca penyelidikannya semalam. Setelah beberapa jam menatap layar monitor dan membuat matanya berair juga terasa panas, ia pun menemukan sebuah petunjuk kecil.
“Britain ? Austin membeli tiket penerbangan pesawat ke sana ?!” Sean tersenyum kecil merasa usahanya tidak sia-sia.