
Sean masih berada di pusat perbelanjaan dan ia pun segera keluar dari sana setelah melakukan pembayaran.
Setibanya di kamar hotel dia menaruh barang belanjaannya langsung ke meja lalu dengan segera membuka tirai jendela di samping kamar.
“Aku tidak Apakah Alexa sudah pulang atau belum ?” gumam Sean melihat pintu rumah yang sudah tertutup juga ada siapapun di sana. Bahkan alat sadapnya pun tak memberikan informasi apapun padanya.
“Apa chip ini rusak ?” Sean alat penyebabnya tersebut barangkali saja anak buah Austin menemukannya. “Tidak, ini baik-baik saja.” ternyata kondisinya masih baik.
Sean menaruh kembali alat penyadapnya tersebut. Lama dia berdiri di jendela sambil menatap ke arah rumah Alexa dengan pikiran campur aduk.
Sementara di rumah Sean terlihat Angel yang datang ke rumah tersebut. Ia duduk di ruang tamu dengan Marion yang menemaninya.
Sudah dua jam lamanya wanita itu menunggu Sean di sana.
“Nyonya Marion, apa tuan Sean mungkin ada urusan lainnya ?” tanya Angel dari tadi melihat arah pintu.
“Tak biasanya ia belum pulang jam segini.” Marion menatap jam dinding di depannya. “Mungkin banyak kerja di kantor dan sebentar lagi dia akan pulang.”
Angel pun bersedia menunggu untuk beberapa saat lagi namun di saat bersamaan ada seorang pelayan yang masuk ke ruang tamu, tepatnya seorang bodyguard.
“Mike apa kau tahu di mana tuan Sean saat ini ?” Nyonya Marion langsung saja bertanya pada pria tersebut karena tak enak hati sudah membuat Angel lama menunggu.
“Tuan Sean bilang jika beliau ada urusan di luar kota.”
“Ouh...” ibunya Sean itu baru mengetahui jika putranya tak pulang ke rumah. “Tapi Kenapa dia tak memberitahu ku ?”
“Ya, tentu saja.” Nyonya Marion ikut berdiri dan mengantarnya sampai ke luar pintu.
“Ada urusan apa, Sean di luar kota ?” gumam wanita itu kembali masuk ke rumah sembari mengingat jadwal kerja di perusahaan ya dan menurutnya tak ada agenda keluar kota. “Oh, sudahlah sebaiknya aku pergi tidur saja.
Keesokan paginya Sean berada di depan cermin. Ia memakai kumis palsu juga kontak lens untuk menyamar agar identitasnya tak dikenali di sana.
“Terakhir wig ini.” ia mengambil item lainnya, sebuah rambut palsu dan segera memakainya. “Sempurna. Bahkan aku saja sampai tak mengenali diriku sendiri.” tersenyum melihat tampilan dirinya yang benar-benar berbeda dengan aslinya.
Sean kemudian kembali menuju ke jendela dan memantau keadaan dari sana.
“Broom.”
“Mungkin itu Alexa.” Sean yang bosan menunggu selama 1 jam lebih dan sudah berpindah tempat kembali ke jendela setelah mendengar suara deru mesin mobil.
“Mommy berangkat dulu.” Alexa menutup kembali jendela mobil menatap ke arah si kembar sambil melambaikan tangannya.
“Bye, mommy.” si kembar Melambaikan tangannya kemudian segera masuk ke rumah dan mengambil tasnya menunggu driver untuk mengantar mereka.
“Aku harus cepat sebelum kehilangan jejak.” Sean berlari keluar dari kamar dan masuk ke mobil yang sudah ia persiapkan terlebih dulu.
Ia pun masuk ke jalanan dan mengikuti mobil Alexa yang berada di jarak empat meter di depannya.
Sementara Alexa sama sekali tidak mengetahui jika ada sebuah mobil, tepatnya seseorang dalam mobil yang mengikutinya menuju ke kantor.